Berkantor di lantai paling tinggi tidak selalu menyenangkan. Memang asik melihat pemandangan dari lantai paling tinggi, tetapi bagaimana kalau anggung (lift) mati atau hujan turun sedemikian lebatnya? Jika anggung mati, kecapean, jika hujan, kebocoran. Jika anggung mati, maka butuh tenaga ekstra naik turun tangga ke lantai paling atas. Jika hujan sedemikian derasnya, apalagi di bandung sering turun hujan es, maka atap sering bocor sehingga lantai paling ataslah yang merasakan kebocoran.
Demikian “penderitaan” yang dialami “warga” lantai empat gedung Labtek V di kampus ITB. LabTek V merupakan gedung perkuliahan pertama yang memakai anggung. Di sinilah berada Program Studi Informatika yang terdiri dari ruang dosen, ruang kuliah, lab, dan ruang administrasi. Naik turun dari satu lantai ke lantai lain tanpa anggung terasa penatnya. Ada ratusan orang yang setiap hari menggunakan anggung di LabTek V, baik dosen, mahasiswa, karyawan, dan tamu. Saya yang berkantor di lantai 4 entah berapa kali setiap hari saya naik turun gedung LabTek V ini, baik untuk mengajar, ke ruang TU di lantai 2, atau mencari makan siang.
Masalahnya sejak Lebaran tahun yang lalu, anggung di LabTek V harus istirahat menjalankan tugasnya. Ada kerusakan sistem anggung yang sampai detik ini belum jua mengalami perbaikan. Bapak Dekan sudah mengirim surat ke rektorat agar masalah anggung yang mati ini ditangani, tapi belum ada tanda-tanda pihak rektorat memperbaiki atau menggantinya. Entah masalah biaya, atau masalah birokrasi, tak tahulah.
Anggung di LabTek V sebenarnya sering “sakit-sakitan”. Sudah tidak terhitung berapa kali anggung ini tiap sebentar diperbaiki. Biasanya jika anggung diperbaiki pagi, sorenya sudah baik kembali, atau paling lambat keesokan harinya. Biasalah kami naik turun tangga dulu sambil menghitung-hitung langkah. Tapi kali ini sudah empat bulan sejak November. Bayangkan betapa kencangnya jantung memompa darah setiap kali naik tangga. Dan itu dilakukan setiap hari, dan setiap hari entah berapa kali. Okelah bagi saya dan anak-anak muda yang masih sehat-sehat ini naik turun tangga setiap hari, hitung-hitung olahraga. Tetapi, bagaimana bagi rekan kami yang sudah muali uzur? Jelaslah mereka tidak kuat naik turun tangga ke lantai 4 setiap hari. Bisa-bisa drop mereka ini.
Rusaknya anggung di LabTek V selain karena faktor teknis, juga karena kebiasaan orang yang tidak menggunakannya secara tepat. Sering kali saya lihat mahasiswa yang tetap mengantri memakai anggung untuk naik ke lantai 2 dari lantai 1 atau sebaliknya. Padahal untuk menuju lantai 2 dari lantai 1 cukup melewati tangga saja, tetapi ada sebagian mahasiswa yang tidak mau tahu soal ini. Di Prodi Planologi ada seorang dosen yang menasehati mahasiswa yang naik anggung ke lantai 2 dari lantai 1 agar dia naik tangga saja, eh si mahasiswa langsung bersungut-sungut tanda tidak senang. Bahkan ada mahasiswa yang berani bilang begini ke dosennya (kejadiannya di Prodi lain, mungkin si mahasiswa tidak kenal dosen itu kali ya): “Suka-suka gue, emangnya lift ini punya elu?” Nah lho?
Sampai kapan nasib warga LabTek V khususnya yang berada di lantai 4 menghadapi situasi seperti ini ya? Mudah-mudahan pihak yang berwenang di Rektorat mendengar derita kami ini.
Kali ini giliran kampung halaman saya dihoyak oleh gempa dahsyat. Gempa berkekuatan 6,3 SR telah memporakporandakan negeri leluhur para perantau Minang pada Hari Selasa 6 Maet yang lalu. Saya yang tinggal di Bandung mengetahui berita ini justru dari portal berita di internet. Saya telepon ke Padang, syukur alhamdulillah ibu kami di rumah tidak apa-apa, sebab di kota Padang sendiri goyangan gempa tidak sedahsyat di Solok, Padangpanjang, dan Kab. Tanah Datar. Namun, dari tayangan televisi saya melihat betapa paniknya orang-orang di kota ini melarikan diri ke daerah yang posisinya lebih tinggi. Mereka panik bukan hanya takut ditimpa bangunan runtuh, tetapi takut dilanda tsunami. Ya, sejak gempa besar diikuti tsunami yang dahsyat di Aceh tiga tahun lalu, hampir setiap orang Indonesia yang berdiam di daerah pesisir pantai dilanda paranoid yang luar biasa. Gempa sedikit saja membuat mereka lari pontang-panting ke daerah yang lebih tinggi. Paranoid ini beralasan juga ketika terjadi gempa dan tsunami kedua kalinya di Pangandaran dan Ciamis 2 tahun lalu. Anehnya, warga di pesisir pantai selatan Jawa ini tidak lari ke perbukitan ketika gempa terjadi. Mereka tenang-tenang saja setelah gempa, dan 20 menit kemudian datanglah gelombang tsunami secara tiba-tiba.
Kembali ke gempa di ranah Minang ini. Korban jiwa memang tidak terlalu banyak, “hanya” 71 orang saja (dibanding dengan gempa Yogya yang korbannya mencapai 2500 orang). Tetapi bukan itu masalahnya. Semua sarana dan prasarana hancur. Rumah gadang warisan ninik mamak, mesjid kebanggaan orang nagari, sekolah, tempat usaha, dan sebagainya rusak parah. Bahkan, Ngarai Sianok yang indah di Bukittinggi pun runtuh karena gempa dahsyat ini. Abunya berterbangan ke kota Bukittinggi. Ini berarti sektor wisata yang menjadi andalan urang Minang setelah pertanian ikut terkena dampak besar.
Pikiran saya melayang ke kampung halaman ibu dan bapak di Koto Anau, Kabupaten Solok. Entahlah, apakah nagari ini juga luluh lantak oleh gempa tersebut mengingat Solok adalah daerah terparah dilanda gempa. dari ibu kami di Padang saya belum mendapat kabar bagaimana nasib saudara-saudara ibu di kampung, mudah-mudahan mereka dilindungi Allah SWT.
Sumatera Barat pernah dilanda beberapa gempa sangatbesar, antara lain pada tahun 1926 yang oleh orangtua zaman dahulu disebut gampo Padangpanjang, karena memang gempa tersebut menghancurkan kota Padangpanjang. Kini, 80 tahun kemudian, gempa besar tersebut terjadi lagi.
Tapi, bukan orang Minang namanya kalau tidak bangkit kembali. Tidak ada waktu untuk berkeluh kesah atau duduk-duduk bermenung memikirkan nasib. Pengalaman gempa berkali-kali membuktikan kehidupan di sana cepat bangkit kembali. Rupanya perantau yang jumlahnya lebih banyak dari penduduk Sumbar sendiri mempunyai peran sangat besar untuk kembali membangun nagari. Mereka mengirimkan uang untuk membangun kembali rumah famili, masjid nagari, dan sebagainya. Kalau tidak ditopang oleh perantau, entahlah sampai kapan nagari kami bangkit kembali.
Di bawah ini beberapa foto yang memperlihatkan kedahsyatan gempa di Sumbar (dikutip dari suratkabar lokal):
Mengerikan dan mencekam, demikian perasaan saya ketika membaca dan melihat di televisi tragedi terbakar dan meledaknya pesawat Garuda Indonesia dengan kode penerbangan GA200 di bandara Adisucipto, Yogyakarta, 7 Maret 2007 pukul 7.00 pagi kemaren. Gimana nggak menggetarkan dada, pesawat itulah yang saya naiki minggu lalu ke Yogyakarta guna memberikan kuliah umum di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sengaja saya memilih naik pesawat Garuda jam 6.00 pagi dari Cengkareng karena saya pikir naik Garuda lebih aman ketimbang naik pesawat yang lain. Memang mahal naik Garuda ini (tiket promo saja Rp 354.000), padahal untuk penerbangan pagi ke Yogya ada alternatif pesawat lain yaitu Adam Air (jam 6.30) dengan harga tiket hanya Rp 150.000. Tetapi karena saya masih trauma dengan Adam Air, maka saya pilih Garuda saja. Tidak apa-apa lebih mahal yang penting aman, begitu pikiran saya. Alhamdulilah memang tidak terjadi apa-apa. Tetapi, ketika pulang kembali ke Bandung via Jakarta saya diberi tiket pesawat Adam Air (memang hanya pesawat itu yang terbang sore sesuai permintaan saya) yang membuat saya deg-degan dan berpasrah diri kepada Allah SWT saja. Alhamdulillah juga tidak terjadi apa-apa. Baik pesawat Garuda pagi maupun Adam Air sore keduanya terisi penuh, pertanda bahwa rute Jakarta - Yogyakarta pp tergolong jalur gemuk.
Sebagian kita orang Indonesia yang sering menggunakan jasa penerbangan memang menjadi parno (paranoid) sejak tragedi kecelakaapesawat yang bertubi-tubi sejak awal tahun 2007 ini. Dimulai dengan jatuhnya pesawat Adam Air di selat Makassar tanggal 1 Januari 2007 yang lalu (yang hingga kini lokasi jatuhnya masih misteri dan belum ditemukan korbannya satu orangpun), lalu patahnya bodi Adam Air (lagi) ketika mendarat di Bandara Juanda Surabaya bulan Februari yang lalu. Jika dirunut ke belakang masih masih banyak peristiwa crash yang menimpa pesawat bertarif murah, seperti jatuh saat take off (Mandala di Medan), tergelincir (Batavia Air), salah mendarat di kota yang salah (lagi-lagi Adam Air), ban pesawat yang tidak membuka (Lion Air), dan lain-lain.
Semua ini makin menguatkan kesan bahwa manajemen transportasi di negara kita masih buruk. Tidak hanya pesawat, bahkan kapal lautpun berturut-tutur tenggelam dan terbakar dalam dua bulan terakhir (KM Senopati Nusantara yang tenggelam di laut Jawa, KM Levina I yang terbakar dan tenggelam di Teluk Jakarta). Belum lagi tak terhitung kecelakaan kereta api yang beruntun sepanjang tahun 2006 dan awal 2007. Semua tragedi kecelakaan transportasi ini, khususnya pesawat, membuat banyak orang terhenyak. Mau naik apa lagi kalau bepergian? Hampir semua pesawat boleh dikatakan tidak aman lagi dinaki. Garuda yang diidentikkan dengan pesawat nyaman dan aman ternyata sama saja dengan pesawat swasta lain yang bertarif lebih murah. Tetapi kalau bepergian jarak jauh dan membutuhkan kehadiran yang cepat, kita tidak punya pilihan selain pesawat.
Namun, sebagai orang beragama, akhirnya kita hanya bisa berpasrah saja kepada Allah semata. Dia lah yang memegang nyawa kita. Maut dapat datang di mana saja, naik pesawat apa saja, naik kendaraan apapun. Bahkan tidak kemana-manapun, di dalam rumah saja, mati bisa datang dengan tiba-tiba. Semua ini mengingatkan kita bahwa hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Betapa tipis batas antara hidup dan mati. Hanya kepada Allah lah kita kembali. Karena itu, setiap naik kendaraan apa pun, janganlah lupa untuk selalu berdoa: bismillahi tawakkaltu ’alallaahi la hawla wa laa quwwata illa billah. Dengan nama Allah aku berserah diri, tiada daya dan upaya melainkan semua kekuatan adalah dari Allah.
Di perempatan Jalan Jakarta dan Kiaracondong Bandung setiap pengendara pasti selalu melihat pemandangan yang mengenaskan. Sebuah keluarga besar yang terdiri dari ibu, anak, dan cucu berpanas-panasan atau berhujan-hujanan mencari uang dengan mengamen, mengemis, atau melap mobil yang berhenti dengan kemoceng (di Padang kami menamainya bulu ayam). Si ibu menggendong cucunya kesana kemari sambil mengemis uang dari pengendara yang berhenti ketika lampu merah, sementara anak gadisnya yang berjumlah tiga orang mengamen dengan alat musik seadanya: gitar butut, kincring-kincring, dan botol aqua. Diperempatan itu tidak hanya mereka yang mengamen, tetapi juga beberapa lelaki remaja khas anak jalanan. Mereka berbaur dalam kehidupan jalanan yang bebas dan keras.
Oh ya, setahu saya cucu yang digendong ibu itu adalah anak dari anak gadisnya yang paling besar. Dua tahun yang lalu saya melihat anak gadis ini terlihat hamil, tidak jelas siapa ayah si jabang bayi. Kehidupan para orang jalanan ini memang terlihat bebas. Mereka tidur di emper-emper toko beralaskan koran dan berselimutkan kain lusuh. Karena banyak pengamen jalanan hidup seperti ini, maka tidak heran jika seks bebas pun bukan barang yang aneh di kalangan mereka. Mungkin saja si anak gadis ibu tadi hamil karena pergaulan bebas tersebut.
Anak-anak perempuan yang mengamen di jalan cenderung mengalami pelecehan seksual dari remaja lelaki sesama pengamen. Hidup mereka yang bebas memungkinkan mereka tidak terikat norma dan mau melakukan apa saja. Sejak kecil anak-anak perempuan dan anak laki-laki sudah dididik orangtuanya mengamen dan mengemis di jalan. Tanpa malu-malu keluarga pengamen ini berbaring dan duduk-duduk di pinggir jalan seakan tidak peduli dengan lalu lalang orang yang melihat kehidupan mereka. Anak-anak mereka yang masih bocah berlari-lari ke sana kemari tanpa takut ditabrak mobil, sebagian yang lain asik memakan remah-remah nasi bungkus. Tampang mereka dekil, kulit hitam terbakar matahari, rambut menjadi gimbal. Di perempatan Jalan Dago dan jalan Riau kita akan menemukan pemandangan keluarga pengamen dan pengemis semacam ini.
Tidak ada solusi yang ampuh untuk mengatasi masalah sosial ini. Mereka hadir di jalanan karena kita memberi peluang kepada mereka untuk meneruskan “profesinya”. Dengan tetap memberi mereka recehan uang, mereka akan terus bergerilya di jalanan karena merasa sangat mudah mencari uang tanpa perlu kerja keras. Seharusnya tugas negaralah untuk mengentaskan mereka dari kepapaan hidup, karena di dalam UUD 1945 disebutkan bahwa “anak yatim dan orang-orang terlantar dipelihara oleh negara”. Tetapi tampaknya Pemerintah Kota (wakil negara) membiarkan kaum jalanan ini tetap beraksi. Razia yang dilakukan terhadap mereka tidak efektif sebab setelah dilepaskan mereka akan kembali lagi ke jalan.
Kita yang sering terenyuh dengan pengemis dan pengamen jalanan sering dibuat serba salah. Jika tidak diberi uang, ada perasaan seakan diri kita kikir, tetapi jika diberi uang mereka semakin ketagihan dan akan terus berada di jalanan. Seorang pembaca di koran pernah mengusulkan bahwa kepada anak-anak yang mengamen kita jangan memberi mereka uang, tetapi berilah biskuit atau penganan agar mereka tidak kekurangan gizi. Alasannya adalah pengamen anak-anak ini kemungkinan besar menggunakan uang hasil mengamen untuk membeli kebutuhan yang bersifat merusak tubuh mereka seperti rokok, minuman atau makanan berwarna, bahkan mungkin saja untuk ngelem atau untuk narkoba. Jadi, siapkan di mobil anda permen, biskuit, atau roti ketimbang uang receh. Itu jika anda tetap berniat memberi.
Tanggal 30 Januari 2007 yang lalu saya ke kampus Universiats Indonesia (UI) di Depok untuk mempresentasikan makalah di konferensi tahunan SNIKTI 2007 yang diadakan oleh Fakutas Ilmu Komputer UI. Saya sudah lama tidak ke kampus UI ini, terakhir ke sana ketika saya masih mahasiswa tingkat akhir (udah lama sekali, tahun 1990 kalau tidak salah). Karena lupa jalan ke sana, maka saya naik mobil travel Cipaganti saja dari Bandung. Mobil travel berhenti di Lenteng Agung dekat Universitas Pancasila. Setelah tanya sana sini bagaimana cara mencapai kampus UI dari Lenteng Agung, akhirnya setelah naik sebuah angkot nomor 14 sampai juga saya ke depan kampus ini. Dari sisi jalan raya kita harus menyeberang sebuah jembatan penyeberangan yang cukup tinggi dan panjang untuk emncapai pintu gerbang kampus UI (saya ini orang yang takut pada ketinggian sehingga gamang juga naik jembatan penyeberangan dan melihat ke bawah).
Dari gerbang kampus tersedia ojek yang siap mengantarkan kita ke gedung manapun di dalam kampus. Kampus UI di Depok sangat luas, malah di tengah kampus masih terdapat hutan kecil yang dipelihara dengan baik sebagai daerah resapan air. Taman-taman di setiap gedung fakultas terlihat asri dan tampak terawat. Terdapat juga beberapa danau buatan. Dengan lahan yang sangat luas tentu UI dapat membuat apa saja suasana kuliah terasa nyaman, segar, dan tidak sumpek seperti di gedung UI kamus Salemba Jakarta.
Karena kampus yang begitu luas, maka praktis gedung-gedungnya bertebaran dalam jarak yang relatif berjauhan. Terbayang capai kalau kita berjalan kaki dari satu gedung fakultas ke gedung fakultas lainnya. Oleh karena itu, tampaknya sepeda motor dan mobil “wajib” dimiliki mahasiswa jika kuliah di kampus ini kalau tidak mau berjalan kaki. Peluang ini dimanfaatkan oleh kehadiran ojek yang mangkal di berbagai lokasi di dalam kampus. Tukang ojek di sini hadir dengan izin pihak kampus tentunya sehingga tidak terkesan liar. Pihak kampus sebenarnya masih mengoperasikan bis kampus yang berwarna kuning yang selalu berkeliling kampus secara periodik. Mahasiswa yang tidak punya kendaraan dapat menaiki bis ini secara gratis. Saya salut juga kepada UI ini yang masih mempertahankan bis kampus. Setahu saya bis ini sudah ada sejak kampus UI berdiri di Depok.
Saya terbayang kampus saya di ITB di Jalan Ganesha. Kampus ITB sangat kecil, luasnya hanya sekitar 5 Ha. Dengan lahan yang terbatas maka bangunan yang ada di ITB jaraknya sangat dekat satu sama lain. Jarak antara satu gedung dengan gedung lain dapat ditempuh berjalan kaki saja, tidak perlu memakai kendaraan. Berjalan kaki keliling kampus saja tidak sampai 15 menit.
Karena lahan yang terbatas sementara program studi baru terus tumbuh atau program studi lama bertambah besar, maka tidak ada jalan lain ITB memanfaatkan tanah-tanah yang kosong di dalam kampus untuk mendirikan gedung kuliah atau lab. Dulu semasa saya kuliah di tengah kampus masih ada lapangan bola, sekarang sudah digantikan dengan empat gedung kembar LabTek, sementara lapangan bola mendapat tempat baru di Sasana Buadaya Ganesha (Sabuga).
Dengan kampus yang relatif sempit sementata jumlah mahasiswa terus bertambah memang memebriakn kesan kurang nyaman untuk belajar. Jika di UI atau di kampus-kampus besar di luar negeri mahasiswa bisa tidur-tiduran di taman-taman rumput untuk membaca buku, maka di ITB pemandangan itu tidak ada. Mahasiswa lebih banyak belajar di dalam gedung karena taman-taman terbuka memang tidak ada.
Meskipun kampus ITB sempit dan tidak seluas kampus UI, justru inilah salah satu kekuatan ITB. Dengan jarak setiap gedung program studi yang berdekatan, maka mahasiswa dari berbagai program studi menjadi lebih berbaur dan saling berinterakasi satu sama lain. Apalagi perkuliahan di ITB lebih banyak dilaksanakan di gedung perkuliahan umum yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai program studi sering bertemu. Sangat mudah untuk mengumpulkan mahasiswa di satu titik (biasanya di lapangan basket) karena informasi dapat sampai dengan cepat. Karena kampus yang kecil juga maka dosen-dosen ITB sering kenal satu sama lain akibat sering berpapasan.
Hal ini berbeda dengan di UI dimana mahasiswa mengelompok di gedung fakultas masing-masing. Kuliah diadakan sendiri- sendiri di gedung fakultasnya. Interaksi dosen dan mahasiswa yang berbeda fakultas relatif jarang karena gedung-gedung fakultas yang saling berjauhan itu.
Ya, kampus kecil dan kampus luas memang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Yang paling penting adalah proses belajar-mengajar tetap berlangsung dengan baik. Baik ITB maupun UI keduanya adalah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. Kedua perguruan tinggi ini telah melahirkan banyak orang besar di negeri ini, baik presiden, menteri, pengusaha, ilmuwan, dan enterpreneur. UI dan ITB adalah aset bangsa yang harus dijaga dengan baik.
Tulis “Program Studi Informatika” saja, tidak perlu memakai kata “Teknik” lagi di depan “Informatika”. Demikian menurut saya nama yang tepat untuk jurusan atau program studi yang selama ini sering ditulis sebagai “Teknik Informatika” di berbagai perguruan tinggi termasuk di ITB. Kalau Elektro wajarlah menambahkan kata “Teknik” di depannya karena prodi ini seratus persen rekayasa (engineering) di bidang elektrik. Tetapi untuk informatika, tunggu dulu.
Kata “Teknik” dihilangkan dari nama Informatika karena Informatika sendiri tidak seratus persen bidang rekayasa. Menurut definisi yang dipakai oleh pendiri jurusan Informatika, Informatika adalah kumpulan disiplin sains dan rekayasa yang mempelajari pengolahan fakta berlambang (data) menjadi informasi dengan menggunakan alat-alat otomatika (komputer). Dari dulu sebenarnya sudah jelas bahwa Informatika tidak murni teknik tetapi ada kontribusi sains di dalamnya (terutama sekali matematika). Jadi, nama yang tepat ya Informatika saja. Kasus ini mirip dengan penamaan jurusan Arsitektur, bukan Teknik Arsitektur, karena bidang arsitektur juga memasukkan aspek seni. Tidak heran kalau program TPB (Tingkat Pertama Bersama) di Arsitektur ITB tidak mengacu pada TPB prodi eksakta pada umumnya, mereka mengikuti TPB prodi Senirupa.
Karena ITB menjadi trendsetter perguraun tinggi di Indonesia, maka nama Teknik Informatika yang diawal dipakai di ITB juga diikuti PTN dan PTS lain dengan membuka jurusan yang diberi nama Teknik Informatika. Dengan adanya informasi ini, maka sebaiknya PT-PT tersebut menghilangkan penggunaan kata “Teknik” di depan nama “Informatika” supaya tidak salah kaprah.
Sering kali orang bertanya apa perbedaan antara Informatika dan Ilmu Komputer. Saya sering menjawab begini: saat ini kedua prodi tersebut kurang lebih sama saja isinya, hanya beda referensi. Di Amerika tidak dikenal nama Informatika, tetapi computer science. Sedangkan di Eropa, khususnya Jerman dan Perancis nama informatika yang dipakai (La Informatique). Pendiri Informatika dan generasi awal dosen-dosen Informatika ITB mengenyam pendikan pasca sarjana di Perancis (karena ada kerjasama dengan Universitas di Perancis), sehingga wajar nama jurusan baru waktu itu adalah Informatika. Sedangkan di Universitas Indonesia, generasi awal dosen-dosennya disekolahkan ke Amrik sana, pulang-pulang ke Indonesia mereka memberi nama jurusan baru di UI dengan nama Ilmu Komputer sesuai dengan istilah computer science di sana. Kurikulum kedua jurusan yang berbeda nama tetapi kalau dilihat isinya nyaris sama. Tidak ada perbedaan signifikan antara Ilmu Komputer di UI dengan Informatika di ITB.
Menarik melihat kurikulum Ilmu Komputer UI. Pada tahun-tahun awal berdirinya, kurikulum Ilmu Komputer UI banyak sekali buatan matematikanya. Kuliah yang khas matematiknya sangat banyak. Ini wajar karena jurusan ini dulu berada di FMIPA, selain itu pendekatan computer science di Amrik kental dengan matematika. Tetapi, makin lama kurikulum Ilmu Komputer di UI sudah banyak pula memasukkan aspek rekayasa seperti software engineering, akhirnya nyaris tidak ada bedanya lagi dengan Informatika di ITB.
Meskipun Eropa kiblat pendidikan Informatika ITB dahulu, tetapi saat ini sulit dibantah jika bidang ilmu ini lebih banyak mengacu pada perkembangan computer science di Amerika. ACM (Association of Computing Machinary), sebuah komunitas ilmu komputer di Amerika (www.acm.org) mengeluarkan panduan penyusunan kurikulum di bidang computing. Bidang computing meliputi Computer Science, Software Engineering, Information System, dan Information Technology. Computer Scince di Amerika bukan seperti Ilmu Komputer di Indonesia; di Amerika bidang computer scince masih murni (memandang komputer sebagai sains) dan belum tersentuh aspek rekayasa. Lalu dimana kedudukan Informatika? Dengan kata lain, Informatika dimasukkan ke kelompok mana dari keempat bidang computing tadi? Ternyata Informatika tidak berada di salah satu kelompok itu, tetapi Informatika merupakan gabungan antara Computer Scince dan Software Engineering dengan tidak meninggalkan muatan Information System dan Information Technology (tapi dalam porsi yang sedikit). Maka tidak heran kurikulum di Informatika ITB banyak memasukkan mata kuliah yang berkaitan dengan rekayasa perangkat lunak (RPL, PPL, MPPL, APBO) selain core ilmu komputer (algoritma, struktur data, otomata dan teori bahasa, sistem operasi, intelijensia buatan, dsb).
Saya mendengar kabar kalau FMIPA ITB akan membentuk prodi baru bernama Ilmu Komputer. Jika prodi ini terwujud, maka yang terjadi nantinya adalah tumpang tindih dengan Informatika. Di tahun-tahun awal mungkin saja Ilmu Komputer yang akan mereka dirikan murni computer science seperti Amerika sana, tetapi siapa yang menjamin setelah waktu berjalan dan melihat kebutuhan pasar yang ada saat itu, maka kurikulum Ilmu Komputer yang tadinya murni akhirnya lambat laun sama saja dengan Informatika (seperti kisah kurikulum Ilmu Komputer UI yang saya ceritakan di atas). Jika ini terjadi, maka kembali terulang tumpang tindih prodi seperti yang ada Di FIKTM (Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral), dimana ada prodi Geofisika dan ada pula prodi Teknik Geofisika.
Mungkin prodi yang mendesak didirikan di ITB adalah Sistem Informasi, karena prospeknya bagus dan pasarnya ada. Aneh juga, sebab di PTS dan PTN sudah sudah lama berdiri jurusan Sistem Informasi, tetapi di ITB tidak ada. Jika usulan prodi baru dari STEI disetujui, maka di STEI ITB akan ada enam prodi baru selain dua yang telah ada (Informatika dan Teknik Elektro), yaitu Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Teknik Komputer, Telekomunikasi, Elektronika, dan Biomedika. Jika enam prodi baru ini terwujud, maka STEI ITB akan berada di baris terdepan pendidikan teknologi komunikasi dan informasi (atau ICT = Information and Communication Technology).
Kapan waktu yang tepat melihat kenyamanan Bandung yang adem dan menawan mata? Jawabannya adalah kala Minggu sore. Coba sekali-sekali jjs (jalan-jalan sore) pada Minggu sore antara pukul 16 dan 18, mengitari kota dengan kendaraan motor atau mobil, pelan-pelan saja tidak perlu buru-buru. Lewati jalan-jalan seperti Jalan Citarum, Jalan Riau, jalan Cipaganti, Jalan Cikapayang, Jalan Ambon, dan lain-lain, maka kita akan merasakan suasana Bandung yang beda. Di mana letak bedanya?
Akhir pekan (Jumat malam hingga Minggu siang) bukanlah waktu yang tepat buat jjs di Bandung. Macet di mana-mana. Maklum puluhan ribu penduduk Jakarta membanjiri kota ini sejak mudahnya akses jalan tol Cipularang. Mereka datang tidak dengan kereta api, tetapi dengan mobil pribadi dan bis-bis pariwisata. Cukup dua jam lebih dari Jakarta sampailah mereka di Bandung. Mereka menyesaki factory outlet (FO) dan gerai-gerai makanan yang bertebaran di sana-sana. Maklum, Bandung dikenal sebagai surga belanja bagi pendatang, utamanya fashion dan makanan. FO tumbuh bak jamur di jalan Dago, Riau, Setiabudhi dan lain-lain. Jalan-jalan di Bandung yang lebarnya sempit semakin sempit lagi oleh parkir mobil mereka. Lalu lalang mobil-mobil berplat B memacetkan kota, belum lagi lalu lalang orang-orang yang bergerombol menenteng barang belanjaan dan menyesaki tempat-tempat keramaian. Benar-benar tidak nyaman berjalan-jalan di Hari sabtu dan Minggu. Sumpek. Kalau sudah tiba Sabtu dan Minggu, saya lebih memilih ngendon di kantor nge-net saja atau di rumah, malas ke mana-mana.
Nah, bagai dikomando, ribuan mobil-mobil berplat B ini ramai-ramai meninggalkan kota setelah waktu Dhuhur pada Hari Minggu, kembali lagi ke Jakarta (ingat lagu Koes Plus, Ke Jakarta aku kan kembaliiii…). Setelah warga Jakarta itu pergi barulah Bandung terasa nyaman lagi. Tempat-tempat yang tadinya ramai sudah mulai sepi. Inilah kesempatan untuk jalan-jalan sore menyusuri lorong-lorong kota, menikmati angin sore bertiup semilir dan meniup daun-daun pohon yang rindang di pinggir jalan, dan yang pasti jalanan relatif sepi. Enak benar menikmati rumah-rumah tua peninggalan Belanda di sepanajng Jalan Supratman, Citarum, dan jalan-jalan yang bernama sungai. Lalu cobalah menyusuri ke tengah kota melihat gedung-gedung art deco di sepanjang jalan Braga, jalan Asia Afrika, dan jalan Sunda.
Anda akan merasakan suasana Bandung tempo doeloe jika sempat jjs pada Minggu sore. Paling bagus menikmati suasana sore pada musim kemarau dimana bunga-bunga Bougenvile bermekaran. Tidak percaya? Coba sendiri….
Semua warga ITB pasti tahu ‘kenakalan’ burung koak yang bersarang di atas pohon-pohon di jalan Ganesha dan sekitarnya. Sudah hampir 2 tahun burung yang entah darimana datangnya (burung migran?) membuat ‘perkampungan’ di sepanjang jalan Ganesha. Mula-mula keberadaan burung ini ini tidak mengganggu karena jumlahnya sedikit. Tetapi makin lama jumlahnya makin banyak dan berkembang biak. Mereka membuat sarang di dahan-dahan yang tinggi. Nah, di sini masalahnya, burung-burun ini sering menjatuhkan ‘bom’ dari atas pohon. Orang-orang dan kendaraan yang lewat di bawahnya terkena ‘bom’ yang berwarna putih ini. Sedang asik jalan dengan santai di jalan Ganesha, tiba-tiba dari atas kejatuhan kotoran burung koak. Sudah banyak terdengar omelan orang-orang yang bajunya atau kendaraannya kena kotoran burung.
Saya sendiri beberapa kali kejatuhan ‘bom’ burung koak. Sepatu kena, celana kena, motor pun kena. Anehnya, kotoran burung koak ini begitu lengketnya sehingga jika sudah kering susah dibersihkan meskipun beberapa kali dicuci. Seorang teman memberi tips jika mengendrai motor di jalan Ganesha jangan pelan-pelan, tapi tarik gas cukup besar supaya cepat terhindar dari kejatuhan ‘bom’ burung koak.
Kotoran burung koak juga membuat dahan-dahan pohon tua di jalan Ganesha menjadi lapuk dan meranggas. Kotoran burung ini tampaknya menjadi racun bagi pohon-pohon itu. Selain itu, dahan-dahan pohon yang masih muda rusak diinjak burung koak yang badannya relatif besar (sebesar bebek muda). Tidak itu saja, sebagian jalan Ganesha pun menjadi putih seperti dicat karena seringnya kejatuhan kotoran putih ini.
Gawatnya, sekarang ini lagi musim flu burung. Beberapa orang dosen melaporkan melihat beberapa ekor burung koak yang mati di tengah jalan atau tersangkut di dahan. Matinya karena apa? Karena virus avian kah? Atau karena sakit yang lain? Tidak seorangpun yang tahu. Kita sekarang ini dibuat parno (baca: paranoid) setiap kali melihat ada unggas mati.
Sudah banyak cara yang diusulkan orang untuk mengusir burung ini dari kawasan Ganesha. Ada yang mencoba menembaknya, tetapi cara ini dianggap sadis dan menuai protes. Ada yang mengusulkan pakai bunyi-bunyian supaya burung ini lari (apa mempan tuh?), pakai predator alami seperti ular (nah, cara yang satu ini bisa bikin masalah baru, iya kalau ularnya makan burung koak, kalau yang digigit anak kecil yang lagi jalan di bawah gimana?), bahkan pakai gelombang ultrasonik (wah, ITB bangetya?).
Tampaknya, belum ada cara apapun yang pernah dicoba untuk mengusir burung-burung ini. Tidak ada yang sanggup, karena burung-burung ini rumahnya sangat tinggi. Mungkin kita perlu sabar menunggu sampai burung-burung itu bosan bersarang di jalan Ganesha lalu pergi beramai-ramai mencari sarang baru di tempat lain.
Ada pemandangan menyolok mata di perempatan lampu merah Jl. Diponegoro-Dago-Sulanjana (dekat Apotok Kimia Farma) Bandung. Jika anda datang dari arah Jl. Diponegoro dan berhenti di perempatan itu, mata anda akan melihat billboard yang berisi gambar dua botol besar sebuah produk minuman bir. Iklan minuman keras ini terlihat seakan menantang orang-orang yang melihatnya. Hati ini miris melihatnya, dan beberapa kali saya mengucapkan istighfar.
Sungguh tidak saya sangka Pemkot Bandung berani mengizinkan billboard iklan minuman bir itu dipasang di tempat strategis lagi. Uang tampaknya lebih berkuasa daripada hati nurani. Tentu pemasangan billboard ini menyumbangkan pajak yang besar bagi pemkot. Tetapi, tidak dipikirkan dampak negatif iklan minuman keras ini bagi masyarakat? Tidakkah hal ini menjustifikasi keberadaan minuman keras di tengah masyarakat? Dalam Islam sendiri jelas minuman keras haram hukumnya, dan karena mayoritas penduduk Bandung adalah muslim, maka Pemkot seharusnya menolak pemasangan iklan minuman keras di tempat-tempat umum.
Setahu saya, media - termasuk media luar ruang seperti billboard - dilarang mengiklankan produk-produk seperti rokok dan minuman keras. Beberapa produsen rokok mengakali larangan ini dengan membuat iklan yang tidak menampilkan gambar produknya secara langsung, tetapi hanya menampilkan kesan atau image mengenai rokok tersebut melalui gambar petualangan kaum pria di alam bebas, atau anekdot-anekdot lucu seperti “tanya kenapa”. Nama rokok memang ditampilkan tetapi gambar rokoknya sendiri tidak diperlihatkan. Nah, iklan bir di perempatan jalan tadi melawan larangan ini, pengiklannya nyata-nyata memperlihatkan gambar botol bir besar-besar tanpa mengindahkan perasaaan orang yang melihatnya. Naudzubillah min dzalik.
Tanggal 4 Februari 2007 yang lalu saya mendapat tugas ke Bontang, sebuah kota kecil di Kalimantan Timur. Saya senang, karena ini pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Di kota Bontang baru didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Bontang, kerjasama antara LAPI ITB dengan Pemkot Kota Bontang. Ada dua program studi sana, yaitu Teknik Informatika dan Teknik Elektronika. Saya ke sana memantau dan mengevaluasi pelaksanaan silabus kuliah yang saya susun, apakah sudah berjalan dengan baik.
Ya, Bontang yang kaya dengan sumber kekayaan alamnya (minyak dan gas) tidak mau kalah dengan kota-kota di Daerah Tingkat II lain yang berlomba-lomba membuat Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi di Indonesia tidak hanya ada di ibukota provinsi atau kota besar, tetapi sudah menjangkau ke kota kecil dan kota kabupaten. Pangsa pasarnya ada, kebanyakan karyawan yang bekerja di kota tersebut. Lulusan SMA yang masih baru sangat sedikit berminat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi daerah, mereka lebih memilih perguruan tinggi di kota-kota besar. Motivasi karyawan mengambil kuliah lagi di perguruan tinggi daerah (umumnya kuliah sore sampai malam hari) beragam, tetapi siapapun maklum kalau kebanyakan motivasinya adalah demi selembar ijazah untuk meningkatkan karir di tempat kerjanya. Tapi sudahlah, itu hak azasi orang kan…?
Kembali cerita soal Bontang tadi. Bontang, meskipun kota kecil, memiliki bandara kecil yang cukup bagus. Bandara yang berada di dalam kompleks PT LNG Badak ini memang bandara internal perusahaan. Pesawat yang bisa mendarat di sana hanyalah pesawat Pelita Air yang bertipe baling-baling dan berkapasitas 24 orang penumpang. Dari Balikpapan ke Bontang ada penerbangan 2 kali sehari ke Bontang, begitu sebaliknya. Prioritas penumpang pesawat adalah karyawan PL LNG Badak dan PT Pupuk Kaltim, meskipun masyarakat umum juga diperbolehkan tetapi prioritas terakhir.
Bontang kota yang panas karena terletak di pinggir pantai. Kotanya sepi karena penduduknya tidak banyak. Bayangan kita kalau pergi ke Kalimantan adalah bertemu dengan orang Dayak, ternyata di Bontang tidak. Mayoritas penduduk kota ini adalah orang Jawa, baru kemudian pendatang dari Bugis dan Makassar. Orang Dayak kebanyakan berdiam di pedalaman.
Tidak ada mal, plaza, atau hotel berbintang di sini. Tetapi mungkin beberapa tahun lagi kota ini tidak bedanya dengan kota-kota di Jawa yang ditumbuhi ruko dan pusat perbelanjaan. Maklum, Bontang adalah kota industri, dan kota industri di manapun bagaikan gula yang dikerubungi semut, berarti akan banyak lagi pendatang mengadu nasib di kota ini.
Kebiasaan saya kalau berkunjung ke tempat baru adalah mencicipi masakan atau makanan khas di sana. Di Bontang banyak bermunculan kedai ikan laut bakar. Pelayan dan pemiliknya kebanyakan orang Jawa Timur. Lumayan enak, meskipun masih kalah enaknya dengan ikan bakar waktu saya berkunjung ke Manado. Rumah makan Padang juga banyak di sini (ho..ho..ho, di tempat mana yang tidak ada rumah makan Padang ya? Tapi tunggu dulu, belum tentu rumah makan Padang itu dikelola oleh perantau Minang, jangan-jangan orang Jawa juga )
Saya berkunjung ketika Bontang lagi musim durian. Tetapi durian di sini rasanya kurang manis dan daging buahnya tipis. Kata orang di sana, durian tersebut didatangkan dari daerah Mamuju, Sulawesi Barat. Pantesan, bukan buah lokal sih. Tetapi, di sini saya temukan durian ’aneh’ yang penduduk sana menamakannya ‘lai’. Lai adalah sejenis durian tetapi durinya lebih lunak, tidak setajam kulit durian biasa. Buahnya persis sama seperti durian biasa, tetapi warnanya oranye. Baunya juga tidak menyengat. Rasanya? Oh, terasa aneh di lidah saya. Hambar saja dan kurang manis. Saya tidak berminat memakannya lagi. Oh ya, ada satu lagi buah yang agak aneh menurut saya (karena belum pernah lihat), yaitu buah rambutan tetapi warna kulitnya kuning, bukan merah seperti rambutan biasa. Sayang saya tidak sempat mencobanya karena besok pagi-pagi saya harus siap kembali ke Balikpapan untuk seterusnya ke Jakarta.
Demikianlah cerita perjalanan saya bersama beberapa orang dosen ITB ke Bontang. Mungkin lain waktu saya ditugaskan ke sana lagi.
Masih ingat dengan tulisan saya tentang kisah Asep kecil penjual batu ulekan (cobek)? Kalau lupa atau belum baca, silakan baca kembali ini. Makin lama makin sering saya temukan anak-anak ini berlalu lalang di pusat-pusat kota Bandung menyandang pikulan berkilo-kilogram batu cobek. Saya mencium ada yang tidak beres dengan pemandangan ini. Kenapa anak-anak? Kenapa bukan orang dewasa yang menjajakannya?
Akhirnya saya menemukan jawabannya. Melalui diskusi dengan seorang teman di dalam perjalanan, saya berkesimpulan anak-anak itu dieksploitasi oleh perajin batu cobek untuk menimbulkan rasa kasihan bagi orang-orang yang melihatnya. Ternyata ini taktik dagang. Bayangkan, seorang bocah berusia antara 6 sampai 10 tahun menyandang pikulan yang sangat berat, berjalan tertatih-tatih menawarkan batu cobek kepada setiap orang yang lewat. Hati siapa yang tidak akan tersentuh dan iba melihat anak-anak ini. Rasa kasihan dapat membuat orang merogoh kantong untuk membeli batu cobek yang di rumah tentu sudah ada. Sebagaimana halnya rasa iba kepada pengemis atau orang-orang dhuafa menyentuh orang untuk bersedekah.
Bagaimana mengatasi kasus eksploitasi semacam ini? Sangat sulit. Hukum tidak bisa menjangkaunya karena apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan anak-anak itu tidak melanggar hukum (Saya tidak tahu apakah Undang-undang Perlindungan Anak mencakup kasus semacam ini atau bukan.) Siapapun, termasuk anak-anak, boleh berdagang, bukan? Lagipula, ini bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung. Orang dewasa pembuat batu cobek membutuhkan tenaga kerja untuk pemasaran, sedangkan anak-anak yang menjadi tenaga kerja butuh uang untuk membantu orangtuanya.
Bagaimana solusinya ya? Ada yang tahu?
Lama tidak menulis catatan, hari ini saya mulai lagi menarikan jari-jari di atas papan-ketik komputer. Biasalah, hari-hari kemaren cukup banyak masalah yang menyita waktu dan pikiran. Mulai masalah anak, masalah pekerjaan, sampai masalah studi S3 yang saya jalani. Masalah datang silih berganti. Selesai satu masalah, muncul lagi masalah baru. Hidup itu merupakan seni menyeleaikan masalah.
Yah, orang hidup pasti ada masalah. Kalau tidak ada masalah, bukan hidup namanya, tetapi mati. Dulu saya pernah membayangkan alangkah bahagianya rekan senior saya sesama dosen di sini. Dia sudah menyelesaikan S3 dan anak-anaknya sudah besar. Tentu sekarang dia bahagia dan bisa jalan-jalan kemanapun dia suka. Eh, ternyata dia bilang bahwa semakin besar anak maka ada saja masalah baru yang muncul. Oh... ternyata saya salah sangka.
Ya, memang kebahagiaan itu tidak diukur dari ada atau tidak masalah dalam hidup kita, tetapi seberapa mampu kita bisa tetap tenang dalam menyelesaikannya. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Tidak usah khawatir, bukankah Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah mengatakan bahwa "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan".
Begitulah, kita tidak perlu khawatir dalam hidup ini, karena Allah akan menolong hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. Yang penting tetap berusaha dan berdoa agar setiap masalah yang kita hadapi dapat kita selesaikan dengan baik.
Setelah punya anak, barulah kalian tahu bagaimana besar pengaruh pendidikan orangtua terhadap perilaku anak-anaknya. Saya punya anak yang sudah sekolah dan pra sekolah (serta satu lagi masih bayi). Alhamdulllah, karena selalu dididik dengan baik, mulai dari ibadah agama, kejujuran, kesantunan, menghormati orang lain, sampai kebiasaan sehari-hari, maka anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang baik, meski kenakalannya sebagai anak-anak pada umumnya tetap saja ada. Kadang saya mendapat cerita prihatin dari anak orang lain yang anaknya suka berkata kasar, eh ternyata karena di rumah dia selalu mendengar omongan kasar baik dari paman maupun kakek nenenknya. Ada juga anak yang sejak kecil selalu diperlakukan secara kasar, maka setelah besar diapun bertindak kasar pula.
Ya, anak itu gimana orangtuanya. Jika orangtuanya mendidik dengan baik, maka anak itu tumbuh menjadi orang yang baik. Sebaliknya jika anak dididik dengan buruk, maka dia tumbuh dengan perilaku yang buruk pula. Keluarga adalah benteng pendidikan terkecil di dalam negara. Jika keluarga baik, maka masyarakatnya baik. Jika masyaraknya baik, maka negara pun baik. Begitu pula sebaliknya.
Kita sehari-hari bertemu dengan banyak orang. Kita dapat melihat bagaimana sifat keluarga orang tersebut dari perilakunya. Seorang yang relijius, rajin shalat misalnya, maka keluarganya juga dari kalangan yang relijius. Seorang yang suka arogan, maka kemungkinan waktu kecil orangtuanya suka memperlakukannya secara kasar. Namun, kasus seperti ini tidak selalu demikian, tetap ada beberapa pengecualian atau anomali, namun persentasenya kecil.
Nah, jika ada seseorang yang dididik secara baik di dalam keluarga lalu setelah dewasa menjadi buruk, apa peyebabnya? Misalnya, sewaktu kecil seseorang tampak alim, tetapi setelah dewasa dia menjadi liar dan permisif (terhadap seks misalnya). Ternyata di luar keluarga, ada dunia lain yang dimasuki anak, yaitu lingkungan. Lingkungan pergaulan yang buruk dapat merusak keprbadian baik yang ditanamkan di rumah. Ibarat anak kijang yang masuk ke tengah kawasan srigala. Kerentanan ini sebenarnya dapat dikurangi jika orangtua tetap memantau perkembangan anak di lingkungan pergaulan. Kita sering mendengar bantahan dari keluarga yang anaknya terlibat narkoba. Anggota keluarga mengatakan bahwa si anak tidak pernah sekalipun memakai narkoba. Si anak selalu shalat 5 waktu, alim, dan patuh pada orangtua. Tapi, apakah orangtua tahu apa yang dilakukan anak setelah berada di luar rumah? Dengan siapa dia bergaul? Kemana saja dia pergi?
Kunci semua ini kembali pada agama. Penanaman agama sejak kecil (tidak sekadar hapalan atau rutinitas ibadah semata) dapat membantu anak tetap kuat memasuki "kawasan srigala" sekalipun. Makanya tidak heran, orangtua di kampung lebih suka memasukkan anak-anak mereka ke pesantren atau madrasah ketimbang sekolah umum. Mereka berharap, pendidikan agama yang diperoleh anak di pesantren atau madrasah dapat membentengi anak dari pengaruh negatif. Intinya, mereka berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang shaleh. Sementara kita di kota dihadapkan pada tuntutan yang bermacam-macam sehingga enggan memasukkan anak ke sekolah agama. Meski di sekolahkan ke sekolah umum, janganlah orangtua lalai menanamkan pendidikan agama dengan cara lain, minimal di dalam keluarganya sendiri.
Sabtu sore, 9 Desember kemaren, ketika pulang ke rumah, saya terjebak kemacetan di daerah Gasibu dan sekitarnya. Penyebab kemacetan rupanya karena acara ulang tahun sebuah partai baru yang merupakan pecahan dari partai besar. Pendukung partai yang jumlahnya diperkirakan 10.000 orang memadati lapangan kecil itu untuk melihat pimpinannya berorasi dan seperti biasa ada hiburan musik dangdut. Mereka datang berombongan dengan puluhan bus dan mobil. Yang datang tidak hanya pemuda, tetapi juga nenek-nenek pun ikut serta. Bis-bis yang parkir dan ribuan orang yang berlalu lalang menyebabkan jalan di sekitarnya macet. Apalagi waktu itu usai hujan deras, macetpun makin menjadi.
Menarik melihat wajah-wajah kelelahan simpatisan partai baru ini yang masih berbasah-basah. Kebanyakan mereka memakai kaos bergambar logo partai. Wajah-wajah polos mereka menggambarkan simpatisan ini kebanyakan "didatangkan" dari desa-desa maupun dari daerah pinggiran Bandung. Saya sebut "didatangkan" karena saya meragukan mereka datang dengan kesadaran sendiri. Kenapa demikian? Lha, partainya saja belum jelas apakah bisa lolos ikut Pemilu 2009 atau tidak. Sebuah partai baru yang tidak dikenal dan bisa mendatangkan ribuan orang ke acara partai jelas mengundang pertanyaan bagaimana orang-orang itu bisa datang. Jawabannya mudah saja: yang penting ada uang. Zaman sekarang dimana kehidupan susah, siapa yang tidak tertarik dengan bayaran uang atau hadiah lain untuk mengikuti acara gelaran partai, kampanye, demo, dan sebagainya. Padahal boleh jadi mereka bukan pendukung partai tersebut, tetapi karena dibayar, diberi kaos, dikasih makan, dan pergi naik bus atau truk gratis, maka orang-orang desa yang polos ini mau bersusah-susah datang ke Bandung untuk menghadiri acara yang mereka sendiri tidak kenal pengurus partai dan tokoh-tokohnya, tidak kenal programnya. Mereka tidak mengerti apa yang diorasikan oleh orang-orang penting di panggung. Yang penting mereka bisa gratis jalan-jalan ke Bandung, dapat uang, makan, dan berjoget ria dihibur oleh penyanyi dangdut yang sensual.
Di zaman sekarang, membuat partai gampang. Asal punya uang banyak, maka anda dapat membuat partai baru. Uang penting karena ia merupakan alat yang ampuh untuk menarik simpatisan. Makanya tidak heran pengurus atau tokoh partai baru kebanyakan adalah pengusaha atau orang kaya. Simpatisan bisa dicari asalkan ada uang. Di dalam politik seolah berlaku pameo "ada uang ada orang". Ada orang yang langganan ikut kampanye, demo, atau apapun namanya, dari partai yang berbeda-beda. Hari ini dia ikut acara orasi partai A, minggu depan ia terlihat pada acara orasi partai B. Bahkan, tidak jarang pencarian orang ini dibisniskan. Ada orang yang punya usaha untuk memobilisasi massa ke acara sebuah partai. Berapapun jumlah orang yang anda minta untuk hadir di acara partai anda, mereka sanggup mendatangkannya. Tetapi tidak ada jaminan orang-orang tersebut akan memilih partai anda di dalam Pemilu nanti. Ini murni bisnis, Bung!
Partai-partai baru ini, yang sebagian besar akan menjadi partai gurem alias partai kerdil, tidak pernah belajar dari kekalahan partai-partai kecil pada era Pemilu yang lampau. Di Indonesia, mayoritas orang memilih partai pada Pemilu lebih banyak ditentukan oleh irasionalitas ketimbang program partai. Mereka memilih partai karena alasan ideologis atau kepopuleran tokoh-tokoh patai. Partai-partai gurem yang tokohnya tidak dikenal jangan harap akan mendapat dukungan. Nama-nama partai yang aneh-aneh tidak menjamin orang mau memilih. Di Bandung bulan lalu, di sebuah hotel berbintang dikukuhkan pengurus DPD partai yang bernama Partai Pembela Rakyat Nasional (PPRN). Di Jakarta, seorang artis mendeklarasikan partai yang bernama Partai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Partai-partai semacam ini diperkirakan akan menjadi gurem.
Lalu, buat apa mendirikan partai?
4 Desember 2006: Antara Aa Gym dan YZBerita Aa Gym nikah lagi (poligami) hampir mendominasi semua media massa pekan ini. Tiada hari tanpa berita mengenai pernikahan yang membuat "heboh" masyarakat itu. Yang membuat berita pernikahan poligami ini heboh adalah karena Aa Gym adalah public figure dan panutan masyarakat, khususnya ibu-ibu. Jadi, apa pun yang dilakukan oleh Aa Gym selalu menjadi sorotan, termasuk soal yang sensitif ini, yaitu poligami. Saking gencarnya berita pernikahan ini, Aa Gym sampai melakukan konferensi pers dua kali. Kemunculan istri keduanya bersama Teh Ninih di Daarut Tauhid Senin kemaren merupakan klimaks berita pernikahan ustad kondang ini.
Sebenarnya, poligami adalah hal yang biasa di dalam ajaran Islam. Islam membolehkan pria poligami asalkan bisa berlaku adil. Jika tidak berlaku adil, maka cukuplah istri itu satu saja. Praktek poligami sebenarnya sudah dilakukan banyak orang, mulai dari ulama, pejabat, sampai rakyat biasa. Pernikahan poligami saat ini umumnya selalu ditutup-tutupi, karena bagi sebagian masyarakat poligami dipandang sebagai aib dan memalukan. Pro kontra soal poligami masih terus berlangsung. Umumnya kaum perempuan menolak poligami, karena secara perasaan poligami cenderung dianggap merugikan istri pertama. Kaum feminis pun menganggap poligami sebagai praktek yang merendahkan harkat perempuan. Bagi kaum agamawan, poligami dipandang sebagai jalan keluar dari praktek perzinahan. Ketimbang berzinah atau selingkuh, maka lebih baik menikah lagi.
Saya tidak hendak membela Aa Gym. Terus terang, saya bukan pengagum Aa Gym. Saya jarang mengikuti ceramah-ceramahnya atau membaca buku-buku tentang dirinya. Saya tidak mau terjebak dalam kultus individu. Cukuplah Allah yang dikultuskan, dan cukuplah Rasulullah sebagai panutan. Namun, karena Aa Gym sudah menjadi milik publik, maka sepak terjangnya tentu tidak lepas dari sorotan. Mau tidak mau saya pun ikut mencermati berita soal poligami Aa ini. Kebanyakan memang berkomentar miring dan sinikal. Diskusi di milis dosen ITB hampir selama beberapa hari ini menyoroti soal pernikahan Aa Gym. Isinya berneka ragam, mulai dari bisa memaklumi dari sudut pandang agama, menganggap itu hak Aa Gym, sampai pandangan sinis dan nakal. saya pikir, itulah risiko yang ditanggung seorang public figure yang berpoligami.
Disaat berita pernikahan Aa Gym mendominasi, di seberang kota, di Jakarta, juga muncul berita yang menghebohkan. Seorang anggota DPR berinisial YZ (belakangan ditulis lengkap sebagai Yahya Zaini) terlibat skandal seks dengan seorang penyani dangdut yang tidak sukses, ME (belakangan ditulis lengkap sebagai Maria Eva). Rekaman video adegan intim YZ dengan ME terkuak dan menjadi konsumsi publik. Rekaman yang diambil dengan ponsel berkamera itu dibuat pada tahun 2004 pada waktu kampenaye Pemilu. Entah kenapa rekaman video itu beredar dan terungkaplah peerilaku amoral wakil rakyat itu. Gedung DPR pun kebakaran jenggot karena ulah seorang anggotanya. Perilaku YZ dianggap mencemakan DPR dan Partai Golkar (tempat ybs menjabat sebagai pengurus). Yang menarik adalah pengakuan ME, bahwa dia melakukan perzinahan itu tidak dalam keadaan menikah dengan YZ. Dengan kata lain, ME adalah wanita simpanan atau selingkuhan YZ. Yang mengagetkan, hubungan gelap itu membuahkan janin dan atas perintah istri YZ janin itu terpaksa digugurkan. Dua dosa yang dilakukan oleh pasangan ini, yaitu perzinahan dan pengguguran kandungan.
Marilah kita simak latar belakang YZ. YZ adalah mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam. Di Partai Golkar ia menjabat sebagai Ketua Seksi Keagamaan. HMI dan Seksi Keagamaan berkonotasi orang-orang yang berperilaku islami, namun ternyata dalam prakteknya yang bersangkutan melakukan perbuatan yang bertolak belakang dengan simbol-simbol Islam yang melekat di dalam dirinya. Sungguh memalukan jika kita memahami perilaku orang-orang yang sok alim ini. Tidak ada jaminan orang-orang seperti ini sehari-harinya menampilkan perilaku yang islami juga.
Antara YZ dan Aa Gym jelas beda. Aa Gym menikahi istri kedua secara sah dan dibolehkan dalam agama, sedangkan YZ - karena takut ketahuan istri pertama - melakukan perselingkuhan dan perzinahan, bahkan sampai membuahkan janin, dengan wanita lain secara sembunyi. Maka, benarlah bahwa poligami itu lebih baik daripada berzinah. Yang satu halal, yang kedua haram. Tergantung kita memilih mau setuju yang mana. Hanya saja, di sebagian masyarakat kita berkembang pandangan yang sebaliknya. Poligami dipandang sebagai aib, sedangkan perzinahan dianggap sebagai "kecelakaan" saja yang suatu saat bisa dimaafkan (misalnya dengan pertobatan). Inilah pandangan masyarakat kita yang sakit.
He..he, saya sama sekali tidak ada niat dalam hati meniru Aa Gym soal hal ini. Masih banyak prioritas penting dalam hidup saya ketimbang melakukan poligami. Membesarkan anak dan mencari nafkah buat anak istri jauh lebih utama ketimbang memikirkan soal yang satu ini. Namun, saya tidak menentang poligami karena saya meletakkan poligami secara proporsional sesuai dengan hukum agama Islam, yaitu praktek yang diblehkan dalam agama dengan syarat yang sangat berat.
Adapun Aa Gym, biarlah dia menjalani pilihan hidupnya itu, dan mudah-mudahan saja keluarganya tetap sakinah. Kita hanya bisa mendoakan, karena mendoakan yang baik buat seseorang dianjurkan dalam agama. Sedangkan YZ, dia sudah mendapat hukuman sosial dari masyarakat atas perilaku amoralnya dan biarlah Allah saja yang menghukum baik buruknya dia di akhirat nanti.
Waktu naik kendaraan pergi-pulang rumah-kampus, kita sering menemukan pemandangan yang membuat kita geleng-geleng kepala. Siswi-siswi SMA berboncengan naik sepeda motor dengan posisi menghadap ke depan. Posisi itu dimungkinkan karena mereka memakai rok abu-abu yang ukurannya minim (di atas lutut) dan nge-pas di badan. Dulu, jika perempuan duduk di boncengan motor posisinya adalah menyamping. Posisi tersebut demikian karena wanita memakai kain atau rok yang panjang sekaki. Duduk di boncengan dengan posisi menghadap ke depan dianggap tidak sopan. Tetapi, sekarang nilai-nilai sudah berubah, maka posisi duduk tersebut terlihat dianggap biasa saja.
Kembali ke soal seragam SMA. Anak-anak SMA sekarang, termasuk SMP, memakai seragam yang melanggar aturan sekolah umumnya. Rok pendek di atas lutut yang nge-pas dan baju yang dikeluarkan (tidak dimasukkan ke dalam rok atau celana). Siswa laki-laki lain lagi, mereka memakai celana panjang yang seakan-akan mau melorot, sebentar-sebentar celana ditarik ke atas. Kalau duduk di dalam angkot kelihatan celana dalamnya.
Selidik punya selidik ternyata mode seragam seperti itu banyak meniru perilaku artis sinetron yang memerankan anak sekolahan. Lihatlah sinetron yang hampir setiap malam tayang di TV. Sinetron sekolahan yang temanya itu itu saja: persaingan memperebutkan cowok atau cewek. Sama sekali perilaku mereka tidak menampilkan perilaku pelajar umumnya. Seragamnya saja sudah begitu: siswi memakai rok pendek di atas lutut, baju dikeluarkan. Begitu pula siswanya. Meskipun cerita sinetron menampikan lingkungan sekolah, namun mayoritas adegan di dalam sinetron adalah sikap sinikal, intrik, dan persaingan antara siswa/i dalam memperebutkan cinta. Sama sekali tidak ada adegan yang memperlihatkan siswa kerja keras mempersiapkan ujian, mengerjakan PR, atau diskusi mengenai materi pelajaran. Adegan malam hari tidak jauh-jauh dari dugem, pesta, kencan di kafe atau mal. Benar-benar sinetron yang tidak mendidik. Anehnya, masih ada pihak sekolah yang mengizinkan sekolahnya sebagai lokasi shooting untuk sinetron sampah semacam itu. Gaya hidup seperti di sinetron itu pulalah yang ditiru oleh pelajar- pelajar kita. Ujung-ujungnya gaya hidup semacam ini mengarah ke permisivisme, yaitu paham yang serba membolehkan. Makanya tidak heran kita mendengar kasus pelajar hamil di luar nikah, pelajar tertangkap membawa atau mengisap narkoba, atau survei yang menyebutkan bahwa sebagian besar remaja di perkotaan sudah berhubungan seks sebelum menikah. Astaghfirullah!
Entah sampai kapan penetrasi budaya negatif semacam ini terus berlangsung. Hanya pendidikan moral dan agama yang cukup yang bisa membentengi anak-anak muda dari pengaruh negatif kebudayaan. Saya tidak melihat ada cara lain untuk menyelamatkan generasi muda selain pendidikan dua nilai tersebut.
Sudah beberapa kali saya ditilang polisi jalan raya karena melanggar rambu-rambu lalu lintas. Memang saya sering tidak awas mengendarai sepeda motor, kadang-kadang saya memasuki lajur jalan yang belum boleh dimasuki sebelum jam 16.00 (Jalan Bogor dan Jalan Jakarta di daerah Cicadas), atau berhenti melewati zebra cross pada persimpangan lampu merah (kejadian di pertigaan Dago-Cikapayang-Surapati, di bawah jalan layang Pasupati).
Seperti biasa polisi yang menangani pelanggaran menggiring saya ke suatu tempat lalu menyebutkan pelanggaran yang saya lakukan beserta pasal-pasalnya. Setelah memeriksa SIM dan STNK, ujung-ujungnya polisi tersebut menanyakan apakah saya akan disidang di pengadilan atau "disini" saja. Saya pun mengerti maksud "di sini", artinya diselesaikan di jalan saja tanpa perlu melalui sidang pengadilan. UUD lah, apa lagi. Karena saya tidak memiliki banyak waktu, maka saya terpaksa memilih "di sini" saja, yaitu memebri polisi tadi sejumlah uang, sebab jika memilih sidang di pengadilan prosesnya belum tentu cepat. Pembaca koran PR pernah menulis kekesalannya karena sidang pelanggaran lalu lintas yang ia jalani ternyata sering dibatalkan, mana tempatnya jauh lagi.
Saya sering merasa bersalah (kalau tidak bisa dibilang berdosa) jika menyelesaikan pelanggaran lalu lintas ini dengan memberikan uang kepada polisi tadi. Secara tidak langsung saya telah membuat polisi tadi melakukan korupsi. Uang yang saya berikan belum tentu masuk ke kas kepolisian, tetapi masuk ke kantong polisi tadi, sebab tidak ada bukti kwitansinya. Semua orang hampir mahfum bahwa demikianlah cara oknum polisi menambah penghasilan. Kita semua tahu bahwa gaji polisi tergolong kecil, maka seolah wajar jika sebagian oknum polisi mencari penghasilan di jalan. Polisi yang baik tentu tidak akan menawarkan alternatif penyelesaian di jalan. Penyelesaian pelanggaran adalah di pengadilan. Untuk itu, pengadilan harus dibuat sedemikain rupa sehingga proses pengadilan mangkus dan cepat. Di zaman dimana waktu demikian penting jelas orang enggan membuang-buang waktu mengikuti pengadilan untuk persoalan pelanggaran sepele itu. Bahkan, kalau perlu pengadilan langsung di tempat, dengan bukti-bukti tertulis hasil sidang yang bisa dipertanggungjawabkan.
Menurut saya ada empat profesi yang perlu diberi penghargaan (baca: gaji) yang tinggi agar tidak timbul penyalahgunaan jabatan (baca: korupsi, manipulasi, kolusi, dsv). Keempat profesi itu adalah guru, polisi, jaksa, dan hakim. Selama ini gaji orang-orang yang berprofesi empat macam tadi tergolong kecil, maka tidak heran kita sering mendengar pelanggaraan yang dilakukan oleh mereka yang ujung-ujungnya adalah menambah penghasilan. Kita pernah mendengar oknum guru sering memperjualbelikan nilai, membocorkan soal ujian, membuat ijazah palsu untuk siswa, atau menjual bangku murid baru. Kita juga sering mendengar oknum jaksa atau hakim yang bisa "dibeli" agar perkara hukum bisa diarahkan sesuai kepentingan terdakwa. Kalau mengenai polisi sudah tidak terhitung banyak penyimpangan yang terjadi.
Memang, gaji tinggi bukanlah satu-satunya cara menjamin seseorang bekerja dengan integritas yang baik. Masih diperlukan ketahanan moral, agama, dan nilai-nilai positif lainnya agar seseorang terjaga integritas moralnya. Penanaman nilai-nilai moral dan agama itu penting ditumbuhkan sejak dini di dalam keluarga. Negara hanya akan baik jika elemen terkecil negara, yaitu keluarga, juga baik. Jika keluarga rusak, maka rusak pulalah negara.
Di daerah Cicadas, Bandung, tepatnya di jalan Kiaracondong, sedang dibangun mal baru yang bernama Bandung Trade Mall (BTM). Lokasi BTM menempati bekas Pasar Cicadas. Pasar Cicadas dulunya cukup besar dan menampung ratusan pedagang tradisionil, kebanyakan berjualan kebutuhan dapur. Terus terang saja, seperti pasar tradisonil lainnya, Pasar Cicadas kumuh dan kotor. Jika hari hujan maka pasar menjadi becek dan tidak nyaman untuk berbelanja. Melihat kondisi pasar yang kumuh, reot, dan mengganggu keindahan kota, maka Pemkot Bandung menggusur pasar itu dan menawarkannya kepada pengusaha besar untuk membangun pasar modern, yaitu BTM.
Mudah ditebak, penggusuran pedagang dari pasar tersebut menimbulkan gelombang protes karena nasib mereka pasti akan terancam dan kehilangan mata pencaharian. Tetapi Pemkot tampaknya tetap bergeming pada pendiriannya. Bayangan memperoleh pajak besar dari pengusaha mal dan uang siluman lainnya menyebabkan Pemkot tidak mendengar jeritan pedagang pasar lama. Dengan iming-iming bahwa pedagang pasar lama diprioritaskan menempati mal, maka pembangunan mal tetap berjalan terus. Sebagai tempat penampungan sementara, maka para pedagang pasar lama dipindahkan ke bekas pasar Super Bazaar yang sudah bangkrut.
Di tempat penampungan sementara nasib para pedagang itu tidak lebih baik dari tempat lama. Tempat yang tidak strategis dan sepi pembeli membuat para pedagang tersebut frustasi. Akhirnya, mereka pun kembali menggelar dagangan di sepanjang jalan mulai dari Matahari Dept. Store hingga di depan BTM yang sedang dibangun. Jalan yang sudah sempit itu semakin sempit karena para pedagang memakan setengah badan jalan. Kemacetan setiap pagi pun tidak terhindarkan. Sepenggal jalan Kiaracondong itu menjadi semrawut dan kotor. Pembeli, pedagang kakilima, dan mang-mang becak bercampur baur meramaikan badan jalan di tengah hiruk pikuk klakson kendaraan yang meminta jalan. Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung.
Sudah sering terjadi bahwa pembangunan pasar-pasar modern seperti mal dan plaza akan menyengsarakan pedagang kecil. Mereka terus dipinggirkan dan nasib mereka semakin tidak menentu. Yang diuntungkan tentu saja pengusaha besar dan Pemerintah Kota. Tidak semua warga kota membutuhkan kehadiran mal. Pasar-pasar tradisionil tetap diperlukan karena sebagian besar masyarakat kita berada pada strata ekonomi menengah ke bawah yang mempunyai daya beli rendah. Seharusnya Pemkot justru meremajakan pasar tradisionil tersebut dan membangun pasar yang lebih layak. Mal dan plaza sudah terlalu banyak di Bandung jadi tidak perlu ditambah lagi. Pasar tradisionil tetap punya kekhasan yang tidak dipunyai pasar modern. Di pasar tradisionil kita masih bisa melakukan tawar menawar dan hubungan antar orang yang lebih manusiawi.
Janji bahwa pedagang lama diprioritaskan menempati mal baru tidak seluruhnya benar. Harga kios baru yang super mahal tentu mencekik leher pedagang lama. Tidak semua mereka mampu membeli kios baru. Bahkan yang menyedihkan, para pedagang lama ini yang kebanyakan menjual barang-barang basah ditempatkan di lantai basement yang pengap, gelap, dan tidak strategis. Contoh ini sudah terjadi di Pasar Baru Bandunng, pedagang basahan ditempatkan di lantai basement yang untuk mencapainya tidak semudah lantai-lantai lainnya. Pintu masuknya pun hanya beberapa. Lokasi yang tidak strategis menyebabkan pengunjung sepi, sangat kontras dengan lantai-lantai di atasnya yang mempunyai elevator dan penyejuk udara erta ramai dengan pengunjung.Begitulah yang terus terjadi di negeri ini. Pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat kecil menyebabkan rakyat kecil terus terpinggirkan. Hidup mereka semakin susah saja. Mereka hanya menjadi penonton di tengah pembangunan yang terus berlangung. Yang kaya semakin kaya, seangka yang miskin tetap saja miskin.
Anak saya yang nomor dua usianya baru 5 tahun lebih, masih duduk di TK besar, tetapi dia suka sekali bertanya ini dan itu. Setiap saya bawa dia jalan-jalan naik kereta api, bus, motor, atau taksi, maka sepanjang jalan mulutnya tidak pernah berhenti bertanya tentang objek yang dilihatnya. Misalnya, mengapa mobil yang di depan lebih kencang dari taksi? Mana yang lebih panjang bus Primajasa dengan bus DAMRI? Mengapa kereta api jalurnya dua? Mengapa bus berjalan di jalur kanan? dan sebagainya. Tiada kesempatan bagi saya untuk istirahat sejenak di dalam kendaraan karena harus menjawab pertanyaan bocah ini. Barulah kalau dia capek bertanya maka dia akan tertidur sendiri di dalam kendaraan, tetapi setelah bangun dia akan mulai meluncurkan seabreg pertanyaan lagi.
Sedapat mungkin saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kadang-kadang kalau saya tidak bisa menjawabnya atau masa menjawab, saya jawab asal-asalan saja. Misalnya mengapa mobil kijang yang di depan larinya kencang, ya saya jawab karena bensinya banyak. Eh, saya sadar ini jawaban salah, sebab ketika anak saya melihat mobil di belakang berjalan lebih lambat daripada taksi kami, dia langsung berkomentar begini: "Yah, mobil di belakang bensinnya tinggal sedikit makanya pelan". Duh, tentu bukan itu alasannya, bisa jadi karena sopirnya ingin pelan saja (kata saya dalam hati). Sejak itu saya selalu memberikan jawaban yang sekiranya masuk akal bagi anak kecil dan dapat dimengerti olehnya, tentu saja jawaban tersebut bukan jawaban ngaco.
Kata orang, anak yang suka bertanya menunjukkan tingkat kecerdasan si anak. Mudah-mudahan saja demikian, karena kakaknya sebaliknya, lebih banyak diam dan jarang bertanya. Sebagai orangtua, kita harus menumbuhkan kebiasaan bertanya pada anak. Kadang-kadang ada orangtua karena merasa capek meladeni pertanyaan anak maka dia menghardik si anak dengan kata-kata udah ah, nanya melulu". Akibatnya fatal, si anak akan mulai berhenti bertanya.
Jika anak berhenti bertanya itu berarti bencana. Sifat kritis anak bisa hilang. Dia akan menyimpan sendiri pertanyaan itu di dalam hati tanpa keinginan untuk mencari jawabannya karena ia takut dimarahi. Sampai dewasa pun dia akan diliputi keraguan -bahkan ketakutan- untuk bertanya, khawatir pertanyaannya itu bisa memunculkan kemarahan orang yang ditanya. Jadi, dia lebih memili diam saja atau sedikit berkomentar.
Di zaman Orde Baru, rakyat dibungkam untuk mengajukan pertanyaan kritis kepada Pemeringahan Soeharto, apalagi mempertanyakan kekayaan, hak istimewa, dan monopli keluarga Cendana yang begitu hebat mencengkeram kekayaan bumi pertiwi. Salah-salah bertanya bisa dianggap subversif, ujungnya-ujungnya bisa masuk bui. Pak Harto paling sering mengadakan sarasehan dengan para petani atau peternak. Publik sudah menduga bahwa acara sarasehan yang sering disiarkan oleh TVRI sudah direkayasa oleh panita acara. Setelah Pak Harto selesai berbicara panjang lebar soal pertanian dan disimak secara takzim oleh para petani, maka Pak Harto pun mempersilakan petani mengajukan pertanyaan. Sepertinya petani yang bertanya sudah diatur siapa orangnya dan pertanyaan apa yang akan diajukan. Ini penting sebab jika tidak begitu bisa muncul pertanyaan liar yang mengarah kepada kekuasaan Pak Harto (apalagi acara tersebut disiarkan secara langsung dan diulang lagi pada malam hari).
Sekarang di zaman reformasi, kekakuan bertanya seperti itu sudah hilang. Orang bebas berdemonstrasi, mengajukan pendapat, bertanya ini dan itu. Tapi reformasi sering dianggap orang sudah kebablasan, akibatnya banyak pihak yang membonceng era kebebasan ini dengan berekpresi yang tidak mengindahkan norma dan agama.
Kembali ke masalah bertanya tadi. Di kelas-kelas sekolah dari SD sampai Perguruan tinggi kita sering menemukan kelas yang "diam". Maksudnya, setelah guru atau dosen menjelaskan materi ajar jarang siswa yang bertanya. Ketika dosen di kelas menerangkan materi ajar, lalu dia mengatakan "ada pertanyaan?". Seisi kelas terdiam. Hanya satu dua yang bertanya, sebagian besar diam saja, entah karena dia sudah mengerti dengan apa yang diterangkan atau malu bertanya. Untuk kasus yang terakhir, yaitu malu bertanya, mungkin hal ini disebabkan pengalaman sejak masa kecil dimana anak-anak tidak diberikan iklim yang kondusif untuk bertanya (jika bertanya takut dibentak, misalnya). Ini memang karakteristik orang timur yang tidak biasa mengekspresikan pertanyaan secara verbal, berbeda dengan di Barat dimana sejak kecil anak-anak sudah dilatih kritis mengungkapkan pendapat secara lisan dan tidak segan-segan bertanya (seperti kita lihat pada film-film Hollywood).
Meskipun bertanya itu penting, namun yang juga harus diperhatikan adalah kualitas pertanyaan. Untuk bertanya orang harus banyak membaca. Membaca tidak harus dari buku, tetapi juga dari melihat fakta di lapangan, mengumpulkan bukti pendukung, mengumpulkan informasi dari pihak-pihak yang kompeten. Dari membaca itulah orang dapat mengajukan pertanyaan yang berbobot. Aneh jika seseorang bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya sudah diketahui. Hal ini juga berlaku dalam dunia akademis. Mahasiswa harus banyak membaca bahan-bahan baik dari buku teks, jurnal, maupun materi dari internet. Setidaknya dari membaca itu timbul pertanyaan baru yang harus dipecahkan dan dicari jawabannya. Inilah inti dari riset, yaitu apa masalahnya, dari situlah dicari jawabannya.
Lebaran tahun ini saya bersama keluarga mudik ke Padang dan Bukittinggi. Ke Padang ke rumah ibu dan ke Bukittinggi ke rumah mertua. Kami pulang setelah merayakan lebaran di Bandung. Oh ya, lebaran tahun ini terasa sumbing, pasalnya terjadi perbedaan hari raya antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia: NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada tanggal 23 Oktober 2006, sedangkan NU dan Pemerintah menetapkan lebaran tanggal 24 Oktober 2006. Di kalangan akar rumput terjadi kebingungan karena perbedaan itu, meskipun akhirnya perbedaan itu disikapi biasa-biasa saja dan tidak terjadi pertentangan. Mungkin karena orang Islam di Indonesia sudah biasa merasakan hari raya yang berbeda hari. Sebagian masyarakat shalat Ied pada tanggal 23 Oktober, sebagian lagi 24 Oktober. Saya akhirnya memilih shalat Ied pada tanggal 23 Oktober 2006 setelah menelpon ke Padang kapan shalat Ied di sana. Di Padang sendiri sebagian besar masyarakatnya berlebaran pada hari Senin 23 Oktober 2006 (mungkin karena Muhammadiyah sangat berpengaruh di kota ini), jadi saya sesuaikan saja dengan waktu shalat Ied di Padang agar mengucapkan selamat lebaran dengan keluarga di sana tetap pada hari yang sama (he..he. ada-ada saja alasan saya ini).
Menjejakkan kaki di kota ini saya tidak melihat banyak perubahan. Memang banyak bangunan baru termasuk mal dan plaza, tetapi kehidupan terasa berjalan lamban. Kemiskinan mudah ditemukan di mana-mana di sudut kota. Orang-orang terlihat tidak begitu bersemangat, maklum lowongan kerja di kota ini sangat sedikit sementara tingkat pengangguran tinggi. Di Padang tidak banyak terdapat industri seperti halnya di Pekanbaru. Waktu saya ke Pekanbaru saya melihat kota ini sangat dinamis, ramai, dan terlihat bergairah. Maklum saja, di Pekanbaru dan sekitarnya terdapat banyak industri, mulai pertambangan minyak (Caltex), perkebunan kelapa sawit, pabrik pulp, dan sebagainya.
Barulah di Bukittinggi saya melihat kehidupan yang bergairah. Maklum saja Bukittinggi adalah kota wisata dan perlintasan kendaraan dari selatan Sumatera menuju utara. Pasar-pasar di Bukittinggi ramai terus oleh wisatawan yang ingin berbelanja kerajinan khas seperti sulaman, bordiran, tenunan, maupun menikmati masakan minang asli seperti nasi kapau. Saya penasaran juga ingin mencoba seperti apa masakan nasi kapau Uni Lis di Pasar Atas Bukittinggi. Untuk diketahui, ketika Presiden SBY berkunjung ke Bukittinggi beberapa bulan yang lalu, ia tidak canggung-canggung berjalan dari Istana Tri Arga menyusuri lorong- lorong pertokoan Pasar Atas hanya untuk makan di rumah makan nasi kapau Uni Lis ini. Rumah makan Uni Lis ini hanya berupa kedai biasa yang sempit, tetapi entah kenapa SBY tidak sungkan makan nasi kapau di sana sampai berkeringat. Setelah saya coba makan di sana dengan dendeng balado, maka komentar saya adalah: cukup sekali ini saja makan nasi kapau Uni Lis karena rasanya pedaaaaasss sekali, lebih pedas dari sambal di Padang maupun di Bandung. Meskipun saya biasa makan masakan pedas, tetapi masakan Uni Lis ini luar biasa pedasnya (ah.. mungkin karena sudah lama di Bandung menikmati masakan Padang yang sudah disesuaikan tingkat kepedasannya sehingga saya sulit lagi beradaptasi dengan kepedasan cabe di Bukittinggi). Ngomong-ngomong, pedasnya cabe di Bukittingi dan Kabupaten Agam memang melebihi rasa pedas cabe di kota dan kabupaten lain di Sumatera Barat. Makanya pengusaha keripik balado Christine Hakim di derah Pondok kota Padang menggunakan cabe dari Kabupaten Pasaman ketimbang cabe dari Bukittinggi dan Agam, karena cabe Pasaman tidak sepedas cabe Bukittingi.
Begitulah, mudik tahun ini membawa kesan tersendiri meskipun saya merasa masih ada yang kurang, karena saya tidak sempat ziarah ke makam ayahanda di bukit Seberang Padang. Ini karena saya harus membagi waktu berkunjung ke rumah-rumah saudara baik di Padang maupun di Bukittinggi sehingga waktu yang hanya 6 hari habis untuk kunjung berkunjung saja. Insya Allah saya akan ke sana lagi selagi ibu masih hidup di Padang. Jika ibu tidak ada lagi, mungkin semangat saya untuk mudik ke Padang akan mengendur. Bagi saya, orangtua adalah sumber inspirasi dan penambah semangat hidup. Kini hanya tinggal ibu saya di Padang mengisi hari-hari sepinya.
10 Oktober 2006: Sop Buah dan Masyarakat LatahSelain kolak, makanan/minuman apa yang paling diburu orang di Bandung pada saat puasa Ramadhan tahun ini? Jawabnya adalah "sop buah". Bagi pendatang baru, nama "sop buah" memang terasa asing, tetapi bagi warga Bandung sop buah sudah biasa. Sop buah tidak lain adalah kombinasi buah-buahan yang dipotong kecil seperti dadu, disiram dengan air gula, es batu, lalu ditambah susu kental manis. Dihidangkan pada sebuah mangkok. Jadilah minuman segar yang menyehatkan, lebih-lebih di bulan puasa yang panas tahun ini. Buah-buahannya cukup lengkap, mulai dari yang okal sampai impor seperti semangka, melon, apel (impor), nanas, pir (impor), anggur, strawberi, timun suri, blewah, pisang, dan sirsak. Karena penambahan es, susu kental, dan air gula, maka buah-buahan tersebut seperti mempunyai kuah seperti kuah sop, sehingga dinamakan sop buah. Nama lainnya "es shanghai", tetapi entah kenapa nama ini kurang populer.
Entah siapa yang pertama kali mencoba berjualan sop buah dan entah darimana orang punya ide membuat minuman baru, tetapi yang jelas 3 tahun belakangan ini. Dulu saya sering melihat penjual sop buah ini di depan Gasibu, hanya 1 orang pedagang, sekarang di Bandung terdapat puluhan bahkan ratusan penjual sop buah.
Bandung memang kota yang masyarakatnya terkenal kreatif. Berbagai ragam karya seni, pakaian, sovenir, dan laia-lain termasuk makanan lahir dari kota ini. Berbicara mengenai ragama makanan, saya teringat kue brownies kukus yang diproduksi oleh toko Amanda. Kue ini, yang lahir karena salah resep, menjadi terkenal dan merupakan ikon baru oleh-oleh Bandung selain peuyeum, kue sus, roti begelen, dan roti molen. Banyak orang-orang Jakarta yang berkunjung ke Bandung memburu brownies kukus. Antrian pembeli di beberapa gerainya sampai berpuluh-puluh meter. Peluang bisnis ini ditangkap oleh beberapa pedagang kaki lima yang menjual brownies kukus Amanda di pinggir-pinggir jalan, terutama jalan yang banyak toko factory outlet.
Hukum "latah" pun mulai menghinggapi banyak orang yang melihat kesuksesan brownies Amanda. Bermunculanlah berbagai kue brownies kukus dengan bermacam-macam merek, bahkan toko kue yang tidak berjualan brownies kukus pun ikut-ikutan memproduksi kue brownies kukus dengan berbagai rasa, mulai dari rasa pandan, rasa durian, bahkan ada brownies yang dilapisi keju. Nama "kukus" pun menjadi terkenal sehingga banyak orang mencoba membuat resep baru seperti tiramisu kukus, bolu kukus, tart kukus, dan entah berapa macam lagi yang kukus-kukusan.
Akibat budaya latah seperti itu, orang pun mulai bosan dengan brownies kukus. Ini dapat dilihat gerai toko Amanda yang tidak lagi ramai seperti dulu. Yang jelas, budaya latah sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia. Melihat orang lain sukses dengan bisnisnya, maka bermunculanlah puluhan sampai ratusan usaha yang serupa.
Saya masih ingat dua tahun yang lalu betapa populernya jajanan gorengan yang bernama "cimol" (aci digemol). Bermula dari seorang pedagang, maka bermunculanlah banyak pedagang lain yang berdagang serupa. Sekarang makanan cimol sudah tidak populer lagi, sudah jarang ditemui pedagang yang berjualan jajanan yang tidak bergizi itu.
Sejak tahun lalu di Bandung bermunculan rumah makan Sunda yang berbau nama kampung dengan cara penyajian yang beda dari yang lain, seperti RM Bumbu Desa, RM Dapur Cobek, RM Sambal Cibiuk, RM Rumah Nenek, RM Bawang Merah, dan sebagainya. Awalnya bermula ari RM Bumbu Desa yang sukes, lalu pengusaha lain pun latah meniru konsep serupa.
Sekarang di Bandung populer jajanan yang bernama singkong keju. Jajanannya sederhana saja, singkong yang sudah direndam dalam larutan yang bercampur keju, ketika digoreng akan memberikan aroma dan rasa yang lain dari singkong goreng biasa. Nah, bisa ditebak, kesuksesan pedagang singkong keju yang pertama (entah dimana) mebuat pedagang lain pun latah. Bisa ditebak nasibnya nanti seperti cimol itu.
Moral dari cerita ini, kalau anda ingin sukses, buatlah sesuatu yang beda dari yang lain, jangan membuat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Kreatif, itu kuncinya.
Karena tuntutan profesi sebagai dosen, saya mengambil S3 lagi mulai tahun lalu. Tidak jauh-jauh, di ITB juga. Penelitian saya yang berhubungan dengan citra dan sekuriti (saya sungguh menyenangi kedua bidang ini) mengharuskan saya untuk coding lagi yaitu membuat program. Kali ini saya memprogram menggunakan MATLAB karena MATLAB sudah menyediakan infrastruktur yang kaya untuk pemrosesan citra dan sinyal digital (ada toolbox nya). Terus terang memprogram dengan menggunakan MATLAB adalah hal yang masih baru bagi saya. MATLAB sudah jamak digunakan mahasiswa dan dosen (serta peneliti) di bidang teknik, seperti Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Sipil, dan sebagainya. Di Informatika ITB, hampir tidak pernah mahasiswa kami menggunakan MATLAB karena mereka jarang mendapat tugas terkait komputasi teknik. Kebanyakan mahasiswa kami meggunakan kakas bertujuan umum seperti .NET, Java, Delphi, Visual C++, dan sebagainya. Lagipula, mereka dianjurkan membuat primitif fungsi sendiri ketimbang menggunakan fungsi built-in yang tersedia di dalam kakas (sembari belajar).
Saya tidak hendak menceritakan seluk beluk MATLAB, tetapi pengalaman perihal memprogram. Karena MATLAB baru bagi saya, maka saya tertantang untuk menguasainya dalam waktu cepat. Seperti jargon yang sering kita dengar bahwa keahlian tentang sesuatu hanya bisa diperoleh jika kita banyak mempunyai "jam terbang". Hal ini berlaku pula jika kita ingin mendalami sebuah kakas baru. Perlu waktu yang intensif untuk bisa menguasai pemrograman dengan kakas baru seperti MATLAB ini. Learning by doing mungkin cara yang paling efektif. Mencoba sendiri atau bereksperimen sendiri dapat meningkatkan daya serap penguasaan materi. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh William Glasser bahwa jika hanya membaca, maka hanya 10% saja materi yang bisa kita kuasai. Kinerja pembelajaran semakin meningkat jika kita mendengar, melihat, mendiskusikan dengan teman, dan jika melakukan eksperimen sendiri maka 80% dari materi pembelajaran dapat kita raih, dan 90% jika kita ajarkan kepada orang lain.
Jika anda berkunjung ke Informatika ITB, anda akan melihat mahasiswa kami di lab-lab yang begitu asik memprogram atau mempelajari kakas pemrograman baru (seperti C#), platform baru (seperti .NET), dan sebagainya. Mahasiswa betah berlama-lama di lab karena memang resource yang tersedia dapat diperoleh dengan mudah (buku, piranti lunak). Keseriusan bereksperimen sendiri tidak membuat mereka melupakan aktivitas internet yang menyenangkan seperti chatting dengan Yahoo Messenger. Sambil memprogram ya chatting juga.
Memprogram telah membius banyak orang, tidak hanya dari kalangan informatika saja. Mahasiswa dan dosen dari luar IF pun banyak yang melakukan kegiatan ini, bahkan sebagian mereka mungkin lebih mahir dari orang informatika sendiri. Bahkan seorang kolega di Elektro mengaku lebih menyukai memprogram ketimbang mengulik elektonika atau IC design yang merupakan bidang "lamanya". Mungkin perlu penjelasan mengapa banyak orang tertarik di bidang teknologi informasi khususnya mengembangkan program aplikasi. Teknologi informasi bagaikan gadis cantik yang dikerubuti banyak orang, tidak peduli latar belakangnya apa. Semua ini dapat dijelaskan namun penjelasan apapun akhirnya bermuara pada uang juga, istilahnya UUD (Ujung-ujungnya duit)) :-)
Setiap kali puasa Ramadhan datang, saya selalu teringat kenangan bulan puasa pada masa kanak-kanak dulu. Bapak dan ibu saya sudah mengajarkan berpuasa kepada kami, tetapi memang tidak harus penuh, boleh buka di siang hari, maklum kami masih kecil. Secara bertahap akhirnya kami bisa juga berpuasa secara penuh dari pagi sampai sore. Saat-saat berbuka puasa adalah saat yang dinanti. Hampir semua tetangga berdiri di depan rumah masing-masing menunggu bunyi sirine tanda berbuka berbunyi. Dulu belum ada televisi, maka waktu imsak dan waktu buka puasa selalu ditandai dengan bunyi sirine yang dipancarkan dari stasiun kereta api di Simpang Haru. Kota Padang dulu belum seluas sekarang sehingga bunyi sirine cukup menjangkau warga kota yang belum banyak pada masa itu. Sirine tersebut adalah peninggalan Belanda dan sampai sekarang masih tetap digunakan untuk menandai waktu imsak dan buka puasa.
Keluarga kami bukanlah keluarga berada sehingga menu buka puasa biasa-biasa saja. Hanya sekali-kali ibu membuat kolak pisang dicampur labu (bahasa minang: kundua). Selebihnya menu buka puasa yang manis-manis hanyalah minuman cincau yang diberi es batu, lain kali berupa teh manis yang juga diberi es batu. Biasanya salah seorang dari kami yang disuruh bapak membeli es batu di pasar raya.
Siang hari di bulan puasa adalah masa yang menyenangkan bagi anak-anak di lingkungan perumahan. Waktu itu di sekitar rumah masih banyak sawah. Maka kami anak-anak menghabiskan waktu siang hari dengan duduk-duduk di pondokan sawah sambil mengusir burung atau menembak burung dengan ketapel. Areal pesawahan dilalui oleh jalur kereta api, sehingga kami anak-anak sering membuat pisau-pisauan dari paku besar yang dilindas dengan roda kereta api yang sering lewat. Tetapi permainan yang menggetarkan adalah membunyikan meriam bambu. Bambu yang cukup besar dilubangi lalu diisi dengan kain yang sudah diberi minyak tanah, lalu api dimasukkan ke lubang bambu sehingga menimbulkan bunyi dentuman yang memekakkan telingga. Setiap kali selesai dentuman, bambu harus ditiup agar asap didalamnya keluar. Teman saya yang suka meniup sampai habis bulu matanya terbakar karena panas. Biasanya setiap kali bermain meriam ini, kami selalu diomeli tetangga karena suara meriam mengganggu ketenangan mereka.
Malam hari di bulan Ramadhan kami anak-anak pergi ramai-ramai ke mesjid untuk shalat tarawih. Di mesjid kami bukannya shalat tetapi malah berlari-lari dan bermain dengan kain sarung sehingga kami sering dimarahi orangtua. Dari sekian malam Ramdahan, maka malam yang paling ditunggu anak-anak adalah malam ke-27 (malam-malam lailatul qadar). Pada malam tersebut anak-anak di kawasan perumahan menyalakan puluhan batang lilin yang dipasang di atas pagar, di atas pohon, dan di teras rumah. Pemandangan di malam itu sungguh mempesona karena kita dapat melihat deretan lilin yang dipasang pada setiap rumah. Biasanya menjelang malam 27 kami anak-anak selalu bersilang pendapat kapan persisnya malam ke-27 tersebut. Ada yang mengatakan nanti malam, ada lagi yang mengatakan besok malam, sehingga kadang-kadang penyalaan lilin di malam 27 tidak selalu serentak. Untuk mengatasi perbedaan itu, kami anak-anak di kawasan perumahan menyepakati pada malam apa lilin dipasang sehingga kami anak-anak tetangga serentak merayakan malam ke-27.
Seperti anak-anak kecil umumnya, maka hari raya Idul Fitri adalah hari yang ditunggu-tunggu. Ibu biasanya membawa kami ke pasar untuk membeli bahan pakaian, lalu bahan tersebut dijahit sendiri di rumah. Dulu sangat jarang orang membeli baju yang sudah jadi, karena selain mahal belum tentu pas di badan. Seusai shalat Ied, kami anak-anak mulai bergerilya dari satu rumah ke rumah lainnya untuk bertamu. Di setiap rumah yang kami kunjungi bukan kue-kue yang kami harapkan, biasanya kue tersebut kami diamkan saja. Yang kami tunggu adalah pemberian uang receh dari pemilik rumah. Kegiatan ini di Padang dinamakan dengan "menambang". Pada siang hari kami menghitung uang yang dieproleh dari menambang sambil berlomba siapa yang mendapat uang tambangan terbanyak. Uang tersebut kami habiskan hari itu juga dengan makan-makan di pasar raya, membeli mainan, atau menonton bioskop.
Begitulah kenangan puasa kami pada masa kecil dahulu. Sekarang anak-anak saya tidak merasakan suasana seperti itu karena lingkungan rumah di Bandung yang berbeda dengan masa kecil dulu di Padang, disamping tradisi di sini yang juga berbeda.
Hari ini adalah hari kedua puasa Ramadhan. Hari pertama kemaren puasa jatuh pada hari ahad sehingga puasa dijalankan di rumah saja tanpa masalah. Kemaren pagi sampai siang suasana jalan di kompleks perumahan Antapani terlihat lengang. Tetapi, ketika hari beranjak petang suasana jalan terlihat sangat ramai, padat kendaraan, dan macet tentunya, terutama pada titik-titik penjualan makanan seperti Toserba Griya, penjual es buah, kolak, dan sebagainya. Suasana bulan Ramadhan memang melahirkan kekhasan tersendiri yang tidak ditemukan pada hari-hari biasa.
Berpuasa pada hari-hari dimana kita tetap bekerja dan kuliah di kampus mempunyai keuntungan tersendiri. Saya tidak perlu repot-repot lagi memikirkan harus makan siang apa, di mana, dan sebagainya (maklum, kantor tidak menyediakan makan siang, jadi kita harus cari makanan sendiri). Waktu rehat makan siang dapat diisi dengan kegiatan lain sehingga produktivitas kerja sebenarnya lebih meningkat dibanding hari biasa. Saya mengajar dan bekerja di depan komputer, jadi saya punya waktu lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan. Pada hari biasa di luar Ramadhan praktis waktu 1 jam itu dipakai untuk makan, santai-santai, sholat, dan sebagainya.
Suasana lain yang kita temui pada saat puasa di kampus adalah suasana yang tenang. Entah kenapa masing-masing orang seperti menahan diri untuk berteriak, tertawa keras, atau aktivitas yang menguras energi seperti olahraga di lapangan basket. Mungkin ini salah satu hikmah puasa Ramadhan, yaitu suasana yang damai.
Di bulan puasa, saya tidak begitu suka berjalan-jalan di tempat keramaian seperti mal dan plaza. Pasalnya, saya kurang sreg suka melihat begitu "kasat mata" orang-orang makan dan minum di restoran, kafe rumah makan, atau food court, yang ada di mal tersebut. Memang tidak semua orang berpuasa, saudara kita yang non-muslim tentu tetap melaksanakan aktivitas keseharian seperti makan dan minum. Kesalahan ada pada pengelola rumah makan dan restoran, mereka tidak menutup dengan sempurna kaca-kaca restoran mereka sehingga pemandangan orang yang makan dan minum dapat kita lihat dengan jelas dari luar. Kesannya seolah-olah bukan bulan puasa saja. Oleh karena itu, daripada melihat pemandangan "tidak nyaman" seperti itu lebih baik saya menghindar saja mengunjungi tempat keramaian di siang hari. Hitung-hitung menguatkan diri agar tidak tergoda.
Setiap kali berhenti di lampu merah, saya selalu melihat pemandangan yang mengiris hati. Pengemis dan pengamen berebut memanfaatkan waktu lampu merah menyala untuk mengharapkan belas kasihan dari pengguna jalan. Sereceh dua receh uang pecahan mereka kumpulkan dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam.
Kepada pengamen yang umumnya masih bocah itu saya kurang respek dan jarang memberi mereka uang. Mereka dimanfaatkan oleh orangtua mereka untuk mengemis dengan cara mengamen atau melap kaca mobil. Saya dapat melihat orangtua mereka menunggu di sudut jalan mengamati anak-anaknya mengamen, lalu menerima setoran. Jika anaknya hanya berhasil mengumpulkan sedikit uang, maka tidak jarang orangtua memarahi anak-anaknya itu. Sungguh tidak mendidik, kecil-kecil sudah diajari mengemis. Pemandangan yang hampir sama selalu saya lihat setiap menjelang shalat Jumat di Masjid Salman dimana jalan menuju masjid dipenuhi anak-anak dan orangtua mereka yang mengharapkan sedekah dari jamaah masjid.
Tetapi kepada pengemis yang suka berkeliaran di lampu merah, saya suka memberi mereka sedekah. Namun sebelumnya saya lihat dulu apakah mereka pura-pura mengemis padahal tubuh mereka kuat dan sehat. Menghadapi pengemis jenis ini sungguh dilematis, jika tidak diberi uang ada perasaan bersalah di dalam diri ini seolah-olah saya ini pelit, tetapi jika diberi uang berarti saya ikut menyuburkan sifat malas mereka. Kepada pengemis yang memang cacat fisik saya tidak berpikir panjang lagi, segera saya keluarkan sedikit uang buat mereka. Sungguh tidak tega saya melihat bapak-bapak yang lumpuh atau buta duduk di perempatan jalan mengharap belas kasihan.
Orang miskin, anak terlantar, gelandangan, dan pengemis sangat banyak di negeri ini. Mereka orang- orang yang terpinggirkan oleh kehidupan yang kejam. Seharusnya negara mengurusi mereka, karena salah satu pasal di dala UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin, anak terlantar, dan anak yatim dipelihara oleh negara. Kenyataannya sungguh beda. Negara ini tidak mampu memuliakan mereka (alasannya klasik: dana). Jika negara tidak mampu, maka tugas kitalah untuk membantu kalangan papa ini. Sesungguhnya kita harus berterima kasih dengan kehadiran mereka, karena mereka adalah ladang tempat kita beramal. Dari harta yang kita peroleh, maka di dalamnya terkandung hak untuk orang miskin. Jika hak itu tidak dikeluarkan, maka harta yang kita miliki tidak membawa berkah. Itulah makanya kita harus memperbanyak bersedekah. Tujuannya untuk membersihkan harta kita dari yang bukan hak kita, sekaligus membersihkan harta dari hal yang batil, karena mungkin saja tanpa kita sadari harta tersebut dperoleh dengan cara yang tidak halal. Mudah-mudahan hidup saya dan kita semua diberkahi leh Allah SWT.
Ketika berhenti di perempatan lampu merah, mata ini memandang papan iklan besar yang mencolok mata. Isinya mempromosikan acara pertunjukan di pantai Ancol Jakarta. Yang membuat saya tergelitik, semua tulisan di dalam iklan itu dalam Bahasa Inggris, tidak satupun ada kalimat di dalam Bahasa Indonesia. Misalnya "We proud to present a stage performance on fire... bla..bla..". Yang membuat saya tidak habis pikir, acaranya di Indonesia, artis pengisinya orang Indonesia, dan penontonnya juga (pasti) orang Indonesia juga. Tetapi kenapa harus dalam Bahasa Inggris? Mengapa tidak dalam Bahasa Indonesia? Membaca tulisan asing seperti itu seolah-olah kita sedang tidak berada di Indonesia, tetapi seperti di negara Eropa atau Amerika.
Kita juga menemukan banyak contoh kejanggalan ini, baik berupa iklan-iklan di media massa, ucapan selamat seperti "Congratulation" di media, spanduk-spanduk, pamflet, dan sebagainya, yang hampir sebagian besar ditulis dalam Bahasa Inggris. Padahal nyata bahwa sasarannya adalah orang Indonesia juga, bukan orang asing. Begitupun kita melihat nama-nama kompleks perumahan dalam Bahasa Inggris seperti Bandung View Resedence, Park of Royal, dan lain-lain. Pun nama-nama mal atau pertokoan seperti Bandung Electronic Center, Bandung Trade Center. Mengapa bukan Pusat Elektonika Bandung atau Pusat Perdagangan Bandung? Acara TV pun juga begitu, seperti Headline News, Today's Dialouge, mengapa bukan Berita Utama atau Dialog Hari Ini?, padahal nyata-nyata bahasa pengantar acara tersebut adalah Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. Bahkan mahasiswa kami di Informatika pun kalau membuat program aplikasi, maka semua menu dan tulisan di dalam antarmuka program menggunakan Bahasa Inggris, padahal program tersebut tidak dibuat untuk konsmsi pasar internasional, hanya tugas kuliah semata. Parahnya lagi, sering ditemui penggunaan Bahasa Inggris yang tidak betul dan menyalahi tata bahasa yang bersangkutan. Istana Plaza misalnya, jika dimaksudkan dalam Bahasa Inggris maka seharusnya Istana's Plaza, jika dalam Bahasa Indonesia juga salah, seharusnya Plaza Istana. Begitu juga kita temui papan nama usaha kalangan menengah ke bawah seperti Andy Cell, padahal seharusnya Andy's Cell. Tapi tampaknya publik tidak mempersoalan kesalahan itu, semuanya dianggap biasa-biasa saja.
Tidak, janganlah kalian menganggap saya anti Bahasa Inggris. Kita semua sepakat bahwa Bahasa Inggris tetap penting dan bahkan sangat perlu jika kita ingin menguasai IPTEKS. Hanya saya ingin menempatkan bahasa itu dalam konteks penggunaan yang tepat sesuai situasi dan kondisi. Kalau memang kita mendefinisikan sasaran pembaca atau pendengar adalah orang dari negeri kita sendiri, mengapa kita tidak menyatakannya dalam Bahasa Indonesia saja, mengapa harus dengan bahasa asing? Kalau bukan kita yang menggunakan bahasa negeri kita, siapa lagi? Apakah orang Vietnam atau Papua Nuigini yang kita harap sebagai pengguna Bahasa Indonesia?
Jika kita cari-cari penyebab Inggrisisasi semua hal-hal yang sepantasnya dalam Bahasa Indonesia, maka banyak faktor penyebabnya. Mulai dari sekadar latah atau ikut-ikutan, merasa lebih keren dalam Bahasa Inggris, dianggap lebih modern, lebih bergengsi, dan sebagainya. Tetapi, faktor yang paling dominan adalah perasaan inferior atau rendah diri yang menghinggapi bangsa kita. Rendah diri karena tidak percaya kepada kemampuan bahasa negeri sendiri sebagai bahasa pengantar. Rendah diri karena menganggap bahasa asing lebih tinggi kedudukannya daripada Bahasa Indonesia.
Perasaan rendah diri bangsa ini ternyata bukan masalah bahasa saja, tetapi hampir di segala bidang kehidupan. Sesuatu dari luar dianggap lebih modern, sementara sesuatu yang di dalam negeri dianggap kampungan, ketinggalan zaman, atau tidak berbudaya. "Sesuatu" itu bisa barang, prinsip hidup, isme, dan sebagainya. Seorang artis yang fotonya di sampul sebuah majalah pria nyaris tanpa busana pernah mengatakan bahwa orang-orang yang memprotes fotonya itu sebagai orang yang tidak mengerti seni, primitif, tidak berbudaya, dan kampungan. Dengan kata lain ia menyatakan bahwa prinsip hidupnya yang permisif itu sebagai modern dan berbudaya. Entahlah apakah artis itu juga mengatakan bahwa penduduk pedalaman hutan yang berbusana minim seperti koteka atau bercawat sebagai orang modern dan berbudaya.
Begitulah hidup kita ini, banyak pertarungan prinsip dan keyakinan ditengah gencarnya arus globalisasi yang dapat menggoyahkan rasa percaya diri kita terhadap hal-hal yang sudah kita pegang selama bertahun-tahun. Jika kita terus menerus dihinggapi rasa rendah diri, maka tunggu saja kita akan kehilangan identitas dan kehilangan jatidiri sebagai sebuah bangsa. Ketimbang rasa rendah diri lebih baik kita mempunyai sifat rendah hati. Rendah diri itu adalah sifat yang tidak terpuji, sedangkan rendah hati adalah sifat yang mulia.
Dulu saya sering beranggapan bahwa pengobatan melalui air oleh orang "pintar", kyai, tabib, atau ulama, adalah irasional dan terkesan menjurus perbuatan syirik. Kita sering membaca atau melihat di TV perihal pengobatan melalui terapi air, dimana seorang yang dianggap orang sholeh (ulama, atau kyia) meminta segelar air putih, lalu air putih tersebut dibacakan doa-doa, kemudian pasien diminta meminum air tersebut. Ada pasien yang langsungs embuh, atau sembuh dalam jangka waktu tidak lama, dan ada pula yang memerlukan proses penyembuhan lebih intens (disamping tentunya tidak tertutup juga biasa-biasa saja alias sakitnya tidak sembuh).
Tetapi, setelah membaca penemuan Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama mengenai perilaku air ( baca artikel ini), agaknya anggapan irasionalitas di atas mulai pudar. Sedikit banyaknya penyembuhan melalui air yang didoakan itu menemukan jawaban ilmiahnya lewat penelitian Dr. Masaru Emoto. Dari penelitian Emoto, ternyata air pun bisa "mendengar" permohonan kita. Jika kita mengucapkan kepada air kata-kata yang baik seperti doa, maka struktur molekul air memperlihatkan susunan kristal yang indah dan menakjubkan, tetapi jika kita mengucapkan kata-kata yang tidak baik, maka susunan kristalnya terlihat buruk dan tidak beraturan. Nalar kita sepakat bahwa hal-hal yang baik biasanya menghasilkan yang baik-baik pula, dan sesuatu yang buruk biasanya menghasilkan yang buruk pula. Itulah hukum alam.
Dalam hidup pun kita begitu. Jika kita berucap yang baik-baik kepada seseorang, maka orang lain akan membalas pula dengan ucapan baik. Jika kita menyakiti hati orang, maka sakit hati itu susah dihilangkan, kitalah yang menerima sikap tidak baik dari orang tersebut. Tampaknya, air di dalam tubuh manusia juga bereaksi setelah mendengar ucapan buruk, lalu efeknya sampai ke jantung, otak, hati, dan sebagainya. Ada korelasi hasil penelitian Masaru Emoto dengan sifat dan sikap pada diri seseorang dihubungkan dengan ucapan yang didengar dan dibicarakan.
Kembali pada air tadi. Di dalam Quran terdapat berpuluh-puluh ayat tentang air. Ternyata semua itu ada maksud-Nya, di dalam air tersingkap rahasia yang besar. Air tidak hanya sekadar benda mati, tetapi dia merekam pesan, menyembuhkan, dan entah berapa banyak lagi rahasia ajaib yang kelak ditemukan orang tentang air. Sayangnya kita masih sering lupa mensyukuri nikmat air dari ilahi.
Tanggal 16 Agustus 2006 merupakan tanggal yang bersejarah bagi saya dan beberapa mahasiswa Informatika (IF) Angkatan 1999 yang tersisa. Tanggal tersebut adalah batas terakhir waktu studi mahasiswa IF 1999 di ITB. Pada tanggal tersebut tepat sudah 7 tahun batas waktu maksimum mahasiswa IF 1999 di ITB. Pada tanggal itu juga berakhirlah amanah yang saya terima dari ITB sebagai Dosen Wali IF 1999 (dosen Wali IF 1999 ada dua orang, satu lagi Pak Afwarman). Seakan penutup klimaks, pada tanggal itu pula 3 orang mahasiswa IF 1999 menjalani sidang Tugas Akhir pada detik-detik terakhir dimana saya menjadi Dosen Penguji dari 2 orang di antaranya.
Marilah saya kembalikan putaran waktu pada bulan Agustus 1999. Seusai saya menyelesaikan studi S2, saya mendapat tugas sebagai Dosen Wali IF 1999. Dulu, saya kira menjadi Dosen wali itu hanya sebatas menandatangani form FRS setiap awal semester, atau menandatangani surat-surat yang berhubungan dengan urusan akademik mahasiswa. Pasalnya, sewaktu dulu saya menjadi mahasiswa IF ITB, Dosen Wali saya hanya melakukan hal seperti itu. Ternyata setelah saya sendiri menjadi Dosen Wali, tugas saya tidak hanya sebatas akademik (meskipun di dalam SK disebutkan sebagai Dosen Wali Akademik). Peran saya ternyata multidimensi juga. Saya tidak hanya mengurusi soal kademik saja, tetapi urusan non teknis pun mau tidak mau saya jalani. Misalnya ikut terlibat sebagai konselor dalam masalah pribadi mahasiswa, seperti perceraian ayah dan ibunya, masalah dengan pacar, masalah dengan teman, masalah keuangan, dan sebagainya. Mengurusi mahasiswa sakit sudah biasa, tetapi mengurusi masalah yang menyangkut agama juga pernah saya lakukan. Masalah pelik lainnya menyangkut hubungan antara mahasiswa Tugas Akhir dengan dosen Pembimbingnya. Jika terjadi miskomunikasi antara mahasiswa dengan dosen pembimbingnya sehingga sampai mengganggu pelaksanaan TA, maka saya jadi ketumpahan keluh kesah mahasiswa. Mau tidak mau saya sedikit berurusan dengan dosen pembimbing yang bersangkutan untuk mencairkan kebekuan. Tentu saja saya lakukan dengan hati-hati dan dengan cara yang baik, sebab berurusan dengan rekan kolega menurut saya sangat riskan kalau tidak dibilang nekat.
Sebagai Dosen Wali sering pula saya makan hati. Ini terjadi kalau ada di kelas-kelas kuliah dosen pengajar menyindir-nyindir mahasiswa, misalnya mengatakan mahasiswa pemalas, ujiannya jelek semua, dan sebagainya. Dalam beberapa rapat dosen kelemahan mahsiswa saya juga disebut-sebut. Sebagai dosen Wali tentu saja saya menjadi malu dengan semua ini sebab semua rekan-rekan kolega tentu akan mengarahkan pandangannya ke saya seakan-akan bertanya: kenapa begitu?
Pernah pada sebuah kuliah dasar di tingkat dua, seorang dosen senior memanggil saya untuk mempertanyakan kenapa hasil-hasil ujian mahasiswa 1999 anjlok semua. Dia heran dengan hasil-hasil tersebut sebab ia sudah mengajar dengan baik. Dia membandingkan mahasiswa 1999 dengan mahasiswa 1997 yang di kalangan dosen IF dikenal sebagai angkatan yang "payah", namun toh semua mahasiswa 1997 berhasil juga melalui fase kuliah tersebut dengan selamat. Tentu saja saya tersengat dengan ungkapan tersebut, terus terang saya sendiri juga tidak tahu penyebabnya, kan yang menjalani proses pendidikan adalah mahasiswa IF 1999, bukan saya, lha kenapa saya yang diinterogasi? Tapi saya sadar mungkin karena saya dosen wali jadi wajar saja dia bertaya kepada saya. Mulailah saya menganalisis apa kira-kira sebabnya. Beberapa orang mahasiswa IF 1999 saya panggil untuk mendapatkan another side story. Dari sana saya menyimpulkan bahwa mungkin sebabnya mahasiswa IF 1999 kurang erat sehingga tidak punya teman untuk berbagi. Mulailah saya membentuk kelompok persaudaraan dengan cara "mempersaudarakan" seorang mahasiswa dengan satu atau lebih mahasiswa lainnya. Tiap orang di dalam kelompok persaudaraan wajib memperhatikan teman di dalam kelompoknya (tanpa melupakan teman di keompok lain), tiap orang di dalam kelompok wajib saling membantu dalam masalah akademik (kecuali ujian tentunya). Jika ada teman yang kurang mengerti dengan materi kuliah, maka teman anggota kelompok lainnya datang untuk menjelaskan. Ini mungkin ide "gila", tetapi saya eksperimenkan dengan harapan mungkin hasilnya dapat lebih baik. Sayangnya saya tidak bisa memantau lagi kelompok persaudaraan ini, juga tidak bisa menyimpulkan apakah ada korelasinya dengan peningkatan prestasi akademik.
Namun yang jelas, 97 persen mahasiswa IF 1999 berhasil melampaui fase-fase sulit kuliah di ITB. Hanya 3 orang yang terpaksa mengundurkan diri (istilah halus untuk DO). Selebihnya sukses dan pada detik-detik terakhir 4 orang yang tersisa berhasil menyelesaikan semua kuliah.
Sekarang, semua mahasiswa kami sudah berhasil dalam karirnya. Mereka semua sudah dewasa. Sebagian dari mereka sudah menikah dan sudah memiliki anak (mengingatkan diri saya sudah bertambah tua karena sudah mempunyai "cucu"). Beberapa orang kadang-kadang datang ke sini menyempatkan diri untuk menengok, meminta rekomendasi, atau mengantar surat undangan menikah. Harapan saya hanya satu, semoga mereka menjadi manusia-manusia yang baik, berbudi, dan berguna bagi masyarakatnya.
Alkisah, pada malam final KDI (Kontes Dangdut Indonesia) 3 di TPI beberapa bulan lalu, seorang Bupati di Jawa Barat yang warganya menjadi finalis KDI, mencak-mencak kepada seluruh aparat di bawahnya karena persentase pengumpulan SMS finalis tersebut hanya berbeda tipis dengan saingannya dari Surabaya. Segera malam itu juga Bapak Bupati memerintahkan kepada para pejabat di daerahnya agar malam itu juga membeli nomor voucher baru untuk mendongkrak raihan suara via SMS buat finalis KDI dari daerah tersebut. Singkat cerita, finalis KDI ini memang mendapat juara 1. Sebagian besar berkat kerja keras Bupati dalam memobilisasi warganya dan para pejabat di dearhanya untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya. Tapi tahukah anda, berapa uang yang dikeluarkan sang Bupati untuk semua ini? Lebih dari 240 juta rupiah! Uang segitu banyak dihambur-hamburkan Bupati untuk mendongkrak popularitas seseorang yang belum tentu bermanfaat bagi seluruh warga di daerah tersebut. Andaikan uang 240 juta itu digunakan untuk membantu waga miskin di daerahnya, mungkin sudah ratusan orang miskin yang bisa sedikit banyak merasakan kebahagiaan. Tetapi demi gengsi daerah dan popularitas, uang segitu banyak "dibuang" begitu saja. Yang paling untung tentu finalis dangdut tersebut. Namanya makin meroket, rezekinya diyakini bakal melimpah. Yang buntung adalah para pengirim SMS yang sebagian besar tidak memperoleh apa-apa. Tragisnya lagi, setelah sang finalis meraih juara, tidak ada ucapan terima kasih yang ia sampaikan kepada Bupati daerahnya itu.
Begitulah, sejak telepon genggam (HP) mewabah di Indonesia, penggunaan SMS meningkat sangat tajam. Biaya pengiriman SMS yang murah membuat orang royal berkirim pesan setiap hari. Data statistik penggunaan telepon genggam menunjukkan bahwa fitur yang banyak digunakan oleh pemilik HP adalah SMS. Sebagian orang yang mempunyai naluri bisnis memanfaatkan peluang itu untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Berbagai acara televisi seperti realty show (KDI, Indonesian Idol, AFI, Pildacil, dll) yang mengandalkan penilaian dari pemirsa dibuat semenarik mungkin. Tidak ketinggalan berbagai kuis yang jawabannya sangat mudah (bahkan jawaban kuis sudah diberikan oleh presenter). Untuk menarik pemirsa, maka penyelenggara mengiming-imingi dengan sejumlah hadiah mulai dari uang sampai sepeda motor. Jargonnya: semakin banyak anda mengirim SMS, semakin besar peluang anda untuk meraih hadiah. Atau, kirim SMS anda sebanyak-banyaknya, agar idola anda tidak tersingkir. Biaya SMS tidak murah juga, mulai dari tarif normal (Rp 300) sampai yang premium (Rp 2000/SMS). Berbagai strategi pun digelar untuk meraih SMS sebanyak-banyaknya, mulai mobilisasi massa seperti cerita sang Bupati di atas, nonton bareng, dan promosi ke berbagai media.
Marilah kita berhitung-hitung. Andaikan sebuah acara royalty show mendapat kiriman SMS sebanyak 5 juta SMS (faktanya mungkin lebih), maka total uang yang diraih penyelenggara (dengan asumsi tarif normal) adalah 5 juta x Rp 300 = Rp 1,5 milyar. Nilai uang yang sangat besar dan menggiurkan. Pantas saja banyak pihak yang berlomba-lomba membuat kuis berbasis SMS. Siapa pihak yang paling diuntungkan dari kuis SMS ini? Tentu saja operator seluler dan stasiun televisi yang menyiarkan acara. Pemirsa yang berpartisipasi sebagian besar tidak menyadari "kebodohan" mereka. Memang mengirim satu atau dua SMS ke kuis semacam itu tidak berpengaruh bagi pulsa mereka, tetapi jika dikalikan dengan sekian juta orang, maka keuntungan yang diraih penyelanggara sangat besar. Pengirim SMS tidak mendapat apa-apa dari kuis tersebut. Hadiah yang dijanjikan hanya untuk beberapa orang saja, tidak sebanding dengan jumlah pengirim SMS.
Inilah kapitalisme baru yang membuat konsumtif sebagian orang. Ada cerita yang mirip dengan sang Bupati di atas. Salah satu orangtua kontestan Pildacil di Lativi shock ketika anaknya tereliminasi dari acara. Mereka shock tidak semata karena anaknya kalah, tetapi shock karena mereka sudah mengeluarkan uang puluhan juta untuk membeli vocher. Uang sebanyak itu diperoleh dengan menguras tabungan, menjual harta-benda, dan meminjam kanan-kiri. Ia bingung bagaimana harus membayar semua utang-utang itu. Bukannya popularitas yang mereka raih, malah kebangkrutan yang menunggu.
Yang lebih memprihatinkan lagi, iming-iming hadiah dari kuis SMS ini dapat dikategorikan sebagai judi gaya baru. Kuis SMS tersebut tidak beda dengan judi konvensional hanya formatnya lebih canggih. Jika pada judi konvensional, orang membeli kupon lalu memasang kupon tersebut dengan harapan mendapat hadiah besar. Pada kuis SMS, kupon digantikan oleh pulsa, dan orang yang mengirim pulsa berharap mendapat durian runtuh. Pada judi konvensional, semakin banyak memasang kupon, semakin besar mendapat hadiah. Maka pada kuis SMS, semakin banyak anda mengirim SMS, semakin besar anda mendapat hadiah. Untuk kedua macam judi ini, tentu pemenang diundi dari ribuan bahkan jutaan kupon (pulsa) yang masuk. Majelis Ulama Indonesia sudah mengharamkan kuis SMS ini bila hadiah kuis diperoleh dari pulsa SMS yang terkumpul. Tetapi jika hadiah disediakan oleh sponsor tidak dikategorikan judi. Masalahnya apakah orang-orang saat ini masih mempedulikan fatwa MUI ini? Fatwa ulama saja tidak diacuhkan apalagi Firman Tuhan di dalam Kitab Suci? Yang terjadi adalah seperti anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Kuis SMS tetap bertebaran di berbagai media, jutaan orang tetap dirayu agar mengirim SMS. Beginilah situasi dunia fana saat ini. Orang-orang dilenakan dengan materialisme dan popularisme semu.
14 Juli 2006: Kemiskinan Struktural Sepanjang MasaSetiap kali saya ke Jakarta dengan kereta api, saya selalu melihat orang itu lagi di stasiun kelas 2, Jatinegara. Dia pedangan pedagang kaki lima yang mangkal di emperan stasiun kereta api. Dagangannya hanyalah sebuah kardus kecil yang berisi beberapa bungkus tisu, dua atau tiga buah gelas air mineral, beberapa bungkus rokok, permen polo, dan minuman suplemen. Tampaknya setiap hari dia menunggui dagangan tidak seberapa itu sembari berharap ada satu dua orang yang lewat untuk membelinya. Tidak jauh dari dirinya ada pedagang yang menjual buah salak di dalam kardus kecil. Mereka inilah yang setiap kali saya temui ketika KA Parahyangan berhenti sejenak di Jatinegara sebelum melanjutkan kembali ke stasiun Gambir. Entah sudah berapa tahun saya selalu melihat mereka di stasiun tersebut. Kalau dihitung-hitung berapalah keuntungan berjualan barang-barang semacam itu, mungkin tidak akan cukup untuk biaya hidup di Jakarta. Belum lagi jika ada anak istri yang harus dihidupi.
Pemandangan serupa kita lihat sehari-hari, rakyat kecil yang bekerja keras membanting tulang mencari kehidupan. Mulai dari pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang keliling, buruh-buruh di pabrik, sampai petani dan nelayan. Di depan rumah saya setiap hari ada saja orang yang lalu lalang berjalan kaki menawarkan jasa reparasi jam, dari satu kampung ke kampung lain dia berjalan dibawah sengatan matahari menawarkan jasa. Tentu tidak setiap hari jam tangan orang rusak, tentu tidak setiap hari pula dia beruntung. Ada pula pedagang yang memanggul beberapa buah tangga dari bambu menawarkan dagagangannya. Tidak terbayang sakitnya bahu dia yang memikul beberapa buah tangga yang berat-berat berkeliling kampung.
Mereka telah bekerja keras dengan cucur keringat untuk mendapatkan uang. Tiap hari mereka bekerja seperti itu, dari tahun ke tahun. Sekeras apapun mereka berusaha, uang yang didapat hanya segitu-gitu saja. Mereka tetap saja miskin. Inilah yang dinamakan dengan kemiskinan struktural. Mereka miskin bukan karena mereka malas, tetapi mereka tidak berdaya untuk mengubah nasib. Peluang tidak ada, kesempatan tidak punya. Jargon yang pernah populer adalah "jangan berikan ikan, tapi berikan kailnya". Masalahnya, jikapun ada kail tetapi kolamnya tidak ada bagaimana bisa memancing? Sistemlah yang membuat mereka tetap miskin. Sistem yang tidak adil. Mau pinjam modal di bank sangat sulit, lagipula tidak ada barang yang bisa dijadikan agunan. Sementara di sisi lain para pengusaha dan konglomerat begitu mudah memperoleh pinjaman di bank dengan persyaratan yang mudah (meskipun banyak dari kredit mereka yang seret, malah Pemerintah malah melakukan pemutihan). Para nelayan seharusnya bisa kaya karena laut negara kita berlimpah dengan ikan, gratis lagi. Tetapi mereka kalah dengan tengkulak yang membeli ikan mereka dengan murah, sementara di sisi lain mereka dijerat utang oleh para rentenir. Kapal mereka kalah pula dengan pukat harimau yang mampu meraup ikan dalam jumlah banyak.
Selama sistem keadilan tidak berubah, mereka - para orang kecil itu - akan tetap miskin sepanjang masa. Parahnya lagi Pemerintah negara ini tampaknya tidak berpihak pada rakyat kecil. Kemiskinan tampaknya terus dipelihara karena isu kemiskinan dapat dijadikan komoditas politik untuk meraih simpati massa yang akhirnya menjadi modal untuk meraih kekuasaan (ingat jargon "wong cilik" untuk meraih simpati massa memilih PDIP).
Kereta api meninggalkan stasiun Jatinegara menuju stasiun Gambir. Pedagang tisu di emperan stasiun itu tidak terlihat lagi. Mungkin beberapa tahun lagi kalau saya lewat di sana masih bertemu mereka yang duduk melamun menunggui seonggok dagangannya yang belum laku-laku juga.
Minggu lalu saya kedatangan lagi mantan mahasiswa yang membuat saya menaruh rasa kasihan dengan masalah yang menerpanya saat ini. Entah karena stres, entah karena "guna-guna" wanita sewaktu kerja di Kalimantan, ia akhirnya jadi begini: terganggu kejiwaannnya. Omongan dan tulisannya ngelantur, kacau, dan tidak runtun. Dulu saya adalah dosen Pembimbing Tugas Akhir mahasiswa ini, mungkin karena itu pula setiap kali dia datang ke ITB, dia selalu menemui saya. Kadang dia tampak sehat, tapi tidak jarang pula terlihat "kacau". Sungguh saya sangat kasihan kepadanya, dulunya dia tidak begitu. Dulu dia adalah mahasiswa yang rajin, cukup cerdas, dan banyak bergaul. Tapi sekarang.... sepertinya dia sudah "hilang". Saya tidak tahu bagaimana mengembalikan lagi jiwanya yang "hilang" itu. Apakah ada "orang pintar" yang bisa membantu menyembuhkannya? Semoga Allah SWT mengembalikan jiwanya yang "hilang" dengan mencabut pengaruh bisikan jahat yang menyebabkan dia kehilangan kesehatan ruhani.
Banyak yang saya alami dari mahasiswa-mahasiswa yang pernah saya didik di kampus ini. Setelah mereka lulus saya banyakmendengar kabar yang membahagiakan tentang kesuksesan yang mereka raih. Tapi beberapa orang memiliki kisah tragis dan memilukan seperti salah satu mahasiswa yang saya ceritakan di atas. Biarpun mereka sama-sama kuliah di ITB, tapi peruntungan nasib mereka setelah lulus dari ITB tidak sama. Jalan hidup memang sudah digariskan oleh Allah SWT. Hanya Dia-lah yang tahu kemana anak manusia melangkahkan kaki di dunia yang fana ini dan dimana manusia melabuhkan pelayaran hidupnya.
Mahasiswa saya datang dan pergi setiap tahun, silih berganti. Menghadapi mereka merupakan pekerjaan yang menantang. Mereka adalah anak-anak muda yang akan menjadi dewasa. Saya sangat beruntung memiliki mahasiswa yang cerdas. Tidak susah mengajar dan mendidik mereka menjadi orang yang bisa mengerti. Tidak susah juga mendidik mereka menajdi orang yang baik.
Bekerja di kampus adalah berurusan dengan banyak pribadi. Yang dihadapi adalah makhluk hidup yang masing-masing punyak sifat berbeda. Maka tidak heran banyak kejadian dan peristiwa yang terekam dalam memori saya tentang para mahasiswa saya, baik kejadian yang menyenangkan, kejadian yang membuat prihatin, maupun kejadian ekstrim yang sangat menentukan "hidup-matinya" status kemahasiswaannya di ITB. Dan setelah kejadian tersebut berakhir, yang tersisa di dalam diri ini adalah rasa lega karena saya dan mereka telah melalui masa-masa yang sangat sulit.
Itulah sekelumit romantika kehidupan saya menjadi seorang pendidik di ITB. Biarlah semua cerita kehidupan di kampus menjadi memori pribadi yang mungkin suatu saat nanti terkenang kembali bila saya bertemu mereka setelah mereka memasuki kehidupan dunia nyata. Bagi saya cukuplah mereka menjadi orang-orang yang baik, orang-orang yang berguna bagi lingkungannya, tidak harus menjadi orang terkenal dan kaya.
Minggu lalu, 17 Juni 2006, saya sempat ke Yogyakarta untuk mempresentasikan makalah di seminar yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia di sana (lihat website seminar di http://snati.informatika.web.id). Panitia seminar hampir saja gamang untuk memutuskan apakah seminar tersebut diteruskan, ditunda, atau dibatalkan. Wajar saja, musibah gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu masih menyisakan trauma bagi warga Yogyakarta, maupun pengunjung kota Yogyakarta (catat lho: "Yogya", bukan "Jogja" ataupun "Djogdja").
Sayang sekali saya tidak sempat melihat kondisi Kabupaten Bantul yang merupakan daerah paling parah dilanda gempa dan dengan korban tewas paling banyak. Saya hanya sempat melihat kerusakan beberapa rumah dan gedung di dalam kota Yogyakarta. Sempat juga dari jauh saya melihat lelehan lava yang keluar dari puncak gunung Merapi.
Secara umum, situasi di kota Yogyakarta saat ini terlihat hidup kembali. Jalan-jalan tampak ramai, begitu juga kawasan Malioboro yang malam itu saya kunjungi (sambil menunggu KA Lodaya berangkat) tampak sangat ramai, seolah-olah tidak ada kejadian besar yang telah melanda kota ini. Tampaknya warga kota sudah mulai melupakan trauma kejadian gempa hebat tersebut dengan beraktivitas secara normal.
Belum usai kesedihan karena gempa bumi, kawasan Yogyakarta dan dan Jawa Tengah menghadapi bencana alam baru, yaitu letusan gunung Merapi. Sampai saat ini aktivitas Gunung merapi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan, malah semakin lama semakin membahayakan. Lava dan awan panas keluar setiap waktu. Tidak ada kepastian kapan aktivitas Merapi ini berhenti. Jika di selatan Yogya dilanda gempa, maka di utara dilanda letusan Merapi.
Sebagai orang yang beriman tentu kita berpikir bahwa bencana alam ini mungkin saja ujian dari Tuhan atau mungkin juga azab karena manusia sudah banyak yang kufur terhadap nikmat Allah. Kemaksiatan mudah ditemukan di mana-mana, batas antara yang halal dan haram semakin kabur. Kitab suci Alquran menyatakan bahwa musibah yang menimpa manusia disebabkan oleh dosa-dosa manusia. Banyak bukti di dalam kitab suci yang menyatakan hal tersebut, misanya Kota Sodom, kota tempat diutusnya Nabi Luth a.s, dibalikkan oleh Allah SWT karena penduduknya melakukan homoseksual. Begitu juga kaum Nabi Nuh a.s dilanda banjir bah besar karena kaumnya durhaka kepada Allah SWT. Pertanyaan yang masih menggelayut di benak sebagian orang adalah: mengapa harus Yogya? Mengapa bukan Jakarta? Padahal kemaksiatan, korupsi, dan kejahatan lainnya paling banyak terjadi di Jakarta. Tentu hal ini merupakan rahasia Allah SWT. Kita hanya bisa menduga-duga saja kesalahan apa yang dilakukan oleh manusia sehingga Allah SWT mengirimkan musibah alam kepada kita.
Mungkin saja di Yogyakarta tidak terlalu banyak terdapat kemaksiatan, tetapi yang paling anyak adalah kegiatan yang mempersekutukan Allah SWT. Dengan kata lain kegiatan syirik, seperti larungan sesaji di laut selatan untuk Nyai Roro Kidul, labuhan sesaji ke kawah Gunung Merapi, kepercayaan kepada benda-benda seperti keris, gamelan, pakaian raja, dan sebagainya. Begitu juga budaya kraton yang banyak mengandung unsur sinkretisme. Pada gempa 27 Mei yang lalu, keraton Yogya rusak, termasuk makam Imogiri yang dikeramatkan, dan benda-benda pusaka yang selama ini disembah tidak menunjukkan kesaktiannya, sama saja seperti benda-benda lain yang rusak dan hancur dilanda gempa.
Sayangnya, ketika gempa dan gunung Merapi meletus, masih saja orang mengaitkannya dengan hal-hal tahayul yang berbau syirik. Misalnya menyatakan bahwa gempa disebabkan Nyi Roro Kidul marah karena perhatian semua orang waktu itu (sebelum gempa) hanya tertuju pada Gunung Merapi. Begitu juga ketika Gunung Merapi meletus, banyak orang yang lebih meyakini Mbah Maridjan ketimbang Tuhan. Nyatanya, gunung Merapi tetap saja mengeluarkan isi perutnya, tidak peduli penduduk memasang sarang yang terbuat dari daun kelapa di pintu-pintu rumah. Laharnya tanpa ampun menghantam desa tempat Mbah Maridjan berada.
Demikianlah, semoga kejadian-kejadian musibah yang menimpa kita menjadikan ibrah (pelajaran) buat kita. Bukti-bukti nyata dari bencana alam ini seharusnya membuat kita untuk lebih mendekatkan kepada Allah SWT, bukannya mempercayai hal-hal klenik dan tahayul yang justru menjurus kepada perbuatan syirik. Hanya kepada Allah lah kita bermohon dan berlindung, bukan melalui perantara benda-benda atau "makhluk" yang tidak jelas apakah ada atau tidak. Hanya kepada Allah SWT pula kita kembali.
Paling sedikit satu kali dalam sebulan saya selalu mendatangi panti pijat tuna netra "Wiyata Guna" di jalan Pajajaran, Bandung. Ini adalah panti pijat yang berada di bawah Departemen Sosial. Pokoknya kalau badan saya sudah terasa egal-pegal, saya pergi ke sana untuk dipijat oleh pemijat tuna netra. Setelah dipijat badan terasa segar dan lebih bersemangat. Apalagi saya jarang melakukan olahraga, sehingga untuk memperlancar peredaran darah saya pergi ke panti ini.
Saya merasa lebih nyaman kalau dipijat oleh tuna netra, disamping bisa membantu mereka dengan penghasilan dari memijat, juga secara islami saya merasa cocok karena mereka tidak bisa melihat aurat kita kala dipijat (aurat laki-laki adalah dari pusar hingga mata lutut). Pria dipijat oleh pemijat pria, sementara wanita dipijat oleh pemijat wanita juga. Jadi, kita terhindar dari hal-hal maksiat. Pemijat tuna netra ini adalah lulusan sekolah pijat yang dibina oleh Depsos. Teknik pijatannya bagus dan terampil, mereka tahu simpul-simpul saraf yang mesti dipijat, seberapa tekanan tangan yang diperlukan, dan sebagainya, tentu saja mereka tahu hal semacam ini karena mereka juga belajar anatomi manusia.
Bagi kalangan tuna netra, masa depan mungkin terlihat begitu suram. Tapi kalau mereka punya keahlian, mereka mampu untuk bertahan hidup. Banyak orang tuna netra yang berprofesi sebagai pemijat. Di Wiyata Guna ini contohnya. Sambil dipijat, saya sering menanyakan kehidupan mereka. Sungguh saya kagum dengan semangat hidup mereka. Dengan tertatih-tatih, mereka berjuang mencari nafkah dengan cara halal, pantang bagi mereka untuk mengemis. Satu jam pijat di sana tarifnya Rp 18.000, 60% adalah hak mereka, sementara 40% disetor ke panti. Jika sehari mereka memijat 2 sampai 3 orang, maka setidaknya sebulan mereka punya penghasilan mencapai satu juta lebih. Kadang-kadang mereka juga menerima panggilan pijat di rumah atau di hotel yang tarifnya tentu lebih besar. Tidak jarang di rumah kontrakan mereka juga melayani jasa pijat. Ya, kebanyakan pemijat di Wiayata Guna hidup mengontrak kamar atau rumah di sekitar jalan Pajajaran. Bahkan mereka juga membawa istri dan anak-anak mereka dari kampung asal. Istri mereka umumnya tuna netra juga, tetapi anak-anak mereka normal.
Kebanyakan mereka buta karena mendapat sakit panas waktu kecil. Jadi, sebelumnya mereka sudah pernah melihat isi dunia ini, tapi karena demam tinggi dan tidak punya uang untuk berobat, maka matalah yang terkena efeknya. Kaum tuna netra ini punya indera keenam yang lebih tajam daripada manusia normal. Mereka bisa berjalan jauh karena dituntun oleh perasaan mereka. Ada pemijat yang berasal dari Jambi. Ia bercerita pernah naik pesawat dari Jakarta ke Jambi untuk melihat anaknya. Bayangkan jalan yang harus ia tempuh, mulai dari rumah kontrakan, lalu ke terminal bus, kemudian ke bandara. Berikutnya naik pesawat, kemudian naik bus ke daerah pedalaman Jambi, lalu kembali lagi ke Bandung. Tentu saja banyak orang yang bersimpati kepada kaum tuna netra ini dengan cara membantu mereka menunjukkan arah jika berjalan jauh.
Allah SWT memang Maha Adil. Meski mereka diberi kekurangan, tapi Allah juga tidak membiarkan ummat-Nya hidup menderita. Asal bekerja halal dan mau bekerja keras, maka setiap orang, siapapun ia, dapat hidup dengan layak. Jika kita yang berpenglihatan normal saja masih suka berkeluh kesah dalam mencari kehidupan, mereka kaum tuna netra tetap tabah menjalani hidup dengan keterbatasan yang mereka miliki.
Faras (6), Najib (4), dan Umar( 9 bulan), itu adalah nama tiga bocah kecil yang tewas dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri (demikian sementara pengakuan ibu mereka, Anik, seorang alumnus Planologi ITB Angkatan 1993 yang suaminya, Iman, juga alumni Fisika ITB Angkatan 1993) dengan cara dibekap dengan bantal secara beruntun. Inilah kejadian yang menggemparkan masayarakat Bandung pada tanggal 8 dan 9 Juni 2006 yang lalu.
Saya tidak hendak menceritakan peristiwa itu di sini. Sungguh, saya tidak dapat menahan perasaaan yang terguncang setiap kali membaca berita kronologis kejadian pembunuhan ini. Saya sendiri masih berada antara percaya dan tidak percaya dengan kejadian ini. Bayangkan, ibu bapak anak-anak itu tampaknya adalah orang-orang yang shaleh. Sang Bapak adalah pengurus Masjid Salman, sang ibu adalah seorang muslimah shaleh yang seperti dia katakan di koran PR bahwa dia sangat menyayangi anak-anaknya itu. (lihat: AKS Mengaku Membunuh Anak Karena Sayang). Sampai hari ini saya tidak pernah bisa mengerti alasan apa gerangan sehingga Anik tega menghabisi nyawa ketiga anak kandungnya sendiri. Tiap kali mengingat peritiwa yang mengenaskan ini, saya mau menangis.
Faras, Najib, dan Umar, mungkin kalian saat ini sudah berada di surga. Entahlah, apakah kalian masih teringat dengan ibundamu di dunia yang saat ini dirundung sesal yang mendalam? Atau ayah kalian yang sudah terkuras air matanya karena kepedihan yang dialaminya. Kalian, buah hati ayahanda, yang selalu memberinya semangat hidup setiap hari, pergi dalam waktu hampir bersamaan.
Faras, Najib, dan Umar mengingatkan saya pada anak-anak saya di rumah yang usianya juga hampir sebaya. Anak-anak saya, bocah-bocah laki-laki yang selalu riang, yang setiap sore selalu menunggu ayahnya pulang di depan pintu. Setiap kali mengingat kejadian ini, saya peluk anak saya. Merekalah buah hati yang dititipkan oleh Allah SWT untuk dibesarkan dan dididik dengan kasih sayang. Terkadang, setiap anak saya tidur, saya sering mengamati wajah-wajah mereka yang polos dan tanpa dosa. Allah SWT menganugerahi saya anak-anak dengan kelebihan dan kekurangannya. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga.
Faras, Najib, dan Umar mungkin sedang riang berlari-lari dan bermain di taman surga. Bagi kalian, mungkin cerita sudah selesai. Tapi tidak dengan ibu dan ayah kalian. Semoga Allah SWT memberi kemudahan jalan untuk menerima taubat dari ibunda kalian. Semoga Allah SWT mempertemukan kalian kembali dengan ibunda dan ayahanda kalian di akhirat kelak.
Piala Dunia 2006 di Jerman memang luar biasa. Luar biasa karena begitu banyak mempengaruhi sendi kehidupan manusia sejagat, kecuali di Amerika Serikat tentunya (karena sepakbola tidak populer di sana). Maklum, sepakbola adalah olahraga paling populer, apalagi Piala Dunia menyajikan pertandingan sepal bola yang bermutu tinggi (bukan seperti pertandingan bola di Indonesia, yang berantem melulu). Mulai dari Kepala Negara sampai rakyat jelata ikut sibuk dengan kompetisi satu ini. Karena Piala Dunia, orang rela begadang malam untuk menonton siaran pertandingan di TV. Koran-koran di Indonesia pun menjadikan hasil pertandingan setiap malam sebagai headline, mengalahkan berita soal bencana alam, kasus Suharto, dan lain-lainnya. Ketika saya berkunjung ke Manado bulan lalu, aura Piala Dunia sudah terasa. Warga berbagai kampung mengibarkan bendera negara peserta Piala Dunia yang menjadi favoritnya (padahal, mengibarkan bendera negara lain dapat dianggap sebagai perbuatan subversif). Di negara-negara lain, kaum pejuang dan pemberontak mengadakan gencatan senjata selama Piala Dunia. Sementara di negara-negara miskin seperti di Afrika, di mana siaran piala dunia hanya bisa dinikmati lewat TV kabel atau TV satelit, warganya rela mengeluarkan uang untuk mebeli decoder atau berlangganan. Bahkan di Yordania, raja Yordan membeli puluhan layar TV raksasa agar pertandingan dapat disaksikan warganya yang tidak mampu berlangganan TV kabel.
Di Indonesia, fenomena nonton bareng Piala Dunia mulai mewabah sejak Piala Dunia di Korea-Jepanag tahun 2002 yang lalu. Mulai nonton bareng di tempat mewah seperti hotel dan kafe, di gelanggang olah raga, sampai nonton bareng di pinggir-pinggir jalan. Ya, untuk yang terakhir ini, penyedia 'layanan' nonton bareng adalah warung-warung tenda atau kios-kios dorong yang menyediakan TV. Penontonnya adalah mang-mang becak, para pekerja yang pulang malam, warga sekitar warung, atau siapapun yang kebetulan lewat atau singgah di warung tersebut sekedar minum kopi atau makan gorengan.
Orang-orang yang tidak suka bola, seperti saya ini, akhirnya ikut-kutan menonton siaran Piala Dunia. Minimal mendukung kesebelasan negara yang secara emosional ikut bertanding. Mengapa? Karena negara-negara peseta Piala Dunia juga mewakili emosi kita. Misal, ketika Tim Arab Saudi bertanding, para santri dan kalangan ulama medoakan agar tim Saudi menang. Bila yang bertanding adalah negara dunia ketiga (seperti negara Afrika) melawan negara di Eropa, orang memandangnya sebagai pertarungan negara miskin dengan negara maju, dan secara emosional banyak orang yang berharap negara miskin tersebut memenangkan pertandingan untuk menunjukkan bahwa kedigdayaan negara maju (baca: Barat) dapat dikalahkan oleh negara dunia ketiga. Jadi, sepakbola di Piala Dunia mewakili perasaan setiap orang, dan soal rasa memang sah-sah saja. Namanya juga kita penonton, bukan pemain, tentu boleh berpandangan apa saja.
Lalu, mengapa banyak orang begitu terpengaruh dengan Piala Dunia ini? Selain alasan emosional seperti yang dikemukakan di atas, ada penyebab lain. Piala Dunia dapat dijadikan ajang untuk sejenak melupakan kepenatan hidup. Hidup sehari-hari sudah demikian sulit. Sepanjang siang orang-orang bergulat mencari kehidupan. Belum lagi problematika hidup yang membuat stres dan pusing tujuh keliling, terutama yang mendera rakyat kecil. Mereka yang hidup di pemukiman kumuh sering cemas karena terancam digusur, para pedagang kaki lima yang resah karena sering kena palak oleh preman - belum lagi dikejar-kejar oleh aparat Satpol - ibu-ibu yang mengeluh karena harga-harga naik terus, dan sebagainya. Nah, malam hari dengan menonton Piala Dunia di TV, mereka bisa melupakan sejenak problematika hidup, sebelum keesokan harinya berhadapan lagi dengan masalah serupa. Ya, Piala Dunia dianggap sebagai hiburan untuk menetralisir kejadian di siang hari, karena emosi yang terbendung pada siang hari tumpah keluar pada malam hari ketika menyaksikan pertandingan bola. Tidak apalah selama sebulan begadang, yang penting happy, demikian kira-kira suara rakyat ini.
Minggu lalu saya ke kota Manado, Sulawesi Utara. Ada pekerjaan membimbing Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika sebuah PTS di sana. Selama ini bimbingannya melalui internet (e-mail, chatting, dan telpon genggam), namun di tengah semester saya diundang ke Manado untuk bertemu langsung dengan mahasiswanya.
Manado adalah kota yang majemuk. Di sana hidup berbagai suku dan agama. Suku yang dominan adalah Manado/Minahasa, Gorontalo, Sangir Talaud, dan Bolaang Mangondouw, disamping itu ada suku pendatang dari Jawa dan Bugis/Makassar. Ada dua agama besar yang dianut penduduk kota ini, yaitu Kristen (mayoritas) dan Islam. Kalau di Jawa kita biasa menemukan mesjid atau mushala di mana-mana, maka di Manado kita menemukan sebaliknya. Setiap 100 meter ada gereja. Penduduk kota ini sangat taat beragama. Minggu pagi kota Manado lengang, sebagian besar penduduk pergi ke gereja. Anda akan sulit mencari koran pada hari minggu, karena koran lokal tidak terbit pada hari tersebut. Masjid juga ada di sela-sela pemukiman penduduk, meskipun tidak sebanyak gereja. Ada sekira 20% penduduk kota ini beragama Islam.
Meskipun plural, namun suasana kehidupan yang saya tangkap di kota ini sangat harmonis, rukun, dan penuh toleransi. Waktu saya sampai ke kota ini malam hari (penerbangan dari Jakarta menempuh waktu 3 jam ke Manado), di lapangan Tikala - di pusat kota Manado - malam itu ada acara kebaktian yang dihadiri ribuan jemaat. Besoknya, di lapangan itu dilangsungkan pembukaan MTQ Tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Seusai pembukaan, para peserta MTQ melakukan pawai taatuf (perkenalan) dengan berkeliling kota. Semua peritiwa keagamaan ini mengalir begitu saja, lumrah. Mungkin sudah biasa bagi warga kota ini hidup berdampingan dengan orang yang berbeda-beda. Sayapun tidak sulit melaksanakan shalat di sela-sela kegiatan saya di sana. Bahkan ketika makanpun, mereka tanya dulu saya mau makan apa, karena kita harus hati-hati makan di kota ini, karena cukup banyak yang tidak halal. Ketika di hotel saya menanyakan ke pramusaji apakah makanan di restoran ini halal bagi saya yang muslim, dengan tersenyum ramah pramusaji tadi mengataka iya, halal.
Seperti Manado, bangsa Indonesia, juga adalah bangsa yang majemuk. Beragam suku dan agama ada di sini. Pluralitas bangsa Indonesia adalah kenyataan yang tidak bisa kita bantah. Hal ini semua merupakan ketentuan Allah SWT yang dalam istilah Islam dinamakan: sunnatullah. Allah sendiri mengatakan di dalam sebuah ayat Alquran bahwa Dia menciptakan manusia ini bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Indah sekali bunyi ayat ini, kita diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling memusuhi. Begitupun dalam soal agama, kalau Allah menghendaki, semua manusia bisa dibuat-Nya beriman, namun itu tidak dilakukan-Nya. Tentu ada maksud-Nya, wallahu alam.
Pluralitas yang ada di sekeliling kita, disamping merupakan aset bisa juga potensi enimbulkan konflik. Banyak kerusuhan berlatar belakang etnik maupun agama sudah terjadi di Indonesia. Ini aneh, sebab pada zaman dulu tidak terjadi kasus-kasus semacam ini. Penyebabnya mungkin karena faktor gesekan. Dulu, interaksi antar etnik, budaya, dan agama tidak sebanyak sekarang. Sekarang, percampuran kultural sudah tidak terbendung lagi. Masalahnya, percampuran kultural ini tidak dibarengi dengan pendidikan untuk saling harga menghargai satu sama lain. Menurut saya, inilah faktor yang menyebabkan terjadinya perpecahan masyarakat. Seandainya setiap orang bisa bertenggang rasa untuk menjaga harmoni, tentu tidak akan muncul kerusuhan. Parahnya, masih ada orang yang meniup-niup perbedaan yang ada untuk menimbulkan kerusuhan. Kasus Poso misalnya, penyebabnya diduga ada calon bupati dari agama tertentu yang kalah dalam pilkada, lalu menghembuskan sentimen ras dan agama untuk menutupi kekalahannya. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa jadi terpancing, selanjutnya terjadilah pembunuhan besar-besaran antar sesama warga yang berbeda agama.
Demikianlah, kita seharusnya menjaga pluralitas baik-baik. Jangan kita campurkan pluralitas menjadi satu, karena pencampuran tersebut dapat menimbulkan masalah baru. Di dalam surat Al Kaafirun, Allah mengatakan "Bagimu agamamu, bagiku agamaku". Artinya, biarlah masing-masing kita meyakini keyakinan masing-masing, tidak perlu pula kita mempersoakannya. Yang harus kita pelihara adalah tenggang rasa dan hormat menghormati. Jika ini berhasil, maka kehidupan akan berjalan dengan sendirinya.
30 Mei 2006: Bencana Alam dan Empati KitaBangsa ini tidak henti-hentinya dilanda bencana. Belum kering air mata kita karena gempa dan tsunami di Aceh yang menewaskan 200 ribu orang lebih pada akhir tahun 2004, lalu gempa besar di Nias tahun 2005, dan terakhir tanggal 27 Mei ini Bantul, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Tengah ditimpa gempa bumi yang dahsyat. Sudah 5000 orang lebih dinyatakan tewas dan kemungkinan besar akan bertambah.
Bencana alam selalu menimbulkan kepiluan dan kesedihan yang sangat mendalam. Kalau harta benda yang hancur karena gempa bisa dicari lagi, tetapi kalau nyawa berpisah dari raga orang yang kita cintai tentu tidak dapat diganti. Setiap kali bencana alam terjadi kita selalu menyaksikan pemandangan yang mengharu biru persaaan, batin kita pun tersentuh. Rumah-rumah yang hancur rata dengan tanah, korban-korban tewas yang bergelimpangan, serta warga yang selamat tetapi dengan luka parah, patah kaki, benyok kepala, dan sebagainya. Jerit tangis mereka terbayang di dalam sukma, meski mereka bukan keluarga kita, tetapi kita ikut pula merasakan penderitaan hebat yang sedang mereka rasakan.
Sayangnya, di tengah kepiluan akibat bencana alam ini, sebagian warga di tempat lain seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi. Malam hari setelah gempa melanda Yogyakarta, siaran TV swasta tetap tidak terpengaruh dan sedikitpun tidak menunjukkan rasa empati. Berbagai acara hura-hura yang ditayangkan langsung tetap jalan. Di TPI misalnya, acara KDI dengan penonton di sudio yang terus berjoget ria sepanjang acara, tetap saja berlangsung, seakan tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Begitu juga di TV-TV lainnya, sama saja. Tampaknya pertimbangan bisnis pengelola TV tersebut lebih dominan mengalahkan rasa empati, sehingga sedikitpun mereka tidak menghentikan acara yang berbau hura-hura sebagai rasa solidaritas terhadap saudara sebangsa yang menjadi korban bencana. Hal ini sangat kontras dengan tindakan yang dilakukan oleh stasiun TV di Rusia ketika terjadi drama penyanderan anak-anak di sebuah sekolah dasar di Rusia pada Septemebr 2004 yang akhirnya menewaskan puluhan siswa sekolah tersebut. Negara tersebut berkabung, dan selama seminggu siaran radio dan TV di Rusia menyiarkan lagu-lagu solidaritas dan duka yang mendalam. Mereka berhenti menyiarkan acara-acara yang bersifat hura-hura, mereka ikut merasakan duka yang dirasakan oleh para orangtua siswa dengan cara tersebut.
Kita jadi teringat pada peristiwa tusnami akhir tahun 2004 yang lalu, di mana hura-hura perayaaan tahun baru di berbagai wilayah di Indonesia tetap berlangsung, sementara ribuan orang di Aceh meratapi nasibnya yang malang. Malaysia saja yang korban tsunaminya hanya belasan orang mengisntruksikan pelarangan perayaan tahun baru sebagai wujud keprihatinan dan solidaritas kepada ratusan ribu korban tsunami di Asia, eh.. Indonesia yang menjadi korban terbanyak musibah tersebut masih tetap melaksanakan hura-hura perayaan tahun baru yang tidak ada faedahnya tersebut.
Mungkin bencana alam seperti ini suatu peringatan dari Tuhan kepada bangsa kita. Peringatan betapa banyak di antara makhluk-Nya yang lebih mementingkan kenikmatan duniawi yang semu ketimbang beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kenikmatan dunia dapat melenakan orang sehingga mereka lupa bahwa Tuhan bisa saja mencabut kembali kenikmatan yang diperoleh sewaktu-waktu. Hendaklah kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjauhi segala kemaksiatan, serta mengasihi sesama makhluk Allah dengan perbuatan baik.
Perdebatan mengenai RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) semakin seru dan panas. Ada tiga kelompok masyarakat yang terbelah oleh RUU ini. Pertama, kelompok yang pro, diwakili oleh para agamawan (umumyna dari Islam, tidak pernah saya dengar dari agama lain) dan ummat yang peduli dengan moral bangsa. Kedua, kelompok yang kontra, diwakili oleh artis (tidak semua), seniman, kaum feminis, dan kelompok liberalis lainnya. Kelompok ketiga, adalah kelompok yang apatis, atau tidak mendukung dan tidak menolak, atau kelompok yang menerima RUU itu dengan catatan perlu diperbaiki lagi. Namun yang selalu terdengar di media massa adalah kelompok yang pro dan kontra saja. Bahkan media massa cenderung membesar-besarkan salah satu pihak, terutama pihak yang kontra, seakan-akan RUU itu ditolak oleh mayoritas rakyat (yang sebenarnya tidak bisa dibuktikan). Boleh kita katakan bahaw RUU APP adalah ajang pertempuran kaum moralis (yang pro) dengan kaum liberalis (yang kontra).
Kalau dulu alasan yang didengungkan kelompok yang kontra adalah terancamnya budaya daerah seperti koteka di Irian, relief di candi-candi, patung-patung telanjang, sampai ke budaya Bali yang tidak menabukan ketelanjagan. Tetapi, tampaknya alasan ini tidak lagi dipakai saat ini, karena, sebagai contoh, koteka di Irian bukanlah masalah kesusilaan, tetapi lebih pada masalah keterbelakangan dan kemiskinan masyarakat di sana. Nyatanya, saat ini sudah jarang ditemukan orang Irian berkoteka. Begitu juga di Bali sudah jarang ditemukan wanita mandi telanjang di sungai.
Sekarang, ada dua argumen penolakan penting yang disuarakan oleh pihak yang kontra. Pertama, menuding RUU itu mendiskriminasikan wanita, seakan-akan wanitalah penyebab kerusakan moral. Kalau kita baca RUU ini, di dalamnya sama sekali tidak disebutkan kata "wanita", tetapi "siapapun" (jadi, pelaku asusila bisa pria atau wanita). Kelompok yang pro mengatakan bahwa RUU ini justru bertujuan melindungi wanita dari eksploitasi seksual. Argumen kedua, kelompok yang kontra mengatakan bahwa RUU ini akan membernagus kebebasan berekpresi, termasuk di dalamnya seni budaya daerah. Kaum seniman dan budayawan seperti Rendra dan Gunawan Muhammad sangat lantang menyuarakan argumen ini. Argumen ini mengada-ada, karena di dalam RUU ada special case, yaitu tidak mengatur soal budaya daerah yang sudah menjadi tradisi masyarakat di suatu tempat. Kebebasan bereskpresi bukanlah kebebasan yang mutlak, pasti ada batasnya.
Penolakan dari kaum artis dan seniman terhadap RUU ini menimbulkan pertanyaan: ada apa (atau siapa) sebenarnya di belakang penolakan itu? Sebuah RUU yang dimaksudkan untuk membentengi bangsa ini dari keterpurukan moral ditolak oleh mereka. Tentu ada kepentingan kapitalis dibalik semua ini, yaitu pelaku dunia hiburan yang terancam dengan RUU APP dan pihak luar yang khawatir penetrasi budaya global (yang negatif) mereka terhambat. Sebab, jika RUU APP disahkan menjadi UU, tentu akan banyak bisnis hiburan yang mengeskploitasi tubuh wanita untuk kepentingan syahwat laki-laki yang terancam, seperti hiburan esek-esek, majalah porno, tayangan hiburan di TV, dan sebagainya. Makanya kita paham jika yang bersuara lantang adalah para artis.
Tetapi sesungguhnya yang mendukung RUU ini jauh lebih banyak, hanya saja suara mereka jarang terekpos karena media massa (yang banyak dikuasai oleh kelompok liberal) umumnya tidak memberi ruang pada mereka ini untuk menyuarakan aspirasi. Rakyat yang mendukung RUU ini tidak bisa muncul di TV atau di koran-koran, sebab mereka kalah populer dengan para selebriti. Media massa tampaknya banyak berpihak pada kelompok kontra ini.
Jujur saja, negara kita memerlukan regulasi atau aturan pembatasan mengenai prornografi. Singapura saja sebagai negara sekuler punya aturan mengenai ini. Di sana saja akses ke situs- situs porno dilarang, bahkan rakyatnya terlarang memiliki parabola untuk menangkap siaran TV asing. Munculnya RUU APP menunjukkan bahwa perangkat hukum yang lain seperti KUHP dan UU Pers tidak mencukupi untuk menangani kasus-kasus kesusilaan (kalau KUHP lengkap, tentu tidak perlu RUU APP). Sangat sedikit pasal-pasal KUHP yang mengatur soal hal ini. Tetapi, kelompok yang kontra menuntut agar pembahasan RUU ini dihentikan, sementara kelompok yang pro mendesak agar segera disahkan. Oke, sekarang bagaimana jalan keluarnya? Bagaimanapun juga, tidak ada keputusan politik yang memuaskan setiap orang. Suara yang pro dan kontra dapat dianggap sebagai dinamika demokrasi. Kedua kelompok ini tetap harus dihargai. Menghentikan pembahasan RUU tentu mengecewakan kelompok yang pro, tetapi meneruskan pembahasan RUU dengan draft yang multitafsir seperti sekarang tentu tidak memuaskan kelompok yang kontra. Maka, sebagai win-win solution adalah membicarakan kembali pasal-pasal di dalam RUU itu yang dipandang kontroversial. Kelompok yang kontra tidak boleh menolak secara total RUU ini secara keseluruhan, tetapi mereka hendaknya menolak pasal-pasal yang bermasalah saja. Kelompok yang pro juga tidak boleh memaksakan kehendak, mereka juga harus bisa menerima perbaikan pasal-pasal yang ditolak itu sehingga juga memuaskan kelompok yang kontra. Dengan demikian, semua kepentingan kelompok terakomodasi dengan baik. Inilah seni hidup yaitu saling harga menghagai.
Sore itu menjelang maghrib, saya masih keluar masuk toko di sekitar jalan Purnawarman (BEC dan sekitarnya) mencari alat musik buat anak. Hari sudah mulai gelap, tapi orang-orang yang kebanyakan anak muda masih terlihat ramai bergerombol sekadar hang out atau makan minum di kafe. Adzan maghrib mulai terdengar dari sebuah masjid di sekitar pemukiman penduduk belakang BEC. Saya bergegas ke masjid tersebut untuk menunaikan shalat maghrib. Cukup ramai orang yang shalat di sana, umumnya pendatang yang sedang kemalaman di jalan. Ketika saya kembali, saya melihat anak-anak muda yang hang out tadi atau yang sedang makan minum di kafe masih ada di sana.
Sambil berjalan saya merenung dan bertanya-tanya, apakah hati mereka tidak tegerak sedikitpun menunaikan shalat? Kenapa kesenangan duniawi ini bisa melalaikan mereka untuk menghampiri Tuhan? Sekadar melaksanakan kewajiban agama yang tak sampai 10 menit itu. Sementara untuk kegiatan lain kita mau berlama-lama untuk menghabiskan waktu, kenapa untuk menyembah Tuhan kita enggan? Ah, mudah-mudahan mereka masih tetap melaksanakan shalat Maghrib, mungkin nanti sebentar lagi, demikianlah saya berprasangka positif saja.
Sering saya melihat pemandangan lain ketika mau shalat Jumat di Salman. Adzan dan khutbah sudah berkumandang, tetapi masih banyak mahasiwa yang masih bercanda ria dan masih bermain-main. Tak hirau mereka dengan panggilan shalat Jumat. Kalau mereka bukan orang Islam, tentu saja saya paham, tetapi pastilah ada juga muslim di antaranya. Tetapi, mengapa mereka tidak mau melaksanakan sembahyan Jumat? Mudah-mudahan mereka masih tetap melaksanakan shalat Jumat, mungkin nanti sebentar lagi, demikianlah saya berprasangka positif saja.
Kemaren, sekelompok mahasiswa mengadakan acara musik di kampus. Hari sudah menjelang malam, adzan Maghrib berkumandang, tetapi kelompok mahasiswa tersebut tetap asik bermusik ria tanpa mempedulikan adzan itu. Sampai lima belas menit setelah maghrib pun tidak ada tanda-tanda mereka akan berhenti. Tidak ada tergerak di hati mereka menghentikan sejenak untuk menghormati panggilan suci itu. Mudah-mudah sesudah itu mereka masih melaksanakan shalat Maghrib meskipun sudah hampir terlambat, demikianlah saya berprasangka positif saja..
Sebagai orang beragama, tentulah setiap diri kita berkewajiban melaksanakan ajaran agama. Seorang muslim misalnya, tentu tidak boleh meninggalkan shalat. Tapi, ya itulah, tidak semua orang yang beragama mentaati ajaran agamanya. Tidak semua orang Islam itu taat, tidak semua orang Islam itu mau shalat. Entah dia malas, entah dia melihat itu tidak berfaedah bagi dirinya, atau mungkin menganggap mumpung masih muda, bersenang-senang dulu, kalau sudah tua nanti sembahyang.
Padahal, kalau sudah mati, maka putuslah semua amalan (kecuali tiga hal, sesuai hadis Nabi: ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah, dan anak shaleh yang mendoakan ibu bapaknya). Yang timbul adalah penyesalan di akhirat. Sebagian manusia di akhirat meminta kepada Tuhan agar dikembalikan kedunia, dia berjanji nanti di dunia akan taat pada Allah. Namun semua sudah terlambat. Allah tidak mungkin akan mengembalikan lagi manusia ke dunia.
Andaikan manusia mau menyadari kelalaiannya, tentulah penyesalan itu tak akan terjadi. Marilah kita berpikir, betapa tak terhitung banyaknya rizki yang kita terima dari Allah SWT setiap hari. Udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, uang yang kita peroleh, kesenangan dan kenikmatan duniawi yang kita rasakan. Hampir-hampir semua karunia Tuhan itu kalau kita tuliskan tidak akan cukup ribuan kertas maupun tinta. Terlalu banyak yang harus ditulis. Nah, mengapa untuk taat kepada-Nya kita enggan? Sekadar meluangkan waktu yang tidak seberapa itu untuk menjalankan perintah-Nya kita tidak mau?
Mudahan-mudahan, kita semua tidak termasuk orang yang merugi di akhirat nanti.
Kemaren ketika melintas di jalan Diponegoro Bandung, motor saya dan kendaraan lain tertahan di depan Museum Geologi. Kendaraan tidak dapat bergerak karena ratusan buruh menggelar aksi duduk-duduk di jalan sembari mendengarkan orasi dari para pemimpinnya. Ya, aksi demo buruh menuntut pencabutan revisi UU Ketenagakerjaan (UU Naker) masih terus berlanjut sejak tanggal 1 Mei yang lalu. Di seluruh kota di Indonesia kaum buruh berunjuk rasa untuk masalah yang sama: keadilan.>/p>
Mula-mula saya ngedumel di dalam hati karena aksi unjuk rasa itu telah mengganggu pengguna jalan. Tapi, ketika saya memandang wajah-wajah kaum buruh yang tampak kelelahan setelah berjalan jauh dari pabriknya di Bandung Selatan menuju Gedung Sate, sayapun mulai merasakan simpati bercampur rasa kasihan. Ya, di wajah kaum buruh itu terlukis kerasnya hidup yang mereka lalui untuk mencari nafkah keluarga. Di wajah mereka tergambar rona penderitaan karena tenaganya diforsir siang malam hanya untuk mendapatkan upah tidak seberapa. Di balik perjuangan mereka mengubah nasib, anak-anak mereka menunggu di rumah rizki yang dibawa oleh bapak atau ibunya.
Anda tahu kan, di Bandung terdapat ratusan pabrik, umumnya pabrik tekstil, garmen, industri makanan dan obat-obatan. Pabrik-pabrik itu berlokasi di daerah pinggiran seperti Banjaran, Cimahi, Ujungberung, Rancaekek, dan Mohammad Toha. Pabrik-pabrik itu mempekerjakan ribuan buruh, baik pria dan wanita. Buruh-buruh itu tinggal di sekitar pabrik, hidup di bedeng-bedeng, atau mengontrak rumah kumuh. Upah mereka rata-rata sedikit di atas UMR, jauh dari biaya hidup yang layak. Dengan upah tidak seberapa besar itu, mereka harus berjuang untuk menghidupi keluarga. Sering terdengar para buruh ini diperlakukan semena-mena oleh perusahaan, misalnya dipecat tanpa pesangon, diitimidasi karena dianggap melawan, gaji yang belum dibayarkan, atau hak-hak sosial mereka yang tidak dipenuhi (tunjangan kesehatan, jamsostek, cuti haid/melahirkan, dsb). Bagi para buruh itu, menjadi anggota di dalam serikat pekerja merupakan kebutuhan, karena di sanalah mereka bertemu teman-teman senasib membicarakan kesejahteraan mereka. Tidak heran jika organisasi seperti SPSI dan SBSI menjadi populer di mata mereka. Melalu serikat pekerja ini mereka membangun kekuatan untuk melawan ketidakadilan. Namun sulit dipungkiri jika serikat pekerja ini juga rawan terhadap infiltrasi paham-paham sosialis yang kekiri-kirian. Karenanya, perjuangan buruh yang murni bisa tercemar karena ulah para penyusup yang ingin mengail di air keruh.
Sebenarnya, menurut UU Ketenagakerjaan, yang termasuk buruh itu tidak hanya karyawan pabrik, tetapi juga karyawan perusahaan swasta lain yang berkantor di gedung-gedung ber-AC, karyawan supermarket, karyawan bandara, karyawan kontraktor, dan sebagainya. Namun karyawan swasta semacam ini tidak ikut-ikutan dalam aksi unjuk rasa kemaren, karena dibandingkan dengan buruh pabrik, kesejahteraan mereka lebih baik. Penghasilan mereka jauh di atas UMR, selain itu pekerjaan mereka dianggap "lebih intelek" ketimbang buruh pabrik. Buruh pabrik dikesankan sebagai orang kecil yang berpenghasilan kecil serta terkesan "massal".
Saya sebenarnya tidak terlalu paham mengenai Revisi UU Naker yang dihebohkan kaum buruh ini. Saya hanya tahu dari koran kalau Revisi UU Naker ini dianggap oleh kaum buruh merugikan mereka namun menguntungkan pengusaha dan Pemerintah. Tentu ada alasan kuat mengapa kaum buruh ini berunjuk rasa untuk bersatu padu menolak revisi UU tersebut. Kalau tidak, mengapa mereka mau bersusah payah berjalan kaki meninggalkan pabrik dan keluarganya untuk berpanas-panasan di jalan-jalan. Belum lagi resiko digebuk dan dikejar-kejar oleh polisi.
Oleh karena itulah, untuk kaum buruh yang memperjuangkan nasibnya, saya ikut bersimpati dan memberikan dukungan moril. Semoga penantian anak-anak anda yang menunggu bapak-ibunya pulang membawa perbaikan nasib tidaklah sia-sia. Ketahuilah bahwa Allah SWT sangat suka pada orang-orang yang bekerja keras mencari nafkah halal. Setiap tetesan keringatmu adalah tetesan ibadah. Setiap perjuanganmu mencari nafkah di jalan Allah adalah fisabilillah. Jika engkau mati ketika mencari nafkah, insya Allah matimu adalah mati syahid.
Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke Istana Plaza, sebuah mal di kawasan utara kota Bandung, untuk mencari kebutuhan untuk anak. Saya sangat jarang jalan-jalan ke mal, pasalnya saya tidak begitu suka suasana mal yang padat (crowded) penuh orang. Istana Plaza ternyata cukup luas juga, nyaman, dan banyak toko-toko yang menarik (eh, apa sih perbedaan mal dengan plaza?). Sebagai arena rekreasi keluarga boleh juga, berbagai macam jenis barang tersedia di sana, bahkan arena bermain anak pun ada. Terlihat banyak orang berdandanan necis mondar-mandir di mal ini. Tempat-tempat makanpun mulai padat dengan pengunung, maklum hari sudah beranjak siang.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 12.30, saya segera berniat untuk menunaikan shalat Dhuhur. Sebagai seorang muslim, tentu kewajiban agama seperti shalat lima waktu tidak boleh saya tinggalkan. Saya pun mulai mencari tahu di mana gerangan mushola atau tempat shalat di mal yang megah ini. Seorang Satpam menunjukkan mushola yang ternyata letaknya di lantai basement, di ujung tempat parkir mobil. Anda tahu kan ruang parkir di mal-mal biasanya di lantai bawah tanah. Cahaya di tempat parkir umumnya suram dan udaranya pengap karena bercampur dengan karbondioksida (keluaran knalpot). Selain itu juga agak bising oleh deru mesin mobil yang hendak masuk/keluar parkir serta suara mesin pendingin dan generator. Di lokasi seperti itulah teronggok sebuah mushola kecil. Di sanalah saya shalat Dhuhur.
Alhamdulillah, masih untung mal ini menyediakan sebuah tempat shalat. Meskipun demikian, ada perasaaan miris juga di dalam hati saya. Kenapa tempat yang suci itu ditempatkan di area yang tidak layak? Kebanyakan mal menyediakan mushola di basement/area parkir mobil. Mushola di BIP juga begitu. Saya belum pernah menemukan mushola di mal ditempatkan pada tempat yang pantas, nyaman, dan bersih. Hitung-hitungan komersil pembangunan mal/plaza menyebabkan mushola kalah penting dengan pertokoan. Mushola seakan-akan dipandang sebagai asesori tambahan yang dihadirkan dengan berat hati. Padahal, bagi seorang muslim, mushola sangat penting. Kewajiban menjalankan shalat lima waktu harus dapat dilakukan di mana saja ia beraktivitas. Hal ini berbeda dengan saudara kita dari kalangan kristiani atau agama lain. Mereka tidak membutuhkan rumah ibadahnya harus ada di setiap lokasi publik seperti mal, karena kewajiban beribadat bagi mereka tidak rutin setiap hari dan setiap waktu.
Sayangnya, pihak pengelola mal atau plaza kurang begitu memperhatikan masalah mushola ini. Padahal, mayoritas pengunjung mal tersebut adalah muslim. Meski tidak semua muslim itu menegakkan shalat lima waktu, tapi tentu cukup banyak orang yang sadar akan kewajiban shalat dan ingin menunaikan kewajiban shalat itu meski ia berada di mal yang megah sekalipun. Andaikan pengelola atau pemilik mal adalah seorang pengusaha muslim yang shaleh, tentulah ia akan berpikir untuk menempatkan Rumah Tuhan itu di tempat yang terhormat. Sayang, saya belum menemukan orang yang semacam itu. Saya masih mencari mal yang menyediakan mushola yang nyaman dan ditempatkan pemiliknya di tempat yang layak.
Sudah sebulan lamanya Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang saya pesan di kelurahan belum juga selesai. Ada perasaan kesal dan lelah setiap kali saya datang ke kantor kelurahan menanyakan apakah KTP saya sudah selesai. Petugas di sana sellau menjawab: belum, masih diproses di Kecamatan. Duh! Ini pertama kali saya mengurus KTP baru dengan dengan cara yang lempang (straightforward), cara yang "lurus-lurus saja"", tidak lewat "jalan pintas", tidak lewat jalan belakang. Ya, saya mencoba mengikuti prosedur pembuatan KTP dengan aturan birokrasi mulai dari bawah sampai atas. Semuanya saya urus sendiri. Mula-mula saya menemui Ketua RT lama untuk meminta surat pindah (membuat surat pindah juga perlu biaya). Kemudian di RT yang baru saya meminta surat pengantar. Dari RT, saya pergi ke RW meminta pengesahan. Dari RW saya pergi ke kantor Kelurahan. Kelurahan memberi saya formulir yang harus saya isi dan ditandatangi oleh RW. Jadi, saya balik lagi ke Pak RW minta tanda tangan. Formulir harus dilengkapi dengan macam-macam lampiran seperti surat pindah, surat pengantar dari RT/RW, kartu keluarga, KTP yang lama, dan seperti biasa ada uang adminisrasi. Pihak kelurahan yang mengurus ke Kecamatan untuk dibuatkan KTP baru. Tapi hingga hari ini, sudah sebulan, KTP itu belum juga selesai. Saya tanya, perlu uang berapa lagi supaya KTP itu cepat selesai?
Sekarang saya bisa mengerti mengapa banyak orang yang kalau mengurus surat-surat semacam KTP, SIM, dan sebagainya tidak mau capek-capek dan repot-repot. Tinggal kasih uang ke seorang penghubung, beres. Surat yang dibutuhkan akan keluar dalam waktu yang cepat. Memang biayanya besar, tapi bagi sebagian orang apalah artinya uang segitu dibandingkan surat yang sangat berharga bagi mereka. Macam-macam alasan mereka mengurus surat tersebut dengan cara pintas: sibuk, tidak punya waktu, atau tidak mau ribet dan repot berurusan dengan banyak orang untuk mengurus tetek bengek. Maklum, birokrasi di Indonesia belum mangkus. Kita harus berhadapan dengan banyak meja, dan kadangkala di setiap meja perlu uang tambahan supaya urusan jadi lancar. Kondisi semacam ini dimanfaatkan sebagian orang sebagai peluang bisnis, yaitu bisnis mengurus surat-surat, asalkan anda bersedia membayar lebih. Menurut saya, inilah salah satu faktor penyebab korupsi di Indonesia. Korupsi tidak hanya dilakukan birokrat kelas atas, tapi juga banyak terjadi di tingkat bawah.
Ternyata, cara lempang mengurus surat semacam KTP memakan banyak pengorbanan, yaitu waktu. Kalau biaya memang tidak. Mungkin anda yang mengambil mata kuliah Strategi Algoritmik masih ingat materi kuliah Brute Force. Metode Brute Force menyelesaikan persoalan dengan cara yang lempang (straightforward), sederhana, dan langsung. Ya, benar, saya mengurus KTP secara Brute Force, hiks...hiks...hiks. Tetapi, metode Brute Force bukanlah metode yang mangkus karena usaha yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah sangat besar. Ya, benar sekali, usaha saya untuk mengurus KTP ini membutuhkan waktu yang lama.
Saya berpikir, apakah ada cara yang lebih mangkus mengurus KTP tanpa membutuhkan usaha (baca: biaya dan waktu) yang besar? Mengurus KTP dan surat-surat penting lainnya dengan memanfaatkan biro jasa atau orang penghubung memang cepat tetapi sebenarnya cara ini bukanlah teladan yang baik karena terkesan menghalalkan semua cara untuk memperoleh tujuan. Selain itu makin menyuburkan budaya korupsi, pungli, dan manipulasi di kalangan birokrat. Mungkin solusi "pelayanan satu atap" bisa dijadikan alternatif pemecahan masalah. Tapi solusi ini masih perlu diuji lagi kesangkilannya.
Siang itu, ratusan orang yang berada di sekitar patung Husein Sastranegara, di jalan Padjadjaran Bandung, sujud ke bumi sambil berlinang air mata. Mereka adalah para mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) beserta keluarganya yang melakukan sujud syukur ke hadirat Allah SWT atas terkabulnya tuntutan yang telah diperjuangkan mereka selama bertahun-tahun. Tuntutan pembayaran pesangon mereka dikabulkan oleh Pemerintah dengan pembayaran tahap I sejumlah Rp 40 milyar dari 200 milyar yang diajukan mereka.
Publik Bandung tentu masih ingat selama 3 tahun belakangan para mantan karyawan PT DI sering wara-wiri melakukan unjuk rasa dan aksi solidaritas ke berbagai tempat, baik ke kantor DPRD dan kantor Gubernur di Gedung Sate, ke kantor PTUN, ke kantor Pengadilan, bahkan sampai nglurug ke Jakarta ke Gedung DPR, Istana Presiden, Kantor Mentri BUMN, dan sebagainya. Dalam berbagai aksinya itu mereka melakukan secara berkonvoi. Dimulai dari patung Husein itu, mereka berkonvoi dengan kendaraan bermotor maupun mobil pribadi menuju tempat unjuk rasa. Iring-iringan kendaraan bermotor mereka yang berjumlah ratusan mengingatkan kita pada susanana kampanye Pemilihan Umum yang mengerahkan massa ke jalan raya untuk berpawai. Tidak tanggung-tanggung, mereka membawa anak dan istrinya turut serta, bahkan ke Jakarta yang jaraknya lebih kurang 200 KM. Kalau ke Jakarta, mereka singgah dulu di Ragunan atau di Cibubur untuk bermalam dengan mendirikan tenda, sebelum keesokan paginya mereka nglurug ke tempat-tempat yang disebutkan di atas. Di tenda-tenda itu mereka tidur, memasak makanan, berdiskusi dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula sebagian mereka yang membawa mobil membuka toko mini dengan menyediakan aneka kebutuhan seperti rokok, mie instan, kopi, minuman, dan lain-lain. Mereka semua larut dalam solidaritas sebagai orang-orang yang terkena PHK dari tempat kerjanya akibat bangkrutnya perusahaan tempat mereka bekerja (PT DI).
Semua aksi mereka itu tujuannya satu: menuntut keadilan, yaitu menuntut pemenuhan hak-hak mereka sebagai orang teraniaya. Tiga tahun mereka berjuang agar hak mereka dipenuhi. Entah berapa pengorbanan materil maupun moril yang telah mereka keluarkan. Entah berapa banyak pula tumpahan air mata dari istri dan anak-anak mereka menanggung kesusahan hidup karena tiang keluarga mereka tidak punya pekerjaan. Jangan salah, sebagian dari karyawan PT DI itu ada yang berpendidikan tinggi seperti S2 dan S3. PT DI memang gudangnya pakar di bidang penerbangan. Tapi nasib baik tidak selalu berpihak pada mereka. Sejak BJ Habibi tidak lagi berkuasa, sejak krismon mendera negeri ini, hancurlah PT DI (dulu IPTN). Sebagian besar karyawan terpaksa di-PHK, termasuk karyawan yang bergelar S2 dan S3 ini. Mereka kehilangan tempat mencari nafkah. Sebagian dari pakar ini ada yang memilih bekerja di industri penerbangan di luar negeri. Tapis sebagian lagi tetap bertahan di Indonesia.
Meskipun pekerjaan sudah lepas, namun hidup tetap harus berjalan. Prerut tidak bisa kompromi, anak- anak mereka butuh biaya sekolah. Terpaksalah para mantan karyawan ini mencari pekerjaan serabutan untuk memeni kebutuhan hidup. Apapun pekerjaan yang halal dilakoni oleh mereka sambil tetap terus berjuang menuntut hak-hak pesangon mereka. Maka, tidak heran, termasuk para pakar yang bergelar S2 dan S3 ini, ada yang memilih berjualan membuka usaha warung, jual beli handphone bekas, jualan voucher, membuka toko berjalan dengan mobil carry, berjualan makanan di Gasibu setiap minggu pagi, dan berbagai usaha lainnya.
Sekarang mereka sudah mulai bisa tersenyum, karena tuntutan mereka sudah dipenuhi. Kita belajar banyak dari kasus ini. Tetapi pelajaran yang paling penting adalah kegigihan dan konsistensi mereka memperjuangkan nasibnya, terlepas dari penilaian apakah mereka terlalu berlebihan dalam melakukan perjuangan itu. Setiap perjuangan pasti membawa hasil, berapapun banyaknya. Setiap usaha kerja keras kalau dilakukan dengan ikhlas, sabar, dan tekun pastilah akan mendatangkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Beberapa hari yang lalu asisten mata kuliah yang saya ampu, IF2251 Strategi Algoritmik, melaporkann banyak kemiripan tugas program mahasiswa. Istilahnya, banyak yang melakukan "copy and paste" kode program dari satu kelompok ke kelompok yang lain. "Copy and paste" adalah bentuk lain kegiatan mencontek dengan menggunakan kode program yang diambil dari internet. Memang, salah satu kelebihan teknologi digital adalah kemudahan melakukan penggandaan tepat sama dengan aslinya, bit per bit.
Tentu saja saya agak kecewa dengan kejadian ini. Sebagian mahasiswa ternyata lebih mementingkan hasil akhir ketimbang proses. Tugas yang saya berikan adalah membuat aplikasi semacam "mini Winzip" dengan menggunakan algoritma pemampatan Huffman. Ini tugas yang cukup berat, karena mahasiswa semester 4 di IF belum pernah membuat aplikasi yang besar dengan kakas pemrograman berbasis GUI Graphical User Interface). Masa pengerjaan tugas adalah 1 bulan, berkelompok. Selama satu bulan ini mereka diminta mempelajari sendiri kakas pemrograman yang mereka inginkan (seperti Borland Delphi, Visual Basic, Borland C++ Builder, Visual C, dan sebagainya). Melalui tugas ini mahasiswa diuji kemampuan hard skill mereka, yaitu mengimplementasikan sendiri algoritma Huffman dengan menggunakan kakas yang dipilih oleh mereka sendiri.
Sayangnya sebagian mahasiswa mengambil jalan pintas dengan melakukan kecurangan seperti yang saya sebutkan di atas. Apalah artinya mendapat nilai bagus tetapi diperoleh bukan atas kemampuan sendiri namun hasil kemampuan orang lain. Itu sama saja dengan menipu diri mereka sendiri. Di sinilah pentingnya kejujuran. Bagi saya, lebih penting proses ketimbang hasil akhir, sebab sebuah proses membutuhkan kerja keras dan semangat juang. Kejujuran dan integritas adalah landasan moral dalam melakukan proses (dalam hal ini aktivitas menyelesaikan tugas).
Sebenarnya, mempelajari kode program yang tersebar di internet bukanlah hal yang terlarang. Sebab, belajar pemrograman juga bisa dilakukan dari program orang lain. Banyak kode program yang tersedia di sana dan mudah di-download. Hanya saja, meng-copy and paste begitu saja program tersebut tanpa melakukan perubahan apapun jelas bukan hal yang patut. Lebih baik mencontoh ide program tersebut lalu menuliskannya kembali ke dalam program yang sedang dibuat. Jangan lupa menuliskan sumber (seperti alamat situs) darimana kode program tersebut diambil . Pada sebagian laporan tugas mahasiswa, sumber kode program tersebut tidak ditulis di dalam laporan mereka, sehingga mengesankan semua program adalah karya mahasiswa yang bersangkutan. Di dalam etika akademis, kita harus menyebutkan sumber rujukan yang kita ambil untuk tulisan atau karya yang kita buat. Inilah kejujuran ilmiah yang harus dijunjung tinggi setiap akademisi.
Saya jadi teringat kembali beda pendidikan dengan pengajaran. Pengajaran lebih menekankan pada transfer of knowledge, sedangkan pendidikan adalah sebuah proses transfer of value. Value yang dimaksud adalah nilai-nilai moral seperti etika, budi pekerti yang luhur, kejujuran, dan sebagainya. Di dalam Agama Islam, semua nilai-nilai moral ini sering dinamakan akhlak. Pendidikan adalah proses pembentukan karakter yang berakhlak mulia, yaitu membentuk kepribadian manusia yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam setiap langkah kehidupannya. Inilah sebenarnya esensi dari pendidikan, yaitu penanaman nilai-nilai moral. Jika diibaratkan pengajaran itu bertujuan melatih kemampuan hard skill anak didik, maka pendidikan melatih kemampuan soft skill.
Bagi saya, pengajaran di masa usia belajar (dari TK sampai Perguruan Tinggi) harus seimbang dengan pendidikan. Kepada anak didik kita tekankan pentingnya menegakkan kejujuran dalam segala aktivitas belajarnya. Kelak setelah mereka terjun di tengah masyarakat, buah dari pendidikan yang mulia ini adalah terbentuknya pribadi manusia yang selalu berada pada jalan yang diridhai oleh Tuhan. Jika pribadi-pribadi manusia baik, maka baik pulalah bangsanya. Sebaliknya, jika manusianya tidak baik, maka rusaklah bangsanya.
Hari Wisuda ITB datang lagi. Hari ini, 4 Maret 2006, ITB kembali mewisuda ribuan wisudawan dari program Sarjana, Magister, dan Doktor. Seperti yang sudah-sudah, kampus ini kembali diramaikan dengan kreatifitas mahasiswa menyemarakkan hari wisuda dengan mengadakan acara penyambutan wisudawan di kampus hingga acara syukuran di program studi masing-masing.
Seperti biasa, saya selalu datang menghadiri acara syukuran wisuda yang diadakan oleh himpunan mahasiswa. Dan seperti biasa, hanya saya dan Ketua Program Studi yang menghadiri acara seperti ini. Saya hadir karena kebetulan menjadi dosen pembina kemahasiswaan. Kolega-kolegan dosen yang lain hampir tidak pernah hadir dalam acara ini. Dulu, ketika hari Sabtu bukan hari libur, acara syukuran wisuda selalu dihadiri oleh cukup dosen, karena pada hari Sabtu ada aktivitas perkuliahan sehingga dosen hadir di kampus. Sekarang, sejak Sabtu adalah hari libur akademik, maka hampir tidak ada kolega dosen yang menghadiri acara syukuran wisuda Sabtu siang.
Mengapa acara syukuran wisuda itu penting? Karena inilah kesempatan di mana para orangtua bertemu dengan pendidik puta/putrinya. Mana lagi ada kesempatan pertemuan antara orangtua mahasiswa dengan para dosen jika bukan pada acara wisuda? Kedengarannya klise kok penting sekali pertemuan itu? Apakah sekadar mengucapkan terima kasih dari orangtua kepada para dosen? Ah, kalau itu tujuannya seperti basa basi saja, terlalu berlebihan. Bukankah memang sudah tugas para dosen mendidik mahasiswa, jadi ucapan terima kasih tidak perlu diformalkan dengan acara syukuran wisuda. Bisa riya (mengharapkan pujian) nanti, atau malahan timbul rasa 'ujub (membanggakan diri).
Kalau begitu, buat apa kehadiran para dosen penting pada acara syukuran wisuda? Jawabannya sederhana: menghormati tamu. Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah hadis: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya". Sungguh dalam makna hadis tadi. Bukankah para orangtua mahasiswa itu datang dari tempat yang jauh, baik dengan mobil sendiri, bis, kapal laut, kereta api, maunpun dengan pesawat? Karena ia adalah tamu kita di ITB, maka mengapa kita tidak memuliakan dan menghormati kedatangan mereka? Itulah yang diajarkan oleh agama, dan karena itulah saya hadir menghormati kedatangan orangtua wisudawan itu pada acara syukuran wisuda.
Entahlah, apakah masih ada kapal (penumpang) yang ke Padang? Sejak banyak pesawat murah yang lalu lalang di udara pertiwi, tidak ada lagi orang yang mau naik kapal laut dari dan ke Padang menuju Jakarta atau sebailiknya. Bus-bus ke Jawa pun banyak yang mati, jalan-jalan di Lintas Sumatera lengang, warung makanan pun gulung tikar. Dulu, entah berapa banyak kapal-kapal penumpang PT Pelni yang menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur Padang, mulai dari KM Bogowonto, KM Kali Berantas, KM Batanghari, KM Tampomas I, Km Tampomas II (yang akhirnya tenggelam di kepulauan Masalembo menewaskan ratusan penumpang pada Tahun 80-an), sampai kapal-kapal yang lebih modern seperti KM Kerinci, KM Lawit, KM Rinjani, KM Lambelu, sebelum akhirnya mereka tidak singgah-singgah lagi.
Kenangan saya masih terasa kuat ketika dulu masih naik kapal laut ke Jakarta dari pelabuhan Teluk Bayur. Pertama kali merantau ke tanah Jawa ini adalah ketika saya diterima di ITB. Ini adalah perjalanan terjauh yang saya tempuh meninggalkan kampung halaman. Masih terbayang linangan air mata ibu dan ayah (alm) melepas saya di pelabuhan ini, tatkala kapal penumpang KM Kerinci perlahan-lahan lepas jangkar menjauhi dermaga, diiringi lagu Ernie Johan yang juga berjudul "Teluk Bayur". Hiks..hiks..hiks..
Teluk Bayur adalah pelabuhan alam yang eksotis. Berada di bibir Samudera Hindia, ia dipagari oleh rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Lautnya tenang tetapi dalam. Saya suka berlama-lama kalau berada di pelabuhan Teluk Bayur, duduk melamun sambil memandang bentang alam yang diciptakan Tuhan dengan begitu indah, laksana lukisan saja nampaknya. Melihat laut yang terhampar luas di depan pelabuhan membuat pikiran jadi sejuk, hati jadi lapang. Nun jauh ke sana, ke seberang lautan, pikiran terbang menerawang, membayangkan rantau tempat berlabuh. Perubahan perjalanan hidup saya berawal dari pelabuhan ini. Ada semacam tautan yang tak bisa dihilangkan antara diri saya dengan pelabuhan ini.
Dulu waktu saya masih sekolah di Padang, setiap minggu pagi saya olahraga lari dari rumah, melewati sudut-sudut kota, lalu menyeberangi Sungai Batang Harau di daerah Muara, berjalan mendaki Bukit Padang, melewati "makam" Siti Nurbaya, lalu turun ke bawah sampailah ke Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Batu Malin Kundang itu. Di sini saya istirahat sejenak memandang air laut yang jernih. Di kejauhan tampak Pulau Pisang dan Pulau Pandan. Ada sebuah pantun yang saya ingat bunyinya:
Dari Pantai Air Manis ini saya mendaki bukit lagi menaiki puluhan anak tangga, lalu dari atas bukit tampaklah pelabuhan Teluk Bayur dan laut lepas yang terhampar luas. Sungguh Maha Besar Allah menciptakan lanskap alam yang begitu indah.
Teluk Bayur memang bukan pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal yang datang hanyalah kapal barang. Satu dua kapal penumpang dari Sibolga atau kapal pesiar yang membawa wisatawan asing bersandar di sana. Entah kapan saya bisa lagi naik kapal penumpang dari pelabuhan ini. Mungkin nanti ketika ongkos pesawat sudah mahal kembali sehingga orang pun beralih naik kapal laut lagi. Mungkin nanti suatu saat ketika saya pulang mengunjungi sejarah masa lalu. Masih ada kapal ke Padang, kelak....
Maaf, Anda ingin telanjang di muka umum? Telanjanglah sebebas-bebasnya, tak perlu sungkan. Telanjang itu katanya simbol kejujuran. Ketika kemunafikan merajalela, ketelanjangan merupakan pilihan. Simbol perlawanan terhadap berbagai topeng. Jadilah ketelanjangan sebagai benar, bahkan perlu dipertunjukan di ruang publik. Telanjang bukan lagi keseronokan, apalagi melanggar moral. Ketelanjangan bukan lagi sebuah kebugilan fisik, yang mengoyak nilai-nilai luhur kehidupan. Ketelanjangan itu sebuah estetika yang filosofis.
Demikian logika kaum seniman dan pendukung ekspresi bebas-nilai beragumentasi soal telanjang tubuh di muka publik. Ketika karya seni digital menampilkan foto dua artis ternama dalam keadaan telanjang, yang menuai kritik dan aduan masyarakat yang tak setuju, para pendukung seni telanjang membela mati-matian. Foto telanjang itu sama sekali bukan pornografi atau pornoaksi, tetapi sebuah keindahan yang melambangkan kejujuran. Jadi bukan sesuatu yang porno, baik pornografi maupun pornoaksi.
Soal porno? Tergantung pada orangnya, demikian dalih mereka. Bagi orang berpikiran ngeres, katanya, foto telanjang itu jadi porno. Bagi penikmat seni dan mereka yang tidak ngeres, foto atau apa pun karya seni yang ditampilkan itu menjadi indah. Itu namanya estetika, bukan kepornoan. Bukan keseronokan. Lagian, kaum agamawan, juga orang awam, mereka tak paham seni. Wong mereka biasa ngaji kitab kuning, mana tahu cita rasa seni, kecuali seniman yang kiai atau kiai yang seniman. Seni itu berbeda dari agama dan moral. Seni itu seni, bukan yang lain. Bagaimana Undang-undang atau agama mau membatasi karya seni yang memiliki norma sendiri, yang berbeda dari norma hukum dan agama? Begitulah argumen kaum seniman bebas-nilai.
Maka, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi digulirkan di DPR, para seniman dan mereka yang mendukung seni bebas-nilai itu betul-betul menolaknya. Mula-mula mereka menolaknya karena batasan pornografi dan pornoaksi tidak jelas. Ada juga yang menerima, tetapi hanya untuk membatasi atau memberantas tabloid, majalah, surat kabar, dan VCD porno yang seronok dan kini tengah dirazia polisi di berbagai tempat. Apalagi kalau VCD atau karya seronok itu hasil bajakan, para seniman itu setuju sekali dengan razia polisi, maklum karya-karya mereka banyak dibajak. Kalau menyentuh keuntungan bagi kepentingannya memang gampang sekali setuju, tapi kalau merugikan menolak dengan keras.
Ketika konsep porno dijelaskan, mereka bergeser lagi ke sisi lain. Baiklah, pornografi jelas batasannya, tetapi pornoaksi bagaimana? Bagaimana para penari seni tradisional seperti tari Bali, penduduk asli di pedalaman Papua, apa mau dikategorikan pornoaksi? Ketika dijelaskan, bahwa hal-hal seperti itu dimasukkan dalam konteks budaya daerah yang memiliki wilayah aturan sendiri, para seniman sekuler-liberal itu bergeser lagi. Taruhlah batasan pornografi dan pornoaksi itu diperjelas, tetapi apa harus ada Undang-Undang? Seni dan ekspresinya tidak bisa dibatasi oleh apa pun.
Pendukung seni bebas-nilai bahkan kian bertambah. Sejumlah pihak menolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dengan logika hubungan rakyat dan negara. Janganlah negara mengatur moral masyarakat, kata mereka. Biarlah moral itu jadi milik kehidupan orang perorang, tidak perlu diatur negara.
Dengan berbagai dalih yang hebat dikatakan, di negara-negara maju seperti di Barat, negara tidak ikut campur dalam urusan moral maupun agama. Moral dan agama jangan masuk urusan negara, biarlah jadi milik pribadi manusia, warga negara. Itulah logika kaum sekuler, dengan pengalaman hubungan agama (Kristen) di Barat. Kelompok ini beberapa waktu yang silam juga menolak kehadiran Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang memasukan pendidikan agama.
Pemisahan negara dan agama berangkat dari paradigma Barat, sebagai pilihan paling ekstrem dari trauma buruk hubungan Gereja dan negara di abad pertengahan. Peradaban modern Barat yang menjadi rujukan modernitas di seluruh negeri sekaligus mematok pemisahan agama dan negara. Pola ini dianggap berlaku ideal dan universal untuk seluruh dunia, tanpa kecuali. Jika ada negara dan komunitas agama yang ingin melembagakan agama atau mempertautkannya ke dalam negara, dianggap buruk bagi bangunan peradaban modern. Tidak mengikuti standar kebudayaan Barat yang maju, modern, dan berperadaban tinggi, sebagai kiblat kejayaan. Tapi ironisnya, ketika negara dalam beberapa hal menguntungkan, kaum sekularis netral agama dan penganut pemisahan agama dan negara itu, tidak malu-malu juga meminta campur tangan negara untuk kepentingan menyalurkan aspirasinya. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ditolak karena tidak jelas batasannya. Setelah dibikin jelas, ditolak pula dengan alasan negara tidak boleh campur tangan mengurus atau mengatur moral masyarakat. Ditolak pula karena seni memiliki nalar dan kebebasan sendiri, yang tidak bisa dijerat oleh hukum negara.
Kita jadi ingat kaum Bani Israil, umat Nabi Musa yang suka membangkang. Ketika kaum Musa itu ditinggal pergi ke Gunung Tursina, mereka kembali murtad dan menyembah sapi. Lalu terjadilah sebuah peristiwa pembunuhan. Si pembunuh malah melaporkan pembunuhan itu ke publik, bahwa ada pembunuhan entah siapa yang melakukannya. Keadaan jadi anarkis, tak ditemukan siapa pembunuhnya. Dengan wahyu Tuhan, Musa menyuruh penyembilihan sapi sebagai kata putus untuk menemukan pembunuhnya. Langkah itu selain sebagai ikhtiar mengakhiri perselisihan akibat pembunuhan, sekaligus sebagai simbol mendelegitimasi kemusyrikan kaum Bani Israil yang menyembah sapi.
Tapi apa lacur? Kaum Bani Israil memang dikenal suka membangkang. Mereka bertanya kepada Musa alaihissalam. Mula-mula menolak untuk menyembelih sapi, karena takut jadi ejekan. Setelah diyakinkan Musa, akhirnya mau tapi masih bertanya pula. Tanyakan kepada Tuhan, sapi betina atau jantan? Sapi betina. Tua apa masih muda? Tidak tua juga tidak muda. Apa warnanya? Sapi kuning tua, yang menyenangkan setiap orang yang memandangnya. Kaum Musa itu masih juga bertanya, sapi seperti apa lagi? Sapi betina yang dikehendaki itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, yang belum pernah dipakai membajak tanah atau mengairi tanaman, tidak cacat, juga tidak ada belangnya. Nyaris saja mereka mengingkarinya, jika tidak karena kehabisan logika dan kesabaran Nabi Musa. Selalu bertanya dan mengaburkan logika agama demi menisbikan dan bahkan menolaknya.
Kita berharap mazhab Bani Israil tidak semakin meluas di negeri ini. Lebih-lebih yang berkaitan dengan membangun moral masyarakat dan tegaknya nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan publik. Jika ditarik ke sana ke mari, apa pun bisa direlatifkan, bahkan agama dan Tuhan sekalipun. Sudah terlalu jauh moralitas di negeri ini kehilangan daya rekatnya dalam kehidupan individu maupun kolektif. Sudah terlalu meluas dan menyolok mata pula berbagai bentuk keseronokan dan demoralisasi hadir di ruang publik kita tanpa rasa sungkan. Kasihan sekali masa depan generasi anak-anak bangsa di negeri ini. Mereka jadi sasaran empuk dan konsumen murahan dari berbagai produk keseronokan yang merusak moral dan potensi diri anak negeri. Di tengah bahana demoralisasi dan keseronokan yang liar seperti itu, ternyata para seniman dan penganut paham sekuler agama, tidak banyak berbuat selain asyik-maksyuk dengan dunianya sendiri secara ananiyah.
Biarlah setiap pilar bergerak untuk memulai membangun karakter bangsa, juga melalui penegakan moral agama maupun konstitusi negara dan hukum. Memang hukum saja tidak cukup. Politik saja tidak cukup. Pendidikan formal saja tidak memadai. Negara pun tidak cukup. Bahkan, jika dinisbikan, upaya setiap agama dan kelompok-kelompok agama pun tidak cukup untuk membangun moral dan mencegah kerusakan. Tapi jika tidak dimulai, mau dari mana dan kapan lagi?
Jika semua hal dinisbikan, jangankan sebuah Undang-Undang, bahkan agama dan Tuhan pun bisa dianggap nihil. Lalu yang muncul ke permukaan ialah imperium baru yang bernama kebebasan, seni, dan demokrasi yang mendewakan dirinya sendiri dan tak boleh tersentuh apapun. Mazhab Bani Israil dengan logika relativisme, anarkisme, dan nihilisme lantas hadir kembali di alam modern laksana sebuah kekaisaran baru yang penuh gemerlap, sekaligus berwajah cantik.
Beberapa waktu yang lalu saya dan beserta istri dan anak-anak bermaksud mengunjungi saudara di Depok. Berhubung tidak ada kereta api yang langsung dari Bandung ke Depok, kami akhirnya memilih naik bus dari terminal Leuwipanjang. Sebenarnya sudah lama saya tidak naik bus kalau menuju ke Jakarta dan sekitarnya, sebab biasanya saya menggunakan kereta api. Tapi, pengalaman naik bus kali ini banyak yang menarik untuk saya ceritakan.
Tidak seperti kereta api yang selalu berangkat sesuai jadwal, meskipun penumpang hanya sedikit, maka bus tidak demikian. Supir hanya mau memberangkatkan bus jika bus sudah penuh dengan penumpang. Maka, sembari menunggu bus penuh, saya dan keluarga terpaksa menunggu dulu di atas bus.
Nah, seperti lazimnya di terminal bus, banyak pedagang yang keluar masuk bus menjajakan dagangannya. Mula-mula naik pedagang roti. Ia menawarkan aneka roti yang harganya cuma Rp 1000. Pedagang ini gigih juga menawarkan dagangannya, tetapi berhubung kami sudah makan, saya tidak membelinya. Selanjutnya naik pedagang majalah dan koran. Pedagang ini satu per satu mengeluarkan beberapa koran, tabloid, dan majalah. Tapi kami tidak berminat. Tahu saya membawa anak kecil, dia menyodorkan buku mewarnai. Lha, buat apa mewarnai di atas bus, kata saya dalam hati, pensil warnanya juga tidak ada. Dia tidak putus asa, majalah "kuning" pun dia keluarkan untuk menarik hati saya. Tetapi lagi-lagi saya tidak berminat. Memang gigih pedagang ini.
Sejurus kemudian naiklah pedagang salak. Dilihat dari bentuknya, itu salak Manonjaya dari Tasik. Mula-mula dia menawarkan 15 biji salak seharga Rp10.000. Saya tidak berminat. Tetapi dia tidak menyerah. Nah, bagaimana kalau 20 buah sepuluh ribu, kata pedagang itu. Lagi-lagi saya diam. Pedagang ini tetap tidak menyerah. Sekarang dia menyodorkan 25 salak, sepuluh ribu, katanya. Aha... saya tersenyum di dalam hati, dari 10 buah sekarang menjadi 25 buah per sepuluh ribunya. Tapi saya tetap tidak berminat. Akhirnya pedagang itu menyerah, lalu dia pergi menghampiri penumpang lain. Tidak lama kemudian dia kembali lagi, sekarang menyodorkan 30 biji salak seharga sepuluh ribu. Wah... benar-benar gigih ini orang. Pikir saya, kalau saya mau, bisa saja saya menawar sampai 40 biji salak seharga sepuluh ribu. Tetapi saya tidak mau, kasihan pedagang kecil ini, berapalah untungnya ya...?
Entah tidak terhitung pedagang makanan, souvenir, koran, majalah, sampai peniti yang naik turun bus menawarkan dagangannya. Tidak lupa pengemis dan pengamen pun meramaikan suasana siang yang terik saat itu. Semuanya hanya satu tujuan: mengais uang sereceh dua receh demi mencari sesuap nasi.
Bus mulai penuh dengan penumpang. Sudah jam 14.30, supirpun mulai menjalankan busnya. Di dekat gerbang tol naiklah seorang lelaki. Saya kira dia pengamen, eh ternyata bukan. Dia berdiri di bagian tengah bus, lalu mulai bersuara. Mula-mula dia meminta maaf karena mengganggu ketenangan penumpang. Selanjutnya dia mulai "berceramah". Banyak hal yang dia singgung, mulai dari pejabat yang korupsi, masalah-masalah sosial, sampai masalah pendidikan pun dia kupas. Tahu banyak juga dia, meskipun apa yang dia katakan banyak yang nggak nyambung dan asal sekenanya saja. Penumpang bus terkantuk-kantuk, entah mendengar ceramahnya atau tidak. Kira-kira lima belas menit lelaki itu berceramah sebelum dia menyelesaikan khutbahnya. Nah, selanjutnya, dia mengedarkan kantong kertas pertanda meminta sereceh dua receh uang kepada penumpang. Aha... gaya baru mencari uang nih, kata saya dalam hati. Akhirnya, saya keluarkan secarik uang seribu lalu saya serahkan kepada lelaki gondrong tersebut.
Di dalam perjalanan saya merenung, begitu keras hidup ini sehingga banyak orang yang melakukan cara apa saja yang halal untuk mencari sesuap nasi. Mereka adalah masyarakat kecil, kelas pinggiran, yang mengais rezeki dari kita-kita yang punya (sedikit) kelebihan uang.
Sebentar lagi energi bangsa ini akan terkuras untuk masalah yang kontroversial, yaitu rencana penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia pada bulan Maret y.a.d. Majalah tersebut memang belum terbit tetapi gaungnya sudah memasuki ranah persoalan bangsa. Unjukrasa menentang kehadiran majalah ini sudah mulai sejak Desember 2005 yang lalu dan sampai saat ini masih dan akan terus berlangsung.
Siapapun tahu seperti apa majalah Playboy yang beredar di Amerika sana. Kalau menyebut majalah ini, maka asosiasi orang akan langsung terbentuk ke arah pornografi, karena majalah tersebut memuat gambar-gambar model (maaf) tanpa busana. Oleh karena itu, wajarlah kalau masyarakat langsung bereaksi menentang kehadiran majalah ini. Sebenarnya kalau mau jujur, di Indonesia sudah banyak beredar majalah dan tabloid yang serupa - bahkan lebih berani - dengan Playboy. Tetapi apa mau dikata, meski sudah banyak kaum agamawan dan elemen masyarakat yang resah dengan tabloid tersebut, toh peredarannya lancar-lancar saja. Tetapi isu Playboy menjadi semacam gunung es dari persoalan pornografi dan pornoakasi dan saat ini momen yang tepat bagi masyarakat untuk mengenyahkan pornografi dari Indonesia. Selain media cetak, pornografi juga sudah merambah pada acara-acara televisi dan VCD bajakan yang beredar luas. Boleh dikata kalau Indonesia ini adalah tempat pembuangan sampah dari industri media dan hiburan yang mengumbar syahwat.
Isu majalah Playboy ini semakin hangat karena bersamaan dengan pembahasan RUU Pornografi dan Pornoaksi di DPR. Banyak kalangan yang berharap dan mendukung secepatnya RUU ini menjadi UU. Namun, ada juga beberapa kelompok yang menentang RUU ini dengan alasan yang klise: RUU tersebut akan mengekang kebebasan berkekspresi dan demokrasi. Kelompok yang menentang ini adalah dari (sebagian) kalangan artis/seniman seperti yang disampaikan oleh Rendra dan kalanggan aktivis perempuan/gender. Kalangan seniman berpendapat bahwa RUU tersebut ancaman bagi kebebasan berekspresi, sedangkan kalangan perempuan mengatakan bahwa negara tidak perlu ikut campur mengurusi urusan aurat perempuan dan urusan ranjang. Bagi mereka, biarkan perempuan yang menentukan auratnya sendiri, apakah mau diperlihatkan atau tidak. RUU ini semakin ramai diperdebatkan karena belum adanya kesepakatan mengenai definisi pornografi. Kalangan yang menolak RUU selalu mengambil contoh terancamnya eksistensi adat orang Irian yang mengenakan koteka atau wanita Bali, wanita Dayak, dan sebagainya, bila RUU ini menjadi UU karena budaya mereka yang tidak berpakaian itu dianggap porno. Sebenarnya ini adalah akal-akalan dan cara mengulur waktu agar RUU itu gagal menjadi UU.
Tentu saja kita miris mendengar argumen tersebut. Kebebasan dan demokrasi seolah-olah menjadi agama baru bagi kelompok liberal (termasuk penentang Playboy maupun RUU Pornografi). Mereka lebih mengagung-agungkan kebebasan berekspresi ketimbang penghayatan pada ajaran agama yang mengajak pada kesucian dan jalan ketaqwaan kepada Tuhan. Kelompok liberal selalu mengatakan serahkan kepada setiap individu untuk memilih mana yang mereka sukai. Kalau tidak suka ya jangan ikuti, beres kan?. Negara tidak perlu ikut campur urusan privat seseorang. Pernyataan kelompok liberal ini sepintas kedengarannya indah dan masuk akal, tetapi sesungguhnya bisa menjerumuskan. Jika negara tidak ikut campur pada masalah-masalah kemasyarakatan, lalu buat apa kita punya pemerintahan? Buat apa ada negara kalau negara tidak melindungi warga negaranya dari pengaruh yang merusak? Seorang tokoh pers senior berkata hal yang serupa di televisi bahwa RUU Pornografi itu terlalu konservatif. Katanya lagi, biarkan masyarakat sendiri yang memilih. Kalau anda tidak setuju dengan majalah porno, ya jangan beli. Kalau anda tidak setuju dengan acara TV yang porno, ya jangan tonton, matikan saja TV. Beres. Tidak perlu masalah pornografi diatur oleh undang-undang. Kalau memang begitu yang dinginkan oleh tokoh pers itu, ya sudah bubarkan saja negara ini, karena negara tidak berkehendak melindungi rakyatnya.
Apa yang anda rasakan ketika membaca berita mengenaskan yang dimuat di sebuah koran online seperti yang saya kutip di bawah ini? Saya sendiri merinding membaca berita tersebut. Tiga pemuda yang belum tentu bersalah dihakimi massa, lalu dibakar. Entah bagaimana hancur perasaan ayah dan ibu kandung ketiga pemuda itu, yang mengandung dari bayi hingga membesarkan anak hingga remaja, lalu tiba-tiba masyarakat pemarah menghabisi anak-anak mereka dengan sangat keji. Bagaimana kalau 3 pemuda itu adalah anak-anak kita atau kerabat kita yang kebetulan lewat di kampung orang lalu tiba-tiba disoraki sebagai pencuri?
Inilah wajah masyarakat kita saat ini: masyarakat pemarah, yaitu masyarakat yang mudah marah, mudah tersulut emosi karena hasutan dan fitnah yang tidak jelas kebenarannya. Mereka melakukan "cara" mereka sendiri untuk menyelesaikan masalah. Masyarakat kita sudah tidak percaya lagi dengan hukum, sehingga mereka sendirilah yang memberi hukuman pada seseorang tanpa perlu melalui peradilan.
~~~~~~~~Tiga pemuda yang tengah bertamu ke rumah temannya dikeroyok massa hingga pingsan, kemudian dibakar sampai hangus. Para pemuda itu dituduh telah mencuri sepeda motor, namun mereka membantahnya.Wajah ketiga pemuda yang gosong sulit dikenali lagi. Polisi mengetahui jati diri mereka dari tanda pengenal yang hanya terbakar sebagian. Ketiga korban aksi main hakim sendiri tersebut adalah Dedi alias Kopral (31) serta kakak beradik Udin bin Jamali (28) dan Rakit bin Jamali (12).
Mereka dibakar Rabu (11/1) sekitar pukul 20.00, di sebuah lahan kosong di tengah hutan yang masuk wilayah Kampung Cibereum, Desa Cikandondong, Cikeusik, Pandeglang, Banten. Ketiganya dibakar bersama sebuah sepeda motor yang mereka kendarai. Pelaku pembakaran adalah puluhan warga Kampung Murui, Desa Cikadondong, Cikeusik, Pendeglang.
Dalam peristiwa ini, Polres Pandeglang menangkap 34 orang. Kemarin, 11 orang resmi dinyatakan sebagai tersangka, termasuk Cecep yang kehilangan sepeda motor. Sisanya masih diperiksa sebagai saksi. Polisi juga masih mengejar 15 orang lainnya yang ikut menyiksa dan memukuli tiga pemuda asal Desa Malimping dan Muncang, Lebak, tersebut.
Aksi main hakim sendiri itu berawal ketika Yani, salah seorang teman Cecep, melihat sepeda motor Honda Legenda yang mirip dengan milik Cecep yang hilang sepekan silam. Motor itu berada di halaman rumah Marda di Kampung Panyeredan, Desa Kertahardja, Banjarsari, Lebak.
Sebenarnya Yani hanya melihat motor itu sekilas saja saat ia dalam perjalanan melalui wilayah pesisir selatan Malimping. Namun ia mengaku cukup yakin bahwa yang dilihatnya saat itu adalah sepeda motor milik Cecep. Ketika itu, Dedi, Udin, Rakit, dan dua teman lainnya, sedang berkunjung ke rumah Marda. Mereka datang menggunakan sepeda motor Honda Legenda dan Yamaha RX King.
Petang itu juga, Yani menemui Cecep. Ia menyatakan melihat sepeda motor milik temannya tersebut berada di halaman rumah Marda. Awalnya, Cecep tidak terlalu yakin, tetapi Yani terus berusaha meyakinkan.
Rupanya, Yani dibakar rasa marah. Sebab, sebelumnya sudah dua kali terjadi pencurian sepeda motor di kampungnya. Atas pengaruh Yani, Cecep yang semula ragu berubah menjadi percaya. Lalu, keduanya bersama beberapa teman lainnya sepakat mendatangi rumah Marda malam itu juga.
Rencana para pemuda itu diketahui warga kampung lain. Ternyata warga kampung itu memendam rasa marah pula karena ada warga kampung tersebut yang juga kehilangan sepeda motor beberapa waktu lalu. Maka, selepas magrib itu, puluhan orang berbondong-bondong menggunakan mobil bak terbuka mendatangi tempat tinggal Marda.
Bawa senjataBak pasukan yang hendak menyerbu benteng pertahanan lawan, massa juga mempersiapkan diri. Mereka menggenggam berbagai senjata, sabit, batu, hingga kayu. Rupanya, mereka khawatir dan bersiap-siap jika warga kampung tempat tinggal Marda memberikan perlawanan.
Kurang dari satu jam, rombongan itu tiba di depan rumah Marda yang letaknya tidak jauh dari Jalan Raya Malimping. Setibanya di sana, tidak semua orang masuk ke rumah. Hanya sebagian yang masuk, termasuk Yani dan Cecep.
Dengan memasang tampang seram, mereka segera menuding lima tamu Marda sebagai pencuri sepeda motor milik Cecep. Apalagi, mereka tidak dapat menunjukkan surat-surat kendaraan. Namun, Cecep saat itu justru bingung karena Honda Legenda yang diparkir di halaman rumah Marda tidak terlalu mirip dengan miliknya yang hilang.
Hanya saja, massa keburu marah dan mengepung rumah Marda. Sempat terjadi perang urat syaraf sebelum massa menjadi beringas. Karena merasa tidak puas, mereka kemudian menyeret lima tamu Marda keluar rumah, sedangkan Marda menyingkir ke belakang rumah untuk meminta bantuan warga kampungnya.
Sayang, upaya Marda terlambat. Lima pemuda yang bertandang ke rumahnya itu sudah keburu dihakimi di halaman. Hanya saja, dua pemuda dapat meloloskan diri dan kabur menggunakan sepeda motor Honda Legenda yang diparkir tidak jauh dari pagar.
Dua pemuda yang belum diketahui namanya itu lolos karena saat hendak dikeroyok, mereka mengelak. Mereka memanfaatkan situasi saat warga yang lain sibuk menginterogasi sambil memukuli Dedi, Udin, dan Rakit. Tidak lama kemudian, tiga orang ini digelandang masuk ke dalam mobil bak terbuka, lalu dibawa pergi. Sedangkan sepeda motor Yamaha RX King milik mereka dikendarai oleh salah seorang warga.
Beberapa belas kilometer kemudian, sebelum sampai Kampung Murui, mobil itu masuk ke areal hutan di Kampung Cibereum. Mobil berhenti lalu tiga pemuda yang dituduh mencuri itu kembali menjadi bulan-bulanan warga yang marah.
Jerit kesakitan yang diringi permintaan minta ampun ketiga pemuda tak digubris oleh massa yang membabi-buta melayangkan pukulan. Akhirnya, tiga orang itu tidak sadarkan diri. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan amarah massa. Belum jelas atas ide siapa, tiba-tiba saja tubuh Dedi, Udin dan Rakit mereka tumpuk bersama sepeda motor Yamaha RX King. Sejenak kemudian ada yang menyiramkan bensin. Setelah disulut api, tubuh Dedi, Udin, dan Rakit, hangus jadi arang.
Anggota Polsek Cikeusik dan Polres Pandeglang yang datang ke lokasi atas laporan warga kampung, sempat kebingungan saat melakukan identifikasi. Akhirnya mereka bisa memperoleh nama korban dari tanda pengenal yang hanya terbakar sebagian.
Sampai kemarin petang, jasad Dedi, Udin, dan Rakit, masih disimpan di Polsek Cikeusik. Polisi masih menyelidiki kasus ini sekaligus mencari keluarga ketiganya.
Ihh...jijik dan mau muntah. Begitulah pertamakali mendengar berita dari TV bahwa ada seorang penjual baso yang mencampurkan daging sapi dengan daging tikus untuk membuat adonan baso. Entah darimana kru TV itu melakukan investigasi sehingga berhasil meliput pembuatan baso cap tikus. Tapi itu tidak penting, yang lebih penting lagi adalah dampaknya bagi pedagang mie baso kaki lima atau yang suka berkeliling menjajakan basonya. Dagangan mereka jadi tidak laku karena orang takut baso yang dijual adalah baso cap tikus. Bahkan, seorang pedagang mie baso dekat kompleks rumah saya langsung tutup karena tidak ada yang mau membeli.
Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Peribahasa lama itu memang cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat kecil di akhir tahun 2005. Isu formalin dan pengawet pada bahan makanan seperti tahu, ikan asin, mie basah, dan baso membuat bangkrut pengusaha dan pedagang makanan tersebut. Pembeli lari karena takut setelah mengetahui dampak formalin jika dimakan dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan kanker. Masalah ini ditambah lagi dengan isu baso dari daging tikus yang ditayangkan sebuah saluran TV. Lengkap sudah kerusakan susu di dalam belanga. Padahal, tidak semua pembuat tahu dan mie basah serta jajanan lain (seperti pisang sale, kerupuk, dsb) yang mencampurkan formalin ke dalam bahan makanan, dan tidak semua pembuat baso yang mencampurkan daging tikus ke dalam adonan baso. Ini adalah ulah segelintir pedagang dan pengusaha (baik pengusaha kecil maupun pengusaha besar) yang ingin mengambil untung besar dengan ongkos yang murah. Bahan makanan yang dicampur formalin memang bisa tahan lama, tidak cepat jamuran atau bulukan, dan dapat dijual lagi meski tidak laku barang satu atau dua minggu. Pedagang nakal ini (lebih tepat disebut bajingan kali ya) tidak ambil pusing dengan dampaknya bagi konsumen, toh yang mengkonsumsi orang lain, bukan mereka, begitu kira-kira jalan pikiran pedagang nakal ini. Begitu juga pembuat baso cap tikus berharap dapat untung besar dengan biaya murah (harga formalin sangat murah, daging tikus pun gratis karena cukup dicari di sawah, di dalam got, di selokan, atau di loteng rumah).
Ulah segelintir pedagang dan pengusaha nakal tersebut telah merugikan sektor informal yang menghidupi jutaan orang. Kepercayaan masyarakat jadi rusak kepada pedagang makanan yang tidak tahu menahu soal isu formalin dan daging tikus. Pedagang dan pengusaha semecam itu memang perlu ditindak secara hukum karena mereka telah merugikan banyak orang. Namun Pemerintah juga perlu disalahkan karena membiarkan bahan pengawet seperti formalin dijual secara bebas.
Yang menarik adalah bahwa isu formalin dan baso cap tikus ini tidak akan lama umurnya. Orang Indonesia sudah biasa dengan mudah melupakan suatu peristiwa. Kelak mereka sudah tidak ingat lagi dengan isu formalin dan baso tikus. Mereka akan kembali mengkonsumsi makanan tersebut karena memang masyarakat tidak bisa kompromi dengan urusan perut. Syukur-sukur kalau formalin sudah dilarang dan tidak dipakai lagi untuk pengawet. Namun siapa yang menjamin masih ada segelintir orang yang sembunyi-sembunyi untuk menggunakannya pada bahan makanan?
Moral dari cerita ini adalah kalau ingin memperoleh berkah dari rizki yang diperoleh, maka carilah rizki dengan jalan yang halal. Rizki yang diperoleh dengan cara-cara ilegal tidak akan mendatangkan berkah, bahkan suatu saat rizki tersebut menjadi mudarat pada kehidupan seseorang.
Di depan rumah saya di kompleks Antapani Bandung ada sebidang tanah kosong. Tanah itu adalah milik Perumnas. Karena tidak dimanfaatkan, maka warga di dekat rumah memanfaatkan tanah kosong tersebut. Ketua RT di sana juga tidak melarang, toh daripada menjadi sarang nyamuk dan daripada tanah menganggur, lebih baik dimanfaatkan. Kalau Perumnas nanti memanfaatkan tanah itu untuk kepentingannya, ya nggak apa-apa, wong bukan tanah milik warga, tetapi milik negara. Nah, ada warga yang membuat tempat parkir mobil di atas tanah kosong tersebut, ada yang membuat garasi mobil semi permanen, dan ada juga yang memanfaatkannya untuk berkebun. Saya termasuk jenis yang terakhir ini. Saya mengolah tanah di depan rumah menjadi kebun kecil. Beberapa jenis tanaman saya tanam di sana, antara lain singkong, cabe, pisang, pepaya, tomat, dan lain-lain. Semua tanaman yang saya tanam tumbuh subur. Beberapa bulan lagi singkong bisa dipanen, bahkan cabe rawit sudah banyak berbuah, lalu saya bagikan ke tetangga. Ada rencana saya mau menanam semangka dan melon. Tanah di sana memang subur dan gembur.
Sebenarnya yang mulai mengolah tanah kosong tersebut adalah Bapak mertua ketika ia berkunjung ke Bandung menengok cucu. Lalu, ketika Bapak pulang kembali ke Bukittinggi, saya lanjutkan mengolah kebun tadi. Disamping tanah kosong di depan rumah, rumah saya juga mempunyai halaman depan dan halaman belakang yang ditanami berbagai tanaman seperi bunga dan buah. Saya memang senang menaman kembang dan tanaman buah, mungkin karena sejak kecil saya memang senang dengan tanaman. Entah sudah berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli bibit tanaman tersebut. Sekarang, ketika semua tanaman tumbuh, begitu sedap memandang semuanya. Semuanya tumbuh subur, mungkin pertanda Allah menurunkan rizki-Nya kepada kami.
Saya pernah membaca bahwa bercocok tanam - entah itu bertani, berkebun, atau sekadar menanam bunga - dapat menimbulkan ketenteraman hidup dan kedamaian jiwa. Ternyata memang betul setelah saya praktekkan sendiri. Keringat bercucuran ketika menanam tumbuhan, membersihkan tanah dari rumput, lalu menyiramnya setiap hari. Semua tanaman tersebut ternyata tahu berterima kasih. Mereka menunjukkan rasa terima kasihnya dengan tumbuh subur, hijau dan berwarna-warni. Jika sudah demikian halnya, maka muncullah rasa damai di jiwa ini tatkala memandang semua tanaman tersebut. Setelah seharian berkutat di kampus menyelesaikan tugas-tugas, maka tanaman-tanaman itulah obat pelepas lelah dan pelipur lara. Mungkin begitu pula perasaan Pak tani kita ketika mereka memandang tanaman padi menghampar subur di sawah. Damai dan tentram jiwa raganya, terobat jerih payahnya memandang tanaman padi yang menghijau bak permadani.
Tak heran jika bercocok tanaman sering dijadikan terapi yang ampuh bagi orang-orang penderita stroke, sakit jantung, dan penyakit modern lainnya. Tekanan hidup di kota-kota besar menimbulkan stres, lalu datanglah penyakit stroke, jantung, dan sebagainya. Kalau kamu ingin tahu obatnya apa, jawabnya adalah kembalilah dekatkan diri kita ke alam, misalnya dengan berkebun tadi. Daun-daun yang hijau, bunga-bunga yang berwarni warni, dan tanaman yang tumbuh subur akan menimbulkan ketenteraman hati.
Jika kelak kamu membeli rumah dan punya uang yang lebih dari cukup, belilah rumah yang punya halaman cukup luas. Jangan biarkan halaman rumahmu kosong. Sisihkan waktumu setiap hari dengan berkebun. Niscaya, kamu akan merasakan ketenteraman yang telah dirasakan oleh Pak Tani dan saya sendiri.
Tadi pagi, ketika sedang menunggu angkutan kota di dekat Gedung Sate, saya melihat seorang anak laki-laki kecil yang duduk di pinggir trotoar. Bocah itu, sebut saja namanya Asep, menjual dagangan berupa batu untuk ulekan sambel (Bhs Sunda: cobekan). Dagangan itu dibawa dengan pikulan yang disandang di bahu kanannya. Sejenak saya memperhatikan ada lima sampai enam buah batu ulekan lengkap dengan anak ulekannya,mulai dari yang kecil sampai yang agak besar. Saya membayangkan betapa beratnya semua dagangannya itu dipikul kemana-mana. Jika rata-rata sebuah batu ulekan beratnya 2 kg, maka berarti dia memikul dagangan seberat 10 sampai 12 kg. Alangkah beratnya untuk ukuran seorang bocah kecil seperti Asep ini.
Saya dekati Asep, lalu saya tanya darimana dia membawa dagangan batu elekan ini. Dia menjawab dari Padalarang. Katanya, ayahnya yang membuat batu ulekan ini, lalu dia bersama teman-temannya atau saudaranya yang menjajakan secara berkeliling di kota Bandung. Sehari paling laku sampai 2 buah batu ulekan. Keuntungannya tidak seberapa dibanding dengan jerih payahnya berkeliling kota menjajakan batu uleken yang berat itu. Saya tanya, kenapa tidak dijual di pasar saja? Dia menjawab, kalau di pasar sudah banyak kios yang menjual dagangan serupa.
Asep ternyata tidak sekolah lagi. Dia keluar dari sekolah dan membantu keluarganya mencari nafkah. Karena kasihan, saya beli satu buah ulekan yang harganya Rp20.000 (padahal di rumah saya sudah punya alat dapur semacam ini), lalu dibungkus oleh Asep dengan kantong keresek hitam. Dia terlihat gembira karena dagangannya sudah laku di pagi hari itu, lalu uang Rp20.000 itu diusap-usapkannya ke dagangannya. Sebagai penglaris, katanya (sebuah tahayul yang banyak diyakini para pedagang di tatar Parahyangan).
Saya tinggalkan Asep sambil meernung di atas angkutan kota Cicaheum - Ledeng. M asih banyak Asep-Asep semacam dia yang berhenti sekolah karena tidak punya biaya disebabkan miskin, lalu membantu orangtua mencari nafkah. Masa kecil yang seharusnya diisi dengan sekolah dan bermain ternyata tidak dapat dinikmati oleh mereka, berhubung urusan perut lebih penting dari lainnya. Masa depan Asep dan kawan-kawannya tidak ada yang bisa menjamin, karena pendidikannya terhenti di tengah jalan. Kita yang membaca dan menyaksikan kisah-kisah hidup semacam ini mungkin hanya bisa berucap "kasihan", karena kita juga tidak punya tahu bagaimana memecahkan persoalan kemiskinan yang sangat kompleks di negeri ini. Semoga Allah SWT selalu melindungi anak-anak kecil semacam Asep ini.Kemaren saya merasa terenyuh mendengarkan kisah seorang mahasiswa IF yang berusaha sekuat tenaga mencari nafkah untuk menghidupi dirinya sendiri di Bandung. Kadang-kadang setiap bulan dapat uang lumayan banyak, kadang-kadang tidak. Sebagai konsekuensi dari bekerja, nilai-nilai kuliahnya di IF tidak terlalu menggembirakan.
Ini hanya satu contoh kasus bahwa tidak semua mahasiswa IF adalah kalangan menengah keatas. Banyak juga yang memang datang dari ekluarga apa adanya. Setiap awal semester mahasiswa seperti ini dipusingkan dengan biaya untuk SPP yang semakin mahal, belum lagi biaya untuk kost dan kebutuhan sehari-hari. Karena itu, berbagai cara ditempuh oleh "pejuang-pejuang" muda ini untuk mencukupi kebutuhan finansial ini. Jadi, wajar saja kalau sebagian besar dari mereka prestasi akademiknya biasa-biasa saja (tapi ada juga satu dua orang yang tetap berhasil), lha wong konsentrasinya terpecah antara kuliah dan mencari biaya hidup. Beda dengan sebagian teman-temannya yang hanya tinggal belajar saja, kebutuhan finansial tidak menjadi masalah berarti karena keluarganya mampu membiayai.
Yang menyenangkan bagi saya adalah jika setelah beberapa tahun kemudian saya mendengar kisah sukses dari pejuang-pejuang muda tadi. Mereka yang semasa di kampus susah payah untuk tetap bertahan, setelah lulus ternyata mempunyai karir yang bagus, penghasilan yang besar, dan ukuran-ukuran material lainnya. Bagi saya, mereka sudah berhasil melalui masa-masa kritis, dan sekarang mereka menikmati kata pepatah "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian".
Hari ini Sabtu 19 November 2005, saya masih berada di lab IRK, menunggu acara pembukaan PPAB HMIF untuk Angkatan 2005. Kata Budiono, Ketua Panitia, pembukaan dilakukan pukul 19.00 malam. Waduh, berarti saya harus menunggu sampai malam nih di sini. Kalau pulang dulu ke rumah, jauh. Jadi, ya..... udah saya tunggu saja di kantor sembari ditemani radio mini, internet, dan camilan.
Hari ini saya mulai lagi membenahi tampilan web pribadi ini. Web diripta
untuk menyediakan informasi kepada mahasiswa (maupun pengunjung lain yang
mungkin saja “tersesat” mampir ke sini).
Di dalam web anda akan menemukan berbagai informasi, baik tentang
perkuliahan, maupun informasi lain yang berkaitan dengan saya.
Terdapat juga koleksi berupa citra uji (test images), foto, musik MP3,
artikel yang menarik, dan resonansi (metafora yang mengandung hikmah
kehidupan).
Hari ini awal semester I Tahun 2005/2006. Permulaan kuliah di ITB, kembali dengan tugas-tugas rutin: mengajar dan membimbing Tugas Akhir. Yang beda, hari ini juga adalah awal saya menempuh pendidikan S3 di Teknik Elektro ITB. Mohon doa restunya agar saya bisa menyelesaikan pendidika doktoral ini dengan baik